- Status superioritas udara Amerika Serikat (AS) bak tercoreng oleh perlawanan pasukan Iran.
Sebanyak 42 pesawat tempur Washington dilaporkan "hancur dan hilang" selama perang melawan Teheran.
Bahkan, Pentagon diklaim telah mengalami kerugian besar dalam operasinya yang dimulai sejak perang (28/2/2026) lalu.
Mengutip Tribunnews pada (20/5), hal ini menurut dokumen Congressional Research Service (CRS) AS bernomor IN12692 yang dirilis (12/5/2026).
Laporan itu memunculkan gambaran berbeda mengenai perang udara Washington melawan Iran dalam operasi militer bertajuk Operation Epic Fury (OEF).
Operasi yang dilakukan bersama Israel untuk menyerang target-target Iran di kawasan Timur Tengah.
Laporan dokumen CRS itu mengungkap sisi lain dari citra superioritas militer Amerika Serikat.
Dokumen itu mencatat bahwa sedikitnya 42 pesawat militer AS hancur atau hilang dalam konflik melawan Iran.
Adapun, kerugian itu mencakup empat jet tempur "F-15E" Strike Eagles yang diketahui hancur.
Sebanyak satu pesawat tempur siluman "F-35A" yang dilaporkan rusak akibat tembakan darat Iran.
Juga satu pesawat serang "A-10" yang hancur, tujuh pesawat pengisian bahan bakar "KC-135" Stratotankers di mana dua hancur dan lima rusak.
Kemudian, satu pesawat pengintai "E-3" Sentry AWACS rusak, dua pesawat operasi khusus "MC-130J" hancur, satu helikopter penyelamat tempur "HH-60W" rusak akibat tembakan senjata ringan.
Tak sampai disitu, tercatat juga sebanyak 24 drone "MQ-9" Reapers hancur dan satu drone "MQ-4C" Triton juga dilaporkan hancur.
Sehingga jika ditotal, ada sebanyak 42 pesawat tempur, tanker udara, helikopter penyelamat, hingga drone strategis yang mengalami rusak bahkan hancur.
Dokumen CRS menyebut, Pentagon hingga kini belum mengeluarkan laporan komprehensif mengenai total kerugian selama perang berlangsung.
Namun, jumlah itu dinilai mengejutkan.
Mengingat, karena melibatkan sejumlah platform paling penting dalam struktur kekuatan udara Amerika Serikat.
Laporan CRS menilai tingginya kerugian pesawat ini memunculkan sejumlah persoalan strategis bagi Kongres AS.
Satu di antaranya terkait kemampuan industri pertahanan Amerika dalam mengganti pesawat yang hilang di tengah meningkatnya tensi global.
Selain itu di luar aspek teknis, laporan itu juga memunculkan pertanyaan lebih besar.
Khususnya, mengenai efektivitas dominasi udara Amerika Serikat menghadapi pertahanan modern berbasis rudal, drone, dan perang elektronik.
Sejumlah analis pertahanan mulai melihat perang Iran sebagai sinyal.
Di mana, bahwa era superioritas absolut udara Amerika tidak lagi sepenuhnya aman.
Tingginya jumlah kerugian menunjukkan bahwa bahkan militer paling kuat di dunia pun kini menghadapi risiko besar.
Tepat, ketika beroperasi di wilayah dengan pertahanan udara berlapis dan kemampuan rudal jarak jauh.