Oleh: Suryanto
Guru Besar Psikologi Sosial Fakultas Psikologi Universitas Airlangga
BANJARMASINPOST.CO.ID - Di Banjarmasin, lansia tidak semuanya hidup di dalam gedung ber-AC yang ditunggui anak cucu serta dilayani ART yang siap mendampingi. Mereka banyak yang hadir di teras-teras rumah kayu di bantaran sungai. Ada yang duduk pagi-pagi memandang jukung lewat. Ada yang berjalan pelan ke pasar tradisional, membeli sayur secukupnya, lalu pulang sebelum matahari terlalu tinggi. Ada pula yang tinggal di gang-gang kampung kota, menunggu anak pulang kerja, menunggu cucu pulang sekolah, atau sekadar menunggu ada tetangga yang menyapa.
Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional 2026 seharusnya tidak berhenti pada ucapan selamat, lomba senam lansia, atau foto bersama pejabat. Ia perlu menjadi momentum untuk bertanya lebih jujur: sudahkah Banjarmasin menjadi kota yang layak bagi lansia?
Pertanyaan itu penting karena jumlah lansia di Banjarmasin tidak kecil. Data Satu Data Kota Banjarmasin tahun 2024 mencatat warga berusia 60 tahun ke atas mencapai 69.920 jiwa. Rinciannya, usia 60–64 tahun sebanyak 27.737 jiwa, usia 65–69 tahun 19.327 jiwa, usia 70–74 tahun 11.661 jiwa, dan usia 75 tahun ke atas 11.195 jiwa. Secara nasional, Indonesia juga sedang memasuki masa masyarakat menua. Kementerian Kesehatan mencatat sekitar 12 persen penduduk Indonesia adalah lansia, dan proporsi itu diperkirakan terus meningkat pada dekade mendatang.
Artinya, isu lansia bukan lagi urusan pinggiran. Ia adalah wajah masa depan kota. Setiap orang muda, jika diberi umur panjang, akan sampai pada fase itu.
Dalam psikologi perkembangan, masa lanjut usia bukan sekadar masa penurunan fisik. Erik Erikson menyebut tahap akhir kehidupan sebagai masa ketika manusia berhadapan dengan pilihan batin antara integrity dan despair. Lansia yang mampu menerima perjalanan hidupnya dengan rasa syukur akan mencapai keutuhan diri. Sebaliknya, lansia yang merasa hidupnya sia-sia, ditinggalkan, atau tidak lagi berguna dapat jatuh pada keputusasaan.
Di sinilah keluarga, tetangga, dan pemerintah memiliki peran besar. Lansia tidak cukup diberi makan dan obat. Mereka juga perlu didengar. Mereka perlu merasa masih dihargai. Mereka perlu diyakinkan bahwa usia tua bukan berarti habisnya martabat.
Sementara itu Robert Havighurst menjelaskan bahwa lansia memiliki tugas perkembangan tertentu. Di antaranya menyesuaikan diri dengan penurunan kekuatan fisik, menerima masa pensiun atau berkurangnya peran kerja, menyesuaikan diri dengan kehilangan pasangan atau teman sebaya, menjaga hubungan sosial yang bermakna, serta membangun kepuasan hidup di usia tua. Tugas-tugas ini tampak sederhana, tetapi tidak mudah dijalani.
Bayangkan seorang lansia di bantaran sungai yang dulu terbiasa aktif bekerja, kini mulai sulit berjalan karena lututnya sakit. Ia tidak hanya menghadapi persoalan medis, tetapi juga persoalan psikologis: merasa tidak lagi berguna. Bayangkan pula seorang ibu tua di kampung kota yang tinggal bersama anak-cucu, tetapi jarang diajak bicara karena semua sibuk dengan gawai masing-masing. Secara fisik ia tidak sendiri, tetapi secara batin ia kesepian.
Kesepian adalah problem besar lansia. Dalam budaya Banjar yang kuat dengan nilai keluarga dan bubuhan, kita sering mengira lansia otomatis aman karena masih punya keluarga. Padahal tidak selalu begitu. Ada lansia yang tinggal bersama keluarga, tetapi tidak punya teman berbicara. Ada yang kebutuhan makannya cukup, tetapi kebutuhan emosionalnya kosong. Ada yang tubuhnya dirawat, tetapi perasaannya diabaikan.
Problematika lansia di Banjarmasin juga terkait ruang kota. Kota ini terus tumbuh. Jalan semakin padat. Layanan publik makin digital. Pasar makin ramai. Akses ke permukiman bantaran sungai, titian, gang sempit, dan jalan yang licin tidak selalu ramah bagi tubuh tua. Untuk anak muda, naik turun titian mungkin biasa. Untuk lansia, itu bisa menjadi ancaman jatuh. Bagi orang sehat, antre di puskesmas mungkin hanya soal waktu. Bagi lansia, berdiri terlalu lama bisa menjadi penderitaan.
Penanganan lansia selama ini sebenarnya sudah ada. Ada posyandu lansia, puskesmas, pemeriksaan kesehatan, bantuan sosial, pembinaan keagamaan, dan kegiatan komunitas. Namun tantangannya adalah bagaimana program itu tidak berhenti sebagai kegiatan rutin administratif. Layanan lansia perlu bergerak lebih dekat ke rumah, gang, RT, pasar, rumah ibadah, dan bantaran sungai.
Dalam psikologi, konsep successful aging menekankan bahwa menua dengan baik bukan berarti bebas dari penyakit sama sekali. Menua dengan baik berarti tetap memiliki fungsi, makna, relasi sosial, dan kemampuan menyesuaikan diri. Baltes menyebut pentingnya strategi selection, optimization, and compensation. Lansia memilih aktivitas yang masih mungkin dilakukan, mengoptimalkan kemampuan yang tersisa, dan mengompensasi keterbatasan dengan bantuan lingkungan.
Maka dari itu, untuk membangun kota ramah lansia, tidak cukup hanya ada rumah sakit. Kota ramah lansia adalah kota yang membantu orang tua tetap bisa hidup bermakna. Ada tempat duduk di ruang publik. Ada antrean prioritas. Ada petugas yang sabar menjelaskan layanan digital. Ada posyandu lansia yang aktif. Ada kader yang tahu lansia mana yang tinggal sendiri, sakit, miskin, atau mulai menunjukkan gejala demensia dan depresi.
Pemerintah Kota Banjarmasin perlu menjadikan lansia sebagai bagian penting dari perencanaan pembangunan. Data lansia harus akurat sampai tingkat kelurahan dan RT. Puskesmas perlu memperkuat layanan promotif dan preventif, bukan hanya mengobati ketika sakit. Dinas sosial perlu memastikan bantuan tepat sasaran. Dinas perhubungan dan pekerjaan umum perlu melihat jalan, halte, trotoar, pasar, dan titian dari sudut pandang orang tua. Dinas komunikasi dan pelayanan publik perlu memastikan digitalisasi tidak meninggalkan lansia.
Tentunya, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, karena keluarga banjar juga bisa menjadi rumah psikologis bagi lansia. Anak-anak perlu menyisihkan waktu untuk mendengar cerita orang tua. Cucu-cucu perlu diajarkan bahwa menyapa kakek-nenek bukan sekadar sopan santun, tetapi bagian dari pendidikan karakter. RT, masjid, majelis taklim, PKK, karang taruna, dan komunitas warga dapat menjadi jejaring sosial yang menjaga lansia dari kesepian.
Merawat lansia berarti merawat memori kota. Mereka menyimpan cerita tentang sungai, pasar, kampung, langgar, keluarga, dan perubahan Banjarmasin dari masa ke masa. Bila lansia diabaikan, kita tidak hanya kehilangan orang tua, melainkan kita akan kehilangan ingatan sosial pula.
Akhirnya, Hari Lansia Nasional ini seharusnya mengingatkan kita bahwa kemajuan kota tidak hanya diukur dari seberapa tinggi bangunannya, tetapi dari seberapa lembut ia memperlakukan orang tua. (*)