Update Misi Kemanusiaan Gaza: 5 WNI Ditahan Israel, 6 WNI Via Jalur Darat Tertahan di Lokasi Rahasia
Dwi Rizki May 19, 2026 06:35 PM

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) menyatakan lima warga negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam misi kemanusiaan menuju Gaza diduga ditahan tentara Israel setelah kapal yang mereka tumpangi diintersep di perairan internasional dekat Siprus, Mediterania Timur, Senin (18/5/2026).

GPCI merupakan gerakan solidaritas kemanusiaan yang bertujuan membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza.

Lima WNI dilaporkan berada di dalam rombongan kapal misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0.

Perwakilan Media Crisis Center GPCI, Syamsul Ardiansyah mengatakan, total terdapat sembilan WNI yang mengikuti konvoi laut dalam misi Global Sumud Flotilla (GSF) itu menuju Gaza.

"Sampai saat ini ya, tadi pagi kami mendapat informasi bahwa kurang lebih dari sekira 72 kapal yang berlayar menuju Gaza, 60 di antaranya sudah diintersep oleh tentara penjajah Israel. Dari 60 kapal itu, mengangkut kurang lebih 5 di antaranya adalah delegasi warga negara Indonesia yang terlibat dalam misi kemanusiaan ke Gaza," kata Syamsul, kepada Warta Kota, di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (19/5/2026).

"Jadi dari total 9 orang warga negara Indonesia yang terlibat dalam misi Global Sumud Flotilla yang kedua ini. Dari sembilan, lima (WNI) saat ini kami duga itu sudah diculik oleh tentara zionis Israel, yang merupakan bagian dari kru dan aktivis yang masuk ke dalam 60 kapal yang saat ini sudah diintersep oleh Israel," sambungnya.

Sementara empat lainnya dilaporkan masih bisa melanjutkan pelayaran.

Syamsul mengatakan pihaknya hingga kini masih memantau perkembangan situasi.

Pasalnya, belum memperoleh informasi terbaru secara langsung dari para relawan di lapangan.

“Ada tiga crisis center yang bekerja intensif memantau kondisi teman-teman, yakni di Istanbul, Malaysia, dan Jakarta,” ujarnya.

Baca juga: Pemimpin Redaksi Republika Kecam Penangkapan Jurnalis oleh Militer Israel dalam Misi Kemanusiaan

Selain misi laut, GPCI juga mengirim relawan melalui jalur darat. 

Sebanyak enam WNI disebut ikut dalam konvoi darat yang bergerak dari Tripoli, Libya menuju Kairo, Mesri dan direncanakan melanjutkan perjalanan ke Rafah, perbatasan Gaza, jika situasi memungkinkan.

Namun, rombongan darat saat ini dilaporkan tertahan di sebuah titik yang dirahasiakan demi alasan keamanan.

“Mereka sudah berada di sana sekitar dua hari tanpa sinyal, dengan keterbatasan air bersih, makanan, dan air minum,” kata Syamsul.

Ia menjelaskan hambatan pada jalur darat bukan disebabkan intersepsi Israel, melainkan faktor keamanan lain yang masih didalami pihaknya.

Dalam misi tersebut, relawan membawa bantuan kemanusiaan berupa obat-obatan, peralatan medis, makanan, serta bahan pangan untuk masyarakat Gaza.

Tim relawan juga terdiri atas jurnalis, tenaga kesehatan, tenaga pendidikan, dan pekerja sipil atau eco-builder yang disiapkan untuk membantu pembangunan fasilitas di Gaza.

“Semua tim sudah dibekali pelatihan misi damai dan tidak ada satu pun anggota yang membawa senjata,” ujarnya.

Syamsul menegaskan tujuan misi tersebut murni untuk membuka akses bantuan kemanusiaan bagi warga Gaza, bukan aksi kekerasan.

Ia menambahkan persiapan misi sebenarnya telah dilakukan sejak akhir tahun lalu dan sempat direncanakan berangkat pada Ramadan lalu.

Namun, keberangkatan baru dapat dilakukan pada April setelah melalui berbagai pertimbangan situasi dan proses lobi.

Rute perjalanan dimulai dari Barcelona menuju Tunisia, Istanbul, Marmaris, hingga akhirnya bergerak menuju Gaza.

Terkait koordinasi dengan pemerintah Indonesia, Syamsul mengatakan komunikasi dengan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) berjalan intensif dan cukup positif.

“Kami berharap dukungan pemerintah tidak berhenti pada pernyataan saja, tetapi juga dukungan diplomatik agar teman-teman kami bisa pulang dengan selamat atau melanjutkan perjalanan dengan aman,” katanya. 

Strategi Pembebasan WNI

Diketahui, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menyiapkan strategi untuk melepaskan sejumlah warga negara Indonesia (WNI) dari tangan pasukan Israel. 

Strategi itu disiapkan Kemlu usai lima WNI dikabarkan ditangkap Israel saat pelayaran kemanusiaan bersama komunitas relawan Global Sumud Flotilla pada Senin (18/5/2026). 

Para WNI tersebut terkonfirmasi berada di empat kapal rombongan Global Sumud Flotilla yakni kapal Amanda, Barbaros, Josef, dan Blue Toys.

Kementerian Luar Negeri pun mengecam keras tindakan Militer Israel yang telah mencegat sejumlah kapal yang tergabung dalam rombongan misi kemanusiaan internasional Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0.

Juru Bicara 1 Kemlu Yvone Mewengkang mengatakan hingga saat ini pihaknya masih mencoba menghubungi kapal yang membawa para WNI tersebut.

"Kapal yang membawa jurnalis atas nama Bambang Noroyono sampai saat ini masih dicoba dihubungi untuk mengetahui status dari kapal termasuk Saudara Bambang Noroyono di kapal tersebut," ujar Yvone, Selasa (19/5/2026). 

Kemlu mendesak Israel untuk segera melepaskan seluruh kapal dan awak misi kemanusiaan internasional yang ditahan. 

Israel juga didesak untuk menjamin kelanjutan penyaluran bantuan kemanusiaan kepada rakyat Palestina sesuai hukum humaniter internasional. 

Kemlu sendiri telah berkoordinasi dengan KBRI Ankara, KBRI Kairo, dan KBRI Amman guna menyiapkan langkah antisipatif demi memastikan keselamatan dan percepatan proses pemulangan WNI yang ditangkap. 

"Kemlu RI juga terus menjalin komunikasi dengan berbagai pihak terkait untuk memperoleh informasi terkini mengenai kondisi para WNI, sekaligus menyiapkan langkah kontingensi, termasuk fasilitasi perlindungan dan percepatan proses pemulangan apabila diperlukan," ujar Yvone.

"Perlindungan WNI akan terus menjadi prioritas utama Pemerintah Indonesia di tengah situasi yang berkembang sangat cepat," sambungnya.

Perwakilan RI juga melakukan pendekatan kepada otoritas setempat guna memastikan akses transit dan proses kepulangan WNI dapat berjalan tanpa hambatan keimigrasian.

Total ada 9 Warga Negara Indonesia (WNI) yang bergabung dalam Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) dan melakukan konvoi kapal menuju Gaza dalam misi kemanusiaan. 

Dari jumlah tersebut, 5 WNI ditangkap militer Israel, dan 4 WNI lainnya masih berlayar di dua kapal berbeda. 

Mayoritas WNI yang ditangkap merupakan jurnalis satu aktivis yang ditangkap adalah Andi Angga Prasadewa dari Rumah Zakat yang menaiki kapal Josef. 

Kemudian, tiga orang yang menggunakan kapal Ozgurluk, yakni Thoudy Badai seorang jurnalis Republika, Rahendro Herubowo jurnalis dari Inews, dan Andre Prasetyo Nugroho jurnalis dari TV Tempo. 

Lalu, ada jurnalis Republika, Bambang Noroyono atau Abeng yang menaiki kapal yang berbeda, yakni BoraLize.

Sementara itu, empat WNI yang selamat adalah Hendro, As'ad, Herman, dan Ronggo. Mereka melanjutkan perjalanan berada dengan kapal Karsi, Sadabat, dan Zefiro.

Pemimpin Redaksi Republika Kecam Penangkapan Jurnalis

Pemimpin Redaksi Republika, Andi Muhyiddin mengecam keras tindakan intersepsi yang dilakukan militer Zionis Israel terhadap kapal misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla di perairan internasional.

Menurut Andi, tindakan tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional, prinsip kemanusiaan universal, hingga kebebasan sipil warga dunia yang membawa bantuan bagi rakyat Palestina di Gaza.

“Kami mengecam keras tindakan intersepsi yang dilakukan militer Zionis Israel terhadap kapal misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla di perairan internasional,” ujar Andi dalam keterangannya.

Ia menegaskan, para relawan yang berada dalam kapal tersebut datang bukan untuk membawa senjata ataupun melakukan tindakan provokatif.

Mereka, kata dia, membawa bantuan kemanusiaan berupa obat-obatan, logistik, hingga dukungan moral bagi warga sipil Palestina yang selama berbulan-bulan menghadapi blokade dan agresi berkepanjangan.

“Para relawan datang bukan membawa senjata, melainkan solidaritas, obat-obatan, bantuan logistik, dan suara nurani dunia untuk warga sipil Palestina di Gaza,” katanya.

Dalam rombongan misi kemanusiaan itu, terdapat sembilan relawan asal Indonesia.

Baca juga: Igor Tolic Puji Mentalitas Persib di Kandang PSM: Satu Poin Lagi Untuk Cetak Hattrick Juara

Dua di antaranya merupakan jurnalis Republika, yakni Bambang Noroyono dan Thoudy Badai yang ikut menjalankan tugas jurnalistik sekaligus misi kemanusiaan.

Andi mengatakan, keselamatan seluruh relawan Indonesia, khususnya dua jurnalis Republika, menjadi perhatian serius pihaknya.

“Kami berdiri bersama para relawan kemanusiaan dunia dan menolak segala bentuk kriminalisasi terhadap misi kemanusiaan di perairan internasional,” tegasnya.

Ia berharap seluruh relawan yang berada dalam kapal tersebut mendapat perlindungan serta dapat melanjutkan misi kemanusiaan bagi masyarakat Gaza.
 
Ditangkap Pasukan Israel 

Jurnalis Indonesia dilaporkan telah ditangkap tentara Israel setelah mengikuti pelayaran Sumud Global Flotilla.

Jurnalis Indonesia yang ditangkap diketahui sebagai Bambang Noroyono yang biasa disapa Abeng.

Abeng diketahui sebagai jurnalis Republika berdasarkan video yang diposting oleh Instagram media tersebut.

“Saya Bambang Daryono alias Abeng. Saya warga Indonesia. Saya adalah partisipan pelayaran misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2026,” ujarnya dalam video tersebut, Senin (18/5/2026).

“Jika Anda menemukan video ini mohon disampaikan kepada Pemerintah Republik Indonesia bahwa saya saat ini dalam penculikan tentara Zionis Israel. Saya mohon agar pemerintah Republik Indonesia membebaskan saya dari penculikan tentara penjajah Zionis Israel,” tambah Abeng.

Ia juga meminta kepada Pemerintah RI untuk tetap terus memberikan dukungan untuk kemerdekaan Palestina.

Terkait penangkapan Abeng, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Yvonne Mewengkang kepada KompasTV mengungkapkan koordinasi tengah dilakukan.

“Sedang kita koordinasikan. Will update soon,” tuturnya dalam pesan singkat.

Sebelumnya, tentara Israel tdilaporkan elah mengintersep kapal yang tergabung Global Sumud Flotilla, dalam upayanya memberikan bantuan ke Gaza.

Dikutip dari Al-Jazeera, penyelenggara pelayaran Global Sumud Flotilla dalam pernyataannya di media sosial, Senin, Israel telah mebersiap menyerang kapal mereka di perairan internasional, 250 mil dari Gaza.

Global Sumud Flotilla mengatakan tentara Israel menaiki sejumlah kapal di pantai Suprus, di tengah upaya mereka menembus blokade ke Gaza.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.