Jalan Kaki Keliling Benteng Keraton Yogyakarta Hasil Revitalisasi
Alfa May 20, 2026 04:34 PM

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com - Sejarah Indonesia mencatat bahwa Sri Sultan Hamengkubuwono II saat menjadi Raja Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat membangun sistem pertahanan dengan membangun benteng Baluwerti yang menjadi bagian krusial dari pertahanan dan tata ruang Keraton Yogyakarta. Pembangunannya bukan sekadar proyek konstruksi, melainkan simbol kedaulatan di tengah tekanan politik kolonial.

Pembangunan benteng ini diprakarsai oleh Sultan Hamengkubuwono II pada 1785-1787. Meskipun Keraton Yogyakarta sudah memiliki dinding pertahanan awal sejak masa Sultan Hamengkubuwono I, Sultan kedua memperkuatnya secara signifikan.

Tujuan utama pembangunannya adalah sebagai respons terhadap ketegangan hubungan antara Kesultanan Yogyakarta dengan kongsi dagang Belanda VOC. Benteng ini dirancang sebagai pertahanan lapis kedua (setelah benteng luar) untuk melindungi kediaman sultan dan keluarga kerajaan dari potensi serangan militer.

Sistem pertahanan baluwerti ini dilengkapi bastion (pojok beteng) di setiap sudutnya yang dilengkapi lubang pengintai dan tempat menempatkan meriam.

Dahulu, di sekeliling benteng terdapat parit dalam (jagang) yang diisi air dan buaya sebagai rintangan tambahan bagi musuh.

Karena fungsinya sebagai salah satu simbol sejarah, benteng baluwarti harus terus dilestarikan. Di antaranya adalah dengan proses yang kita kenal sebagai revitalisasi untuk mengembalikannya ke fungsi tata ruangnya yang asli.

Revitalisasi juga bertujuan mengembalikan fungsi benteng sebagai pembatas kawasan inti Kraton. Di samping itu juga sebagai wujud pelestarian cagar budaya, sesuai dengan UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Dengan latar belakang ini maka struktur benteng perlu dilindungi dari kerusakan akibat alih fungsi lahan di sekitarnya.

Ada beberapa alasan yang mendasari revitalisasi benteng Baluwerti, salah satunya adalah pengajuan "Sumbu Filosofis Yogyakarta" sebagai Warisan Dunia kepada UNESCO. Salah satu syarat utama agar sumbu filosofis ini diakui sebagai warisan budaya oleh UNESCO adalah keaslian dan kelestarian struktur cagar budaya, termasuk benteng Baluwerti ini.

Revitalisasi dilakukan bertahap. Dimulai pada 2020, lalu pada 2021 dilakukan pembersihan lahan dan pembebasan bangunan yang menempel di sisi timur. Setelah itu pada 2022 hingga 2023 dilakukan pembangunan fisik, termasuk pembangunan kembali struktur benteng yang sempat hilang atau rusak di area Pojok Beteng Lor Wetan.

Pada 2024 dilakukan tahap penyempurnaan, penataan pedestrian, dan integrasi dengan kawasan wisata Sumbu Filosofi.

Untuk melihat hasil revitalisasi benteng Baluwerti, pada Kamis, 14 Mei 2026, INTISARI berkesempatan menjelajah mengelilingi dan melihat wajah benteng Baluwerti yang "baru" itu. Kamimelihat secara langsung hasil revitalisasi dari Plengkung Jagasura yang berada di sebelah barat Alun Alun Utara Keraton Yogyakarta atau tepatnya di daerah Gerjen dan Kauman -- dan karena itulah disebut juga Plengkung Gerjen. Plengkung ini dulunya tertutup dan sudah dirobohkan pada 1930-an.

Dari Plengkung Jagasura kamimengambil arah ke timur karena melihat pemandangan yang menarik, sebuah lorong pedestrian yang rapi dan bersih. Lorong ini beralaskan paving blok beton. Persis di sampingnya berdiri dinding setinggi kurang lebih 4 meter. Dinding itu adalah benteng Baluwerti.

Kerapiannya tambah sempurna dengan adanya rerumputan yang ditanam di antara dinding benteng dengan jalur pedestrian.

Dari sisi timur Plengkung Jagasura, Intisari melangkah ke arah barat atau ke arah Jalan Kadipaten Lor. Kami melihat pemandangan yang berbeda dari delapan-sepuluh tahun yang lalu. Di sisi kanan Jalan Kadipaten Lor ini dulunya berdiri deretan bangunan baik pemukiman maupun tempat usaha. Sekarang bangunan-bangunan itu musnah tak bersisa.

Ternyata Jalan Kadipaten Lor ini kebagian "jatah" pembersihan jalur atau sterilisasi. Bangunan-bangunan liar atau hunian warga yang sebelumnya menempel langsung pada dinding benteng telah dirubuhkan.

Dengan dirubuhkannya bangunan-bangunan itu, struktur asli benteng pun kembali terlihat secara utuh. Kami pun melihat benteng Baluwerti ini tampil megah bersih dengan warna putih.

Setelah itu, kami melanjutkanperjalanan ke arah selatan menuju Jalan Nagan Kulon. Di sini pun kami melihat di sisi kanan kami benteng baluwerti yang dulunya tidak terlihat karena okupasi perubahan fungsi lahan menjadi pemukinan.

Dalam perjalanan menuju Jalan Nagan Kulon, kami melewati Pojok Benteng Kulon dan Plengkung Jagabaya (Plengkun Tamansari).

Ada yang berbeda antara kondisi terbaru dengan sebelum revitalisasi. Dulu, Pojok Benteng Kulon tak dipagari sehingga kita bisa menaikinya. Tapi serang tidak bisa karena sudah ada pagar besinya. Tujuannya semata-mata supaya cagar budaya ini tidak rusak atau dirusak.

Kami lalu berjalan menuju ke arah Plengkung Nirbaya atau yang lebih akrab di telingan sebagai Plengkung Gading di Jalan Nagan Kidul. Sama seperti area benteng di lokasi lain, benteng di sekitar Plengkung Gading juga sekarang terlihat jelas -- dulunya tertutup bangunan.Lebar jalan pun lebih besar sehingga dua mobil pun bisa berpapasan dengan aman.

Plengkung Nirbaya adalah satu dari limagerbang asli Benteng Baluwarti Keraton Yogyakarta. Dari semua plengkung yang ada, Plengkung Gading adalah yang paling utuh dan memiliki nilai filosofis yang sangat sakral. Plengkung Gading adalah rute keluar bagi jenazah Raja Kesultanan Yogyakarta atau keluarga keraton lain yang akan dimakamkan ke Imogiri.

Revitalisasi Plengkung Gading merupakan bagian dari proyek besar Pemerintah Daerah DIY dan Keraton Yogyakarta untuk mengembalikan fasad serta nilai historis kawasan Benteng Baluwarti sebagai Warisan Dunia.

Dirangkum dari berbagai sumber, ada beberapa poin penting terkait revitalisasi Plengkung Gading. Tujuan Revitalisasinya adalah Pelestarian Cagar Budaya dengan mengembalikan, merawat, dan memperkuat struktur bangunan yang sudah berusia ratusan tahun agar tidak keropos atau runtuh. Penataan estetika kawasan dengan membersihkan kawasan sekitar plengkung dari kekumuhan, kabel-kabel yang tak tertata, serta papan iklan yang mengganggu pemandangan fasad asli benteng.

Beberapa pengerjaan yang dilakukan adalah perbaikan struktur benteng, pembersihan lumut, penguatan dinding benteng (repointing batu bata lama), dan perbaikan pada bagian atas plengkung (area komando prajurit).

Dari Plengkung Nirbaya kami melanjutkan penjelajahan menuju Plengkung Wijilan melewati Jalan Langenarjan Kidul, Siliran Kidul, Madyosuro, Suryomentaraman, hingga Kenekan. Kondisinya juga sama seperti yang kami lihat di ruas jalan sebelumnya.

Di sepanjang jalur yang kami lewati hingga Plengkung Wijlan, kami melihat kokohnya Benteng Baluwerti yang kini tampil lebih megah setelah proses revitalisasi yang panjang. Juga terlihat lebih fres.

Perjalanan kami pun berakhir di Plengkung Wijilan. Kesimpulan kami, setelah proses revitalisasi dengan dinding benteng Bluwerti yang terlihat kokoh dan bersih seolah mengembalikan nilai sejarah dan estetika dari bangunan pertahanan peninggalan Sri Sultan Hamengku Buwono II itu.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.