Oleh: Maurianus F. W. da Cunha
Alumnus IFTK Ledalero, Flores. Saat ini bekerja dan berdomisili di Kota Bolzano, Italia Utara.
POS-KUPANG.COM - Akhir-akhir ini publik tanah air diramaikan dengan kehadiran film Dilan ITB 1997. Film ini janganlah dilihat semata soal urusan Ariel Noah yang merayu Niken Anjani dengan diksi-diksi manis ala Pidi Baiq.
Film ini merupakan sebuah satir visual yang tajam mengenai dunia pendidikan tanah air saat ini.
Bayangkan seorang Dilan yang adalah mahasiswa yang dikenal santai, reflektif dan gemar menulis menjalani kehidupan kampus hari ini. Bukan tidak mungkin bahwa penilaian itu akan bergeser.
Ia tidak akan dinilai dari cara berpikirnya, tetapi dari IPK, sertifikat dan kecepatan lulus. Ini bukanlah fiksi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) per awal tahun 2026 memperlihatkan hal tersebut.
Tingkat pengangguran lulusan perguruan tinggi berada pada kisaran 5,25-6,04 persen. Angka ini kerap dipakai dalam menjustifikasi kegagalan sebuah pendidikan tinggi.
Baca juga: Opini: Dolar Menguat dan Rapuhnya Ketahanan Indonesia
Namun harus disadari bahwa persoalannya tidak sesederhana menggoreng kerupuk. Permasalahan mendasarnya bukan sekadar skills mismatch, melainkan disorientasi sistemik di mana pendidikan kehilangan kejelasan tujuan.
Di sini, film Dilan ITB 1997 menjadi menarik karena ia menghadirkan kampus bukan sebagai mesin produksi, melainkan sebagai ruang hidup.
Apakah yang ditampilkan Dilan merupakan masa lalu yang ideal, atau sekadar ilusi yang mengelabuhi krisis hari ini?
Kampus dalam dunia Dilan bukan tempat produk cepat saji atau pesanan kilat ala Grab atau Shopee. Tidak ada obsesi terhadap “lulus tepat waktu”.
Dilan malahan berjalan santai, berdialog, menulis, dan membangun relasi. Sedangkan Ancika menemukan kampus sebagai tempat untuk memahami diri dengan segala kebimbangannya.
Narasi ini terlihat sederhana, tetapi memiliki pesan kuat di mana pendidikan adalah proses menjadi manusia.
Namun hal ini bertolak-belakang dengan realita saat ini. Dapat dibilang bahwa kampus berubah menjadi ruang kalkulasi. Mahasiswa menghitung SKS, mengejar IPK, dan mengumpulkan pengalaman magang sebagai “modal jual.”
Tak ada yang salah dengan semuanya itu. Sayangnya, semuanya itu menjadi satu-satunya ukuran.
Di sinilah kehadiran Dilan ITB 1997 dinilai sebagai cermin yang mengganggu karena ia tidak hanya romantis, tetapi juga subversif.
Ia mempertanyakan, kapan terakhir kali kampus menjadi ruang berpikir bukan sekadar ruang produksi?
Tak Selamanya Gelar Menjamin Arah
Jika Dilan kembali menjadi mahasiswa hari ini, mungkin ia akan terheran-heran dengan kenyataan yang ada. Bagaimana tidak? Hingga 40 persen lulusan perguruan tinggi bekerja di bidang yang bertolak-belakang dengan jurusannya menurut laporan BPS (31/10/2025).
Tidaklah mengherankan, jika ada Menteri atau pejabat yang ditempatkan tidak sesuai dengan keahliannya. Ini mengindikasikan adanya kegagalan sistemik. Ia bukan hanya sekadar angka di atas kertas.
Becker (1993) dalam perspektif human capital theory-nya menyatakan bahwa pendidikan adalah investasi. Dengan menampilkan sebuah logika sederhana, ia katakan bahwa semakin tinggi pendidikan, maka semakin tinggi produktivitasnya.
Tetapi sebaliknya data menunjukkan bahwa hubungan ini tidak linear. Banyak lulusan tidak terserap bukan karena tidak kompeten, melainkan karena struktur ekonomilah yang tidak mampu menyiapkan ruang.
Artinya di sini kita dihadapkan pada dua permasalahan. Pertama, adanya ketidaksesuaian antara kurikulum dengan kebutuhan industri. Kedua, adanya ketidakseimbangan antara produksi lulusan dan kapasitas pasar kerja.
Karena itu wacana untuk menutup prodi yang dinilai tidak relevan, tidak akan menyelesaikan permasalahan kedua. Itu ibaratnya mengurangi jumlah payung ketika hujan deras. Ia tidak mengubah cuaca, tetapi hanya mengubah siapa yang basah.
Kedengaran tegas ketika wacana penutupan prodi yang “tidak relevan”didengungkan oleh pemerintah.
Seolah pemerintah menawarkan kesan kontrol: negara tampak bertindak. Namun, di balik ketegasan yang dipaksakan itu, ada ketimpangan serius.
Pertama, indikator yang menjadi acuan terlalu sempit. Relevansi diukur berdasarkan serapan kerja jangka pendek.
Padahal, dalam kenyataannya, pasar kerja berubah dengan cepat. Banyak bidang yang kelihatannya tidak relevan saat ini justru menjadi penting di masa mendatang.
Kedua, pendekatan ini dinilai abai terhadap fungsi pendidikan sebagai public good (Marginson, 2016). Pendidikan pada dasarnya bukan hanya untuk menghasilkan pekerja, melainkan juga menghasilkan warga negara yang memiliki kemampuan untuk berpikir.
Dilan mungkin akan dianggap “tidak efisien”, jika ia hidup dalam sistem ini. Dalam ukuran statistik, ia dinilai tidak produktif.
Namun yang harus disadari bahwa karakter seperti Dilan inilah yang memperlihatkan bahwa pendidikan memiliki nilai-nilai yang tidak bisa diukur: kreativitas, refleksi, dan keberanian berpikir di luar pola.
Adalah sebuah ilusi kebijakan, jika menutup sebuah prodi tanpa pernah berpikir untuk memperbaiki sistem. Karena pada akhirnya, ia akan menciptakan kesan solusi tanpa pernah menyentuh akar masalah.
Coba bayangkan salah satu adegan dalam Dilan ITB 1997 di mana Dilan duduk di kantin, berdiskusi, menulis, dan bercanda.
Di sini kantin bukan sekadar tempat makan, melainkan ruang sosial. Dan coba bandingkan dengan wacana mengenai universitas harus menyediakan dapur untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Yang terjadi adalah kantin dialihfungsikan: dari ruang interaksi menjadi unit produksi kebijakan.
Tidaklah mengherankan jika kritik tajam dilayangkan. Bukan karena anti kebijakan atau program gizi tidak penting. Tetapi justru sebaliknya. Yang menjadi permasalahannya adalah desain kebijakan. Mengapa universitas dipaksakan menjadi operator logistik?
Jika dianalisis berdasarkan kebijakan publik, ini merupakan contoh dari mission drift (pergeseran misi). Institusi yang seharusnya memfokuskan dirinya pada pendidikan dan riset dialihkan pada fungsi operasional.
Ini memiliki dampak konkretnya di mana anggaran teralihkan dari riset ke infrastruktur non-akademik, beban administratif pun meningkat, dan akhirnya menggeser fokus institusi.
Padahal Universitas seharusnya berkontribusi melalui riset gizi, inovasi pangan, dan edukasi. Dengan menjadikannya dapur, ini adalah bentuk simplifikasi fungsi yang berbahaya.
Apabila tren ini berlanjut, kampus akan dikenal sebagai tempat pelaksanaan program dan tidak lagi menjadi tempat lahirnya ide-ide. Dilan tidak akan menulis lagi puisi di sana. Mungkin ia sibuk mengatur distribusi bahan makanan dengan motor andalannya.
Film Dilan ITB 1997 memilih narasi yang begitu hangat dan personal. Ia tidak menampilkan adanya tekanan biaya kuliah, persaingan kerja, atau kecemasan masa depan. Ini bukanlah kelemahan. Ini adalah strategi naratif yang ingin ditampilkan.
Sayangnya, publik kerap mengonsumsinya sebagai realitas. Ini menimbulkan masalah. Sebagai ruang romantik, kita merayakan kampus.
Padahal realitasnya semakin mekanistik. Bourdieu (1984) menamainya sebagai produksi symbolic capital. Kampus dipersepsikan sebagai ruang yang prestisius dan bermakna, meskipun dalam praktiknya semakin pragmatis. (*)