Modal Ranting Kayu, Alumnus ISI Yogyakarta Ini Sabet Juara Seni Asia Tenggara
Yoseph Hary W May 19, 2026 12:03 AM

TRIBUNJOGJA.COM - Keberagaman acap kali dipandang sebagai entitas yang rentan memicu friksi di tengah lanskap sosial. Namun, di tangan M. Aidi Yupri, serpihan perbedaan itu justru dirakit menjadi sebuah monumen yang kukuh. Melalui karya bertajuk "Rakit Rekat Nusantara", seniman asal Magelang ini tidak hanya merajut identitas kebangsaan yang berserak, tetapi juga sukses melayarkan diskursus seni rupa Indonesia hingga menembus panggung regional Asia Tenggara.

Perjalanan Aidi menapaki dunia seni rupa bukanlah sebuah lintasan yang instan, melainkan hasil dari dialektika panjang antara ketekunan dan pencarian jati diri. Benih ketertarikannya telah tersemai sejak belia, dipantik oleh kekaguman mendalam saat melihat maestro lukis Affandi beraksi di layar kaca.

Langkahnya untuk menembus pendidikan formal di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pun tidak serta-merta mulus. Ia sempat terganjal kegagalan pada percobaan pertama karena menyadari kapasitas teknis kompetitor yang lebih mumpuni. 

Alih-alih surut, penolakan itu menjadi titik balik. Ia menghabiskan waktu satu tahun untuk mengambil pendidikan diploma satu (D1) seni lukis di Yogyakarta, mendedikasikan waktunya untuk memperdalam teknik menggambar, hingga akhirnya gerbang kampus ISI Yogyakarta terbuka untuknya.

Merekam keseharian

Dalam laku kekaryaannya, Aidi banyak merekam hal-hal personal yang dekat dengan keseharian, merespons bentuk-bentuk organik dan alam secara intuitif. Kejujuran pada proses kreatif inilah yang melahirkan "Rakit Rekat Nusantara", sebuah karya patung menyerupai bahtera yang sukses menyabet gelar Grand Prize Winner (Kategori Umum) MR. D.I.Y. Indonesia Art Competition 2025 di tingkat nasional, dan Judges Pick Award di tingkat regional di Malaysia.

Bagi Aidi, karya seni yang berkarakter tidak lahir dari upaya mengekor selera pasar, melainkan dari keberanian sang seniman untuk berdialog dengan intuisi dan materialnya. Ia menjabarkan secara rinci landasan filosofis di balik penciptaan karyanya yang memukau dewan juri tersebut.

"Mengenai karya saya yang kemarin berhasil memenangi kompetisi Mr. DIY Art Competition, konsep dasarnya berangkat dari pemikiran saya mengenai realitas keberagaman. Bagi saya pribadi, perbedaan dan keberagaman itu merupakan sebuah keniscayaan yang mutlak ada di dunia. Kita tidak akan pernah bisa menghindar dari realitas perbedaan tersebut," tutur Aidi ditemui di ISI Yogyakarta, Senin (18/5).

Gagasan abstrak tersebut kemudian diekstraksi ke dalam wujud fisik yang sarat akan perhitungan teknis dan estetika. Ia membiarkan proses kreatifnya mengalir, menikmati setiap kejutan ketika hasil akhir kadang tidak presisi dengan ekspektasi awal—sebab di situlah sebuah karya menemukan nyawanya.

"Berdasarkan landasan berpikir itulah, fokus saya adalah bagaimana mengelola serta menguatkan unsur-unsur keberagaman tersebut agar menjelma menjadi sebuah entitas yang saling memperkokoh satu sama lain. Secara visual, karya saya berwujud susunan yang dibangun dari potongan-potongan, komponen-komponen kayu, serta serpihan-serpihan dari bunga kayu. Bahan-bahan yang terpisah itu saya rakit, saya rekatkan, dan saya organisir sedemikian rupa dengan perhitungan teknis, sehingga menghasilkan sebuah konstruksi fisik yang solid, kokoh, saling mengunci, namun secara estetika tetap memperlihatkan keharmonisan yang indah. Konsep dan pesan sosial itulah yang ingin saya sampaikan dan refleksikan kepada publik melalui karya tersebut," paparnya.

Cermin reflektif kondisi bangsa 

Lebih jauh, Aidi memproyeksikan karyanya sebagai cermin reflektif bagi kondisi sosiologis bangsa Indonesia. Ia menawarkan sebuah antitesis bahwa perbedaan bukanlah jurang pemisah, melainkan modal sosial kultural.

"Ketika kita menarik proyeksi nilai tersebut ke dalam kehidupan bermasyarakat secara langsung, bangsa kita (Indonesia) memiliki modal sosial yang sangat kaya akan keberagaman—mulai dari aspek bahasa daerah, ekspresi budaya, hingga corak karya seni. Saya memandang seluruh perbedaan tersebut bukan sebagai pemicu perpecahan, melainkan sebagai potensi besar untuk melahirkan sebuah identitas baru yang unik, berkarakter kuat, dan menarik di mata dunia. Kuncinya ada pada bagaimana kita 'merakit' dan menyatukan perbedaan-perbedaan tersebut menjadi satu kesatuan yang harmonis."

Gagasan besar dan eksekusi teknis yang matang mutlak membutuhkan panggung inklusif agar ideologi kesenian tidak hanya berdebu di sudut studio. Bagi Aidi, kompetisi seni berskala besar menjadi katalisator krusial yang menjembatani dialog antara seniman dan khalayak luas. Informasi yang ia peroleh dari jejaring komunitas alumni ISI Yogyakarta membawanya pada panggung yang mengubah trajektori kariernya.

Ia menyoroti betapa pentingnya eksistensi ruang pamer yang menjamin sirkulasi gagasan seni rupa.

"Bagi seorang seniman, aktivitas berkarya esensinya adalah proses mengomunikasikan ide, konsep, dan pemikiran personal kepada khalayak. Namun, sehebat apa pun ide yang dimiliki, jika karya itu hanya tersimpan di dalam studio rumah dan tidak ada media, ajang, atau panggung yang memfasilitasinya, maka gagasan tersebut tidak akan pernah terekspos dan sampai ke masyarakat luas. Kompetisi Mr. DIY ini memberikan panggung strategis tersebut bagi kami untuk mengekspos estetika karya sekaligus mendiseminasi pemikiran kami," ungkapnya.

Dampak kemenangan tersebut nyatanya melampaui raihan trofi dan kapital. Aidi mengakui adanya eskalasi yang sangat signifikan terhadap perluasan jaringannya di pasar seni rupa global.

"Di samping aspek eksposur gagasan, keuntungan konkret kedua yang saya rasakan adalah perluasan jejaring kerja di ekosistem seni rupa secara signifikan. Melalui ajang ini, akses komunikasi saya dengan para kolektor seni, pemilik galeri, kurator, dan pemangku kepentingan seni lainnya menjadi semakin terbuka lebar. Peta jaringan profesional saya di dunia seni rupa berkembang jauh lebih luas dibandingkan sebelumnya," imbuhnya.

Go international

Kini, karya-karya Aidi telah mendapat tempat istimewa di mata para kolektor internasional, termasuk dari Inggris. Rekam jejak pamerannya pun merentang pesat; ia tercatat pernah memamerkan karyanya di ajang bergengsi Korea International Art Fair di Korea Selatan, dua kali berpameran di Malaysia, hingga berpartisipasi di Vietnam, Kamboja, hingga Belgia.

"Manfaat yang tidak kalah prestisius adalah adanya kesempatan emas untuk terlibat dalam pameran seni di tingkat internasional, seperti yang saya alami di Malaysia kemarin. Kesempatan tersebut secara otomatis menaikkan skala karier kami untuk memperkenalkan karakter karya pribadi, mempresentasikan ideologi kesenian kita, sekaligus merepresentasikan perkembangan mutakhir seni rupa Indonesia di mata publik internasional. Dampak positifnya sangat masif, baik bagi pertumbuhan karier profesional saya secara pribadi maupun bagi perkembangan diskursus seni rupa nasional secara umum," tegas Aidi.

Pencapaian Aidi Yupri kini menjadi cetak biru bagi regenerasi seniman di Tanah Air. Untuk meneruskan estafet ruang berekspresi tersebut, MR.D.I.Y. Art Competition resmi kembali digelar pada tahun 2026. Pendaftaran kompetisi yang mengangkat tema “Strength and Resilience” (Kekuatan dan Ketangguhan) ini dibuka mulai 1 April hingga 30 Juni 2026.

Ajang apresiasi seni dengan total hadiah Rp370.000.000 ini terbagi ke dalam tiga kategori: Pelajar dan Mahasiswa, Umum, serta Kategori Profesional yang melalui kurasi khusus dari platform IndoArtNow. Tahun ini, status prestisius melekat pada Indonesia yang dipercaya menjadi tuan rumah tingkat regional, mempertemukan karya-karya terbaik dari Malaysia dan Thailand di panggung Asia Tenggara.

Kiprah Aidi Yupri memberikan afirmasi yang teramat kuat, bahwa keberanian sang seniman untuk menyelami dan merakit realitas di sekitarnya—sekecil apa pun serpihan material tersebut—akan selalu bermuara pada nilai seni yang universal, mencerahkan, dan menembus batas-batas teritorial.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.