Kejagung Periksa Eks Dirjen Bea Cukai Askolani Terkait Kasus Korupsi Rekayasa Ekspor Sawit
Adi Suhendi May 20, 2026 09:38 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kejaksaan Agung menyatakan telah memeriksa mantan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Askolani terkait penyidikan kasus dugaan korupsi rekayasa ekspor crude palm oil (CPO) dan produk turunannya yakni Palm Oil Mill Effluent (POME) di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (Ditjen Bea Cukai) 2022-2024.

Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Anang Supriatna mengatakan, Askolani diperiksa dalam kapasitasnya sebagai saksi sewaktu dirinya masih menjabat sebagai Dirjen Bea Cukai.

Dalam pemeriksaan Askolani memberikan kesaksian perihal regulasi dan prosedur terkait ekspor CPO yang kini tengah dipersoalkan.

"Betul (diperiksa). Yang jelas yang bersangkutan diperiksa terkait dengan regulasi dan prosedur saat itu yang bersangkutan menjabat," kata Anang saat dikonfirmasi wartawan, Rabu (20/5/2026).

Kendati demikian Anang tak menjelaskan lebih jauh kapan Askolani diperiksa penyidik Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus).

11 Tersangka

Dalam kasus korupsi ekspor crude palm oil (CPO) di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (Ditjen Bea Cukai) 2022-2024 Kejagung telah menetapkan 11 orang sebagai tersangka.

Dari total 11 tersangka,  tiga di antaranya merupakan penyelenggara negara yang berasal dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) dan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) RI.

Baca juga: Sidang Suap Bea Cukai, Terungkap Pertemuan Dirjen Bea Cukai dengan Pemilik Bluray di Hotel Borobudur

Mereka di antaranya:

  • R Fadjar Donny Tjahjadi selaku Direktur Teknis Kepabeanan dan Peraturan pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC).
  • Lilla Harsyah Bakhtiar (LHB) selaku Kasubdit Industri Hasil Perkebunan Non Pangan dan Fungsional Analis Kebijakan dan Pembina Industri Ahli Madya pada Direktorat Industri Hasil Hutan Kementerian Perindustrian Republik Indonesia. 
  • Muhammad Zulfikar (MZ) selaku Kepala Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi Kepabeanan Bea dan Cukai (KPBC) Pekanbaru.

Direktur Penyidikan pada Jampidsus Kejagung Syarief Sulaeman Nahdi menjelaskan, dalam proses penyidikan, pihaknya menemukan adanya penyimpangan pelaksanaan ekspor CPO berupa rekayasa klasifikasi komoditas minyak sawit yang akan diekspor.

"Yang secara substansi merupakan CPO berkadar asam tinggi, yang sengaja diklaim sebagai POME atau PAO dengan menggunakan HS (Harmonized System) Code yang berbeda. Di mana HS Code ini diperuntukkan bagi residu atau limbah, limbah padat dari CPO," kata Syarief dalam jumpa pers di Gedung Jampidsus Kejagung, Selasa (10/2/2026).

Baca juga: Sidang Kasus Suap Bea Cukai Berlanjut, Jaksa KPK Hadirkan 5 Saksi Buktikan Dakwaan Bos Blueray

Hal itu dilakukan para tersangka untuk menghindari pengendalian ekspor CPO yang telah ditentukan oleh pemerintah Republik Indonesia.

Adapun kata Syarief, pemerintah sejatinya telah mengeluarkan kebijakan pembatasan dan pengendalian ekspor CPO untuk menjaga ketersediaan minyak goreng dalam negeri serta untuk menjaga stabilitas harga bagi masyarakat.

"Namun dalam pelaksanaannya, penyidik menemukan adanya penyimpangan berupa rekayasa klasifikasi komoditas ekspor CPO," jelasnya 

Selain itu modus lainnya yang digunakan oleh para tersangka yakni meloloskan ekspor CPO dengan menggunakan klasifikasi yang tidak sesuai dengan tujuan untuk menghindari pembatasan dan pelarangan ekspor CPO.

Tak hanya itu kata Syarief, para tersangka juga sengaja menghindari Domestic Market Obligation (DMO) serta mengurangi kewajiban pembayaran Bea keluar dan pungutan sawit yang seharusnya dipenuhi kepada negara, sehingga pemungutannya menjadi jauh lebih rendah.

"Serta adanya kickback atau pemberian imbalan kepada oknum pejabat negara yang dilakukan untuk meloloskan proses administrasi dan pengawasan ekspor tersebut," ujarnya. 

Menurut Syarief, perbuatan penyimpangan yang dilakukan para tersangka menimbulkan dampak yang luas dan sistematis terhadap keuangan negara serta tata kelola komoditas strategis CPO.

"Yaitu di antaranya adanya kehilangan penerimaan negara, kemudian tidak efektifnya kebijakan pengendalian CPO, dan ketiga terganggunya tata kelola komoditas strategis nasional ini," tuturnya.

Selain tiga penyelenggara negara tersebut, Kejagung juga menetapkan tersangka dari kalangan swasta yakni;

  • ES selaku Direktur PT. SMP, PT. SMA dan  PT. SMS;
  • ERW selaku Direktur PT. BMM
  • FLX selaku Direktur Utama PT. AP dan Head Commerce PT. AP
  • RND selaku Direktur PT. TAJ;
  • TNY selaku Direktur PT TEO
  • VNR selaku Direktur PT SIP
  • RBN selaku Direktur PT CKK;
  • YSR selaku Dirut PT. MAS dan Komisaris PT. SBP

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat dengan pasal 603 juncto Pasal 20 Huruf A atau C Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023, dan Subsidair Pasal 3 juncto Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.