TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Pemerintah Kabupaten Magelang menggandeng sektor swasta untuk meningkatkan kompetensi tenaga konstruksi melalui program pelatihan berbasis corporate social responsibility (CSR).
Kegiatan yang digelar di Aula Kantor DPUPR Kabupaten Magelang, Rabu (20/5/2026), menyasar pekerja konstruksi dari keluarga desil 1 dan desil 2 hasil verifikasi data kemiskinan serta masyarakat pengangguran yang ingin bekerja di bidang konstruksi.
Kepala UPTD Jasa dan Peralatan Konstruksi DPUPR Kabupaten Magelang, Evi Yuliyanti mengatakan, pelatihan tersebut diikuti tenaga konstruksi dari jenjang 1 hingga jenjang 6, mulai dari tukang batu, tukang cat, hingga pekerja bangunan lainnya.
“Selain pekerja konstruksi yang sudah bekerja, kami juga membuka kesempatan bagi pengangguran yang ingin memiliki keterampilan di bidang konstruksi,” kata Evi.
Pelatihan tersebut bekerja sama dengan PT Gunabangun Jaya melalui produk semen instan Lemkra serta PT Granito Guna Building Ceramics. Melalui program CSR, perusahaan membantu penyediaan alat pelindung diri (APD), kaos, alat praktik, hingga bahan pelatihan seperti granit dan semen perekat.
“Bahan praktik seperti granit dan semen perekat semuanya ditanggung CSR. Jadi APBD lebih hemat, tapi pelatihannya tetap maksimal,” ujarnya.
Sementara anggaran dari APBD Kabupaten Magelang digunakan untuk kebutuhan konsumsi dan uang saku peserta pelatihan.
Pada sesi pertama, jumlah peserta mencapai 180 orang. Sedangkan total peserta dari dua sesi pelatihan mencapai 255 orang. Materi yang diberikan meliputi pemasangan granit, pengecatan, hingga waterproofing untuk mencegah kebocoran bangunan.
Evi menjelaskan, program pelatihan berbasis CSR tersebut mulai berjalan sejak 2024 dan dinilai mampu meningkatkan jumlah peserta secara signifikan.
“Kalau kita tidak menggandeng CSR, peningkatannya akan lama. Dulu setahun hanya sekitar 30 orang yang dilatih,” katanya.
Kini, jumlah peserta pelatihan meningkat menjadi lebih dari 200 orang setiap tahun. Jenis pelatihan yang diberikan juga terus berkembang, mulai dari pemasangan batu bata, acian, penyusunan rencana anggaran biaya (RAB), hingga pemasangan granit dan pengecatan.
Pemkab Magelang mencatat jumlah tenaga konstruksi di wilayahnya mencapai sekitar 8.200 orang. Namun pekerja yang sudah tersertifikasi masih belum mencapai 10 persen.
Padahal, sesuai regulasi yang berlaku, tenaga konstruksi diwajibkan memiliki sertifikasi atau minimal pernah mengikuti pelatihan kompetensi.
“Ketika perencanaannya bagus tapi tukangnya tidak memahami cara kerja yang benar, kualitas bangunan juga bisa menurun,” jelas Evi.
Selain pelatihan reguler, masyarakat juga dapat mengusulkan pelatihan mandiri dengan minimal 25 peserta. Nantinya tim pemerintah bersama perusahaan mitra akan datang langsung ke lokasi pelatihan.
Menurut Evi, minat masyarakat mengikuti pelatihan kini mulai meningkat karena peserta mendapatkan sertifikat gratis, perlengkapan kerja, hingga kesempatan mengikuti sertifikasi kompetensi tanpa biaya bagi peserta terbaik.
“Sertifikasi kalau mandiri biayanya bisa ratusan ribu sampai jutaan rupiah. Di sini kami fasilitasi gratis untuk peserta terbaik,” ujarnya.
Dukungan terhadap program tersebut juga datang dari pihak perusahaan. Branch Manager PT Gunabangun Jaya area Jogja, Lucia Desi mengatakan program pelatihan itu sejalan dengan visi perusahaan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia bidang konstruksi.
“Kami dari perusahaan bersyukur dengan adanya acara pelatihan SDM ini. Program pemerintah seperti ini menurut kami sangat bagus,” katanya.
Ia menjelaskan penggunaan teknologi semen instan seperti waterproofing dan perekat keramik mampu meningkatkan kualitas pekerjaan konstruksi sekaligus membuat pekerjaan lebih efisien.
“Sumber daya manusia di lingkungan kita masih kurang memahami dan belum familiar dengan teknologi semen instan,” ujarnya.
Menurut Lucia, perusahaan juga rutin mengadakan workshop dan pelatihan mandiri bagi mahasiswa maupun pekerja bangunan.
“Harapannya keterampilan mereka bertumbuh, pendapatan para tukang meningkat, dan bangunan di Indonesia jadi lebih berkualitas,” lanjutnya.
Kerja sama pelatihan tersebut dipastikan masih akan berlanjut. Pada Agustus mendatang, pelatihan serupa kembali direncanakan digelar di Kabupaten Magelang dengan target peserta sekitar 100 orang.
Sementara itu, Technical Manager PT Granito Guna Building Ceramics, Yoos Irawan menilai program pelatihan menjadi sarana peningkatan keterampilan sekaligus pengenalan produk perusahaan kepada tenaga konstruksi.
“CSR ini juga bisa menjadi salah satu pintu untuk mengenalkan produk Granito,” katanya.
Meski demikian, ia menegaskan tujuan utama kegiatan tetap untuk membantu pekerja konstruksi memiliki keterampilan yang lebih baik dan mampu bekerja secara mandiri.
“Kami berharap teman-teman yang ikut pelatihan ini nantinya punya pekerjaan yang cukup dan memiliki pengakuan keterampilan ketika memasang produk kami,” pungkasnya.