TRIBUNNEWSMAKER.COM, KLATEN – Pelaksanaan 35th International Cycling History Conference (ICHC) 2026 di Klaten melahirkan Piagam Klaten tentang Sepeda, Kebudayaan, dan Masa Depan Berkelanjutan. Dokumen itu menjadi rekomendasi penting hasil konferensi internasional yang berlangsung selama tiga hari.
Piagam tersebut dibacakan dalam penutupan ICHC di Pendopo Pemkab Klaten, Rabu (20/5/2026). Isinya menegaskan sepeda sebagai warisan budaya dunia sekaligus instrumen masa depan.
Selain itu, piagam juga menekankan pentingnya kota ramah manusia, budaya bersepeda sebagai aksi keberlanjutan, hingga peran desa dan kota kecil dalam masa depan dunia.
Isi piagam mendapat perhatian peserta internasional karena dinilai relevan dengan isu perubahan iklim dan urbanisasi global.
Dalam forum tersebut, peserta tampak menyimak serius saat poin-poin Piagam Klaten ditampilkan di layar utama pendopo. Beberapa delegasi asing terlihat mendokumentasikan isi piagam menggunakan telepon genggam.
Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo berharap Piagam Klaten tidak berhenti sebagai dokumen seremoni semata.
“Saya inginnya Piagam Klaten ini menjadi besar,” katanya.
Ia kemudian membandingkan momentum itu dengan sejarah Konferensi Asia Afrika yang pernah digelar Indonesia.
“Kalau dulu Indonesia pernah menjadi tuan rumah dari Konferensi Asia Afrika. Hari ini untuk pertama kali di Klaten, Indonesia, tepat di 35 tahun konferensi sepeda ini kita bisa menjadi tuan rumah,” ujarnya.
Menurutnya, Piagam Klaten harus menjadi pemantik gerakan bersama untuk membangun budaya mobilitas yang lebih sehat dan berkelanjutan.
“Piagam ini yang akan kita gelorakan, menjadi spirit bersama agar tidak hanya di Klaten tapi di seluruh dunia,” paparnya.
Konferensi ICHC 2026 sendiri menghadirkan puluhan pembicara nasional dan internasional dari kalangan akademisi, sejarawan, peneliti hingga pegiat sepeda dunia.
“Harapannya tidak selesai di sini,” tutupnya. (TribunSolo.com, Ibnu Dwi Tamtomo)