POSBELITUNG.CO, BELITUNG -- Bau khas kotoran sapi bercampur aroma rumput kering langsung terasa saat memasuki area Alfi Farm di Desa Lilangan, Kecamatan Gantung, Belitung Timur, Senin (18/5/2026).
Di salah satu sudut kandang, seekor sapi jantan berbulu cokelat keemasan tampak berdiri tenang sambil sesekali mengunyah rumput.Sapi itu bernama si Kombet. Sapi berusia lima tahun yang namanya sudah tidak asing lagi di kalangan pekerja sekitar kandang.
Kombet adalah satu-satunya sapi jenis Limusin murni berukuran premium yang tersisa di peternakan tersebut menjelang perayaan Iduladha 1447 Hijriah tahun ini.
Jika dilihat dari dekat, proporsi tubuh si Kombet memang terbilang luar biasa untuk ukuran hewan ternak di Pulau Belitung. Punuknya tebal menggunung, disertai jajaran otot paha belakang yang padat.
Berdasarkan taksiran timbangan terakhir, bobot Kombet kini telah menembus angka 600 kilogram kurang lebih. Angka yang tergolong masif untuk standar hewan kurban di wilayah Belitung Timur.
Di balik tubuh jumbo Kombet tentu ada ketelatenan luar biasa dari sang pemilik peternakan. Ia adalah Dalila (47).
"Kalo si Kombet ini sekarang 600 kilo lah, jadi kami jualnya itu Rp65 juta. Bisa nego sedikit lah," terang Dalila.
Sambil membawa setumpuk rumput, Dalila melangkah mendekati sekat kandang Kombet. Kombet pun langsung melenguh rendah dan menggeser posisi berdirinya seakan mengerti.
"Si Kombet ini perawatannya beda jauh dengan sapi Bali atau sapi lain. Dia ini jenis yang manja, tidak bisa kita lepas sembarangan untuk mencari makan sendiri di luar kandang," ujar Dalila.
Dalila menjelaskan bahwa seluruh hidup Kombet dihabiskan di dalam kandang yang terjaga kebersihannya. Ia lalu mengatakan faktor pertumbuhan Kombet terletak pada manajemen pakannya yang tidak boleh telat sedetik pun.
Setiap pagi, Kombet selalu disuguhi menu sarapan yang diracik secara manual oleh tangan. Menu itu disebut comboran.
Racikan comboran untuk Kombet terdiri dari ampas tahu, dedak, serta sedikit campuran Palm Kernel Expeller (PKE).
"Di comboran itu juga ditambah garam tapi sedikit, ga terlalu banyak," papar Dalila.
Adapun untuk waktu makan siang, sore, hingga larut malam, Kombet harus terus disuplai tumpukan rumput.
Merawat sapi premium seperti Kombet memang menuntut perhatian penuh sepanjang hari selama 24 jam. Oleh karena itu, Dalila secara rutin memberikan asupan vitamin cair serta obat-obatan tertentu demi menjaga imunitas tubuh Kombet.
Gangguan kesehatan seperti flu sapi atau infeksi kuku juga menjadi satu momok utama yang selalu diwaspadai Dalila setiap harinya.
Setelah itu, Dalila memberikan penjelasan terkait perbedaan kualitas dan kuantitas daging antara sapi Limusin dengan sapi yang ada di pasaran. Perbedaan ini akhirnya membuat harga sapi Limusin bisa lebih mahal.
"Kalau sapi biasa seperti sapi Bali yang banyak di Beltim, ukurannya standar dan daging bersihnya paling cuma sekitar 100 sampai 150 kilo saja. Berbeda dengan si Kombet, kalau dipotong nanti, daging murninya bisa tembus 400 sampai 500 kilo," jelasnya.
Meski hari raya Iduladha beberapa hari lagi, si Kombet masih belum secara resmi dipinang oleh pembeli.
Akan tetapi, Dalila sama sekali tidak merasa cemas. Apalagi pengalaman tahun-tahun sebelumnya dimana konsumen kelas atas seperti pejabat, pengusaha besar, atau tokoh masyarakat sering kali datang meminang sapi ternaknya secara mendadak.
"Alhamdulillah sih sejauh ini ada terus yang beli tiap tahunnya. H-1 iduladha juga kalo pengalaman tahun-tahun lalu masih ada yang beli juga," ungkapnya.
Dalila pun berharap semoga si Kombet bisa segera mendapatkan pembeli yang tepat. Bukan hanya untuk mendapatkan keuntungan material, tapi juga agar membawa keberkahan bagi Alfi Farm melalui kurban sapi ternaknya ini. (Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)