Profil Hugo Bross, Pelatih Timnas Afrika Selatan di Piala Dunia 2026 yang Dijuluki Father Figure
Dwi Setiawan May 20, 2026 05:57 PM

TRIBUNNEWS.COM - Nama Hugo Broos menjadi salah satu sorotan di Piala Dunia 2026 dengan reputasinya sebagai salah satu pelatih kawakan.

Di usia 74 tahun, pelatih asal Belgia itu sukses membawa Timnas Afrika Selatan kembali ke panggung terbesar sepak bola dunia setelah penantian panjang.

Broos bukan pelatih dengan gaya glamor atau penuh sensasi. Namun, pengalamannya selama puluhan tahun membuatnya mampu mengubah wajah Afrika Selatan menjadi tim yang disiplin, berani, dan kompetitif.

Dari sempat diragukan, kini ia justru dianggap sebagai sosok penting di balik kebangkitan sepak bola Afrika Selatan.

Awal Karier Hugo Broos

Hugo Bross nyaris datang ke Piala Dunia 2026 dengan status sebagai pelatih paling tua yang akan tampil di turnamen ini.

Namun kembalinya Dick Advocaat (78) ke Timnas Curacao membuat Hugo Bross menjadi urutan  kedua sebagai pelatih tertua di Piala Dunia.

Hugo Broos lahir di Belgia pada 10 April 1952 dan memulai karier sepak bolanya sebagai bek tangguh.

Ia pernah membela tim nasional Belgia sebagai pemain sebelum akhirnya beralih menjadi pelatih.

Karier kepelatihannya dimulai di kompetisi Belgia dan perlahan membangun reputasi sebagai pelatih yang piawai mengelola tim. 

Broos dikenal sukses menangani klub-klub besar Belgia seperti Club Brugge KV, R.S.C. Anderlecht, dan K.R.C. Genk.

Ia bahkan empat kali memenangkan penghargaan Pelatih Terbaik Belgia. Dua penghargaan diraih bersama Club Brugge pada 1992 dan 1996, lalu bersama Anderlecht pada 2004 serta Genk pada 2007.

Meski sempat mengalami periode sulit saat melatih sejumlah klub di Turki, Yunani, Aljazair, hingga Uni Emirat Arab, Broos tetap dikenal sebagai pelatih dengan karakter kuat dan pengalaman luas.

Puncak Prestasi Bersama Kamerun

Nama Hugo Broos mulai benar-benar dikenal luas di sepak bola Afrika saat menangani Timnas Kamerun.

Pada Piala Afrika 2017, Kamerun datang tanpa banyak favorit. Namun Broos berhasil membuat kejutan besar dengan membawa The Indomitable Lions menjadi juara Afrika.

Keberhasilan itu menjadi pencapaian terbesar dalam karier internasionalnya. Broos dipuji karena mampu menyatukan pemain muda dan senior dalam satu sistem permainan yang solid.

Gelar tersebut juga memperlihatkan salah satu kekuatan utama Broos sebagai pelatih: keberanian memberi kesempatan kepada pemain yang kurang populer.

Datang ke Afrika Selatan di Tengah Keraguan

Pada Mei 2021, Hugo Broos ditunjuk melatih Afrika Selatan setelah tim gagal lolos ke Piala Afrika 2021.

Penunjukan itu awalnya memicu keraguan karena usia Broos yang sudah tidak muda lagi.

Namun perlahan, ia mulai melakukan perubahan besar. Broos melakukan regenerasi skuad dengan memberi debut kepada pemain muda.

Nama-nama seperti Thalente Mbatha, Oswin Appollis, dan Evidence Makgopa yang kini menjadi kekuatan Afrika Selatan, adalah yang diorbitkan Bross di eranya.

Para pemain muda itu kemudian berkembang menjadi tulang punggung tim berjuluk Bafana Bafana ini.

Di tangan Broos, Afrika Selatan berubah menjadi tim yang disiplin dalam bertahan, agresif saat transisi menyerang, dan memiliki mental kompetitif yang kuat.

Mengakhiri Era Medioker Bafana Bafana

Sebelum kedatangan Broos, Afrika Selatan cukup lama mengalami masa sulit.

Pergantian pelatih terus terjadi, tetapi prestasi tidak kunjung membaik.

Broos perlahan mengubah budaya tim. Ia membangun rasa percaya diri baru di dalam skuad yang mayoritas dihuni pemain liga domestik.

Hasilnya mulai terlihat saat Afrika Selatan finis peringkat ketiga di Piala Afrika 2023. 

Capaian itu menjadi salah satu prestasi terbaik mereka dalam dua dekade terakhir.

Tak hanya itu, Bafana Bafana juga sukses lolos ke Piala Dunia 2026 setelah finis di puncak Grup C kualifikasi zona Afrika. 

Mereka mengungguli tim kuat seperti Nigeria  dan Benin dalam persaingan ketat hingga laga terakhir.

Afrika Selatan memastikan tiket ke Piala Dunia usai menang 3-0 atas Rwanda di laga penentuan.

Gaya Melatih Hugo Broos

Laman Konfederasi Sepakbola Afrika pernah menulis, salah satu ciri khas Hugo Broos adalah keberaniannya mempercayai pemain muda dan pemain yang kurang dikenal publik.

Ia tidak terlalu terpaku pada nama besar. Selama pemain mampu menjalankan instruksinya, Broos tidak ragu memberikan kesempatan.

Pendekatan itu membuat para pemain merasa dipercaya. Banyak pemain berkembang pesat di bawah arahannya.

Broos juga dikenal sebagai sosok “father figure” di ruang ganti. Ia memiliki pendekatan personal yang kuat dan mampu membangun mental tim.

Dari sisi taktik, Broos lebih menyukai permainan kolektif dibanding mengandalkan individu. 

Organisasi pertahanan dan efektivitas serangan balik menjadi kekuatan utama tim asuhannya.

Menariknya, Piala Dunia 2026 ini akan menjadi ajang perpisahan bagi Hugo Bross yang saat ini telah lima tahun lebih menangani tim.

Ia menjadi pelatih terlama dalam sejarah modern Bafana Bafana setelah melewati rekor mendiang Clive Barker yang menangani selama empat tahun pada 1994-1998.

Broos sudah menyatakan kemungkinan pensiun setelah Piala Dunia 2026 dan kembali menikmati masa tua di Belgia.

Afrika Selatan sebelumnya hanya tiga kali tampil di Piala Dunia, yakni 1998, 2002, dan terakhir kali saat menjadi tuan rumah pada 2010.

Namun di tiga edisi itu, Afrika Selatan selalu mentok di fase grup. Kini tantangan bagi Bross untuk membuat capaian Bafana Bafana lebih baik.

Afrika Selatan tergabung di Grup A. Mereka akan menjalani laga paling pertama untuk membuka Piala Dunia melawan tuan rumah Meksiko, lalu melawan Ceko dan Korea Selatan.

(Tribunnews.com/Tio)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.