TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Guna memastikan terlihatnya Hilal sebagai penentu awal 1 Zulhijah 1447 H, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat melakukan pemantauan di lima titik berbeda di Jawa Barat. Hal ini dikemukakan Kepala Kanwil Kemenag Prov. Jawa Barat, H. Dudu Rohman, saat memantau langsung pelaksanaan kegiatan Rukyat Hilal Awal Zulhijah 1447 Hijriah pada Minggu (17/5/2026).
Pemantauan dilakukan di Observatorium Albiruni Fakultas Syariah Universitas Islam Bandung (UNISBA) yang digelar oleh Fakultas Syariah Universitas Islam Bandung (Unisba) bekerja sama dengan Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Barat dan Badan Hisab Rukyat Daerah (BHRD) Provinsi Jawa Barat, yang berlokasi di Rooftop Gedung Fakultas Kedokteran UNISBA lantai 10, Jalan Taman Sari Kota Bandung.
Titik pemantauan yang dipusatkan di lima titik tersebut menjadi bagian dari 88 titik pemantauan secara nasional. Adapun titik tersebut di antaranya POB Cibeas Simpenan Kabupaten Sukabumi, Gunung Putri Lembaga Pemasyarakatan 2 Banjar, Kota Banjar, SMA Plus Astha Hannas Binong Kabupaten Subang, POB Pasir Lasih Kabupaten Pangandan dan di Observatorium Albiruni Fakultas Syariah Universitas Islam Bandung (UNISBA).
“Jadi di Jawa Barat ini ada 5 titik yang memantau kaitan dengan rukyatul hilal yang pertama di pangandaran di Pasir Lasih, yang kedua di Subang, di SMA Plus, yang ketiga yaitu di daerah Sukabumi, yang keempat yaitu di Banjar, di Lapas-Banjar, dan yang kelima di Unisba,” jelas Kakanwil.
Ketika ditanya oleh awak media terkait relevansi pemantauan hilal 1 Zulhijah ini bagi umat muslim sendiri, Kakanwil menyampaikan bahwa rukyatul hilal ini merupakan sarana edukasi bagi masyarakat, serta kepastian untuk penentuan jatuhnya 1 Zulhijah 1447 H.
“Untuk substansinya bahwa kita tentunya disamping ada edukasi bagi masyarakat, yang kedua juga yang berkaitan dengan bagaimana kepastian. Kepastian bulan, kepastian apalagi ya tentunya di bulan Zulhijah ini sama dengan di Idul Fitri. Karena apa? Karena kepastian nanti untuk salat idnya atau salat idul adha,” jelasnya.
Berdasarkan laporan pemantauan hilal di lima titik di Jawa Barat termasuk di Observatorium Albiruni Unisba, hilal tidak berhasil terlihat akibat kondisi cuaca yang mendung dan hujan di hampir seluruh lokasi pengamatan.
Meski demikian, berdasarkan data astronomis, posisi hilal di wilayah Jawa Barat telah memenuhi kriteria MABIMS dengan tinggi hilal mar’i sekitar 4 derajat dan tinggi hilal hakiki sekitar 5 derajat.
“Berdasarkan data tersebut, diprediksi 1 Zulhijah 1447 Hijriah jatuh pada Senin Kliwon, 18 Mei 2026, dan Iduladha 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026,” ujarnya.
Hasil pemantauan dari lima titik di Jawa Barat bersama laporan dari 88 titik pemantauan di seluruh Indonesia selanjutnya disampaikan kepada Kementerian Agama Republik Indonesia sebagai bahan pertimbangan dalam sidang isbat penetapan 1 Zulhijah 1447 Hijriah.
Pada kesempatan tersebut, kakanwil mengimbau agar umat Islam tetap menjaga persatuan bila terjadi perbedaan atas hasil rukyatul hilal ini.
“Ya tentunya kami mengimbau kepada seluruh masyarakat, untuk Jawa Barat terutama ya. Kita sama-sama untuk menghargai perbedaan. Yang kedua juga kita wujudkan lagi harmonis, kedamaian, saling menghargai,” pungkasnya.