TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Lemahnya nilai tukar rupiah hingga menyentuh kisaran terhadap dolar Amerika Serikat nyatanya tak hanya diakibatkan adanya faktor global, melainkan juga berkaitan dengan kondisi ekspor dan investasi dalam negeri yang melemah.
Demikian dipaparkan oleh Dosen sekaligus peneliti dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Balikpapan, Bambang Saputra kepada TribunKaltim.co pada Rabu (20/5/2026) sore.
Dia mengatakan, kekuatan rupiah sangat bergantung pada jumlah dolar yang masuk ke Indonesia, terutama melalui ekspor komoditas unggulan.
Menurutnya, ketika ekspor meningkat maka cadangan devisa bertambah dan nilai tukar rupiah cenderung menguat.
Baca juga: Rupiah Melemah, Pengusaha Batu Bara di Kaltim Mulai Tercekik karena Tingginya Biaya Produksi
Sebaliknya, jika impor lebih dominan dibanding ekspor, maka dolar di dalam negeri akan berkurang sehingga rupiah tertekan.
"Kalau kita bicara rupiah melemah, itu tergantung jumlah dolar yang beredar di dalam negeri. Itu didorong dari kinerja ekspor kita sebenarnya," ujarnya.
Ia menjelaskan, Indonesia selama ini masih mengandalkan sektor mineral dan energi seperti batubara dan crude palm oil (CPO) untuk menopang devisa negara.
Namun, kondisi ekspor saat ini dinilai belum optimal, khususnya di Kalimantan Timur.
Menurut Bambang, kontraksi sektor pertambangan akibat belum pastinya Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) membuat produksi dan ekspor batubara ikut menurun.
Baca juga: Kuota Batu Bara Dipangkas Pusat, Pemkab Kukar Siapkan 3 Strategi Tangkal Badai PHK
Padahal, di tengah konflik geopolitik dan krisis energi global, permintaan batubara dari luar negeri sebenarnya masih cukup tinggi.
Sehingga, kondisi tersebut membuat Kaltim tak dapat menikmati keuntungan dari penguatan dolar AS. Di sisi lain, harga barang-barang impor justru terus naik dan membebani masyarakat.
"Ketika tambang menurun sementara dolar naik, otomatis kita tidak dapat keuntungan dari kenaikan dolar," jelasnya.
Selain faktor ekspor, Bambang juga mengatakan, kepercayaan investor asing terhadap kondisi ekonomi nasional juga mempengaruhi kurs rupiah.
Sebab, jika investor merasa kondisi investasi tidak stabil, maka dana asing cenderung keluar dari Indonesia dan memperlemah nilai tukar.
Dengan begitu, arus modal keluar dapat mempercepat pelemahan rupiah karena permintaan dolar meningkat sementara pasokannya berkurang.
"Ketika investor merasa Indonesia tidak aman untuk berinvestasi maka dia akan menarik dananya ke luar. Sehingga rupiah melemah kembali," tambahnya.
Selain itu, Bambang juga mengatakan, pemerintah perlu menjaga kepastian kebijakan, terutama di sektor ekspor minerba, agar produksi dan arus devisa kembali meningkat.
Dengan meningkatnya ekspor, jumlah dolar di dalam negeri akan bertambah dan membantu menstabilkan rupiah.
Sehingga menurutnya, kondisi saat ini menjadi peringatan atas ketergantungan terhadap impor yang masih cukup tinggi, sementara sektor penghasil devisa belum bergerak maksimal.
"Kata kuncinya kalau ingin menguatkan rupiah maka kebijakan ekspor khususnya minerba dibuka, karena batubara kita sedang disukai pasar luar negeri," pungkasnya. (*)