Jakarta (ANTARA) - Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Selatan (Sudin LH Jaksel) sudah membagikan 2.300 biopori jumbo untuk memilah sampah warga sekaligus mengurangi ketergantungan pengiriman sampah ke Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang.

"Dari jumlah tersebut, Sudin LH sebenarnya sudah membagikan 2.300 tong dari 2.400 tong biopori yang tersedia," kata Kasudin Lingkungan Hidup Jakarta Selatan, Dedy Setiono saat dihubungi di Jakarta, Kamis.

Dedy mengatakan pihaknya menargetkan sebanyak 2.400 tong biopori sudah selesai dibagikan pada awal Juni nanti.

Adapun pembuatan lubang biopori jumbo bertujuan untuk menekan timbulan sampah organik dari rumah tangga, guna mengurangi ketergantungan pengiriman sampah ke TPST Bantargebang.

"Jadi, ini merupakan Instruksi Gubernur (Ingub) Nomor 5 Tahun 2026, terkait kebijakan yang diterbitkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengenai gerakan pemilahan dan pengolahan sampah dari sumber," ucapnya.

Selain pembuatan lubang biopori jumbo dan teba modern, pihaknya saat ini juga masif melakukan sosialisasi pilah sampah dari meja makan, baik itu kepada warga, lurah, camat dan unsur lainnya.

"Kami berharap, apa yang dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah dalam pengelolaan sampah dapat berjalan baik. Sehingga, nantinya penghentian pembuangan sampah umum ke TPST Bantargebang pada 1 Agustus 2026 dapat dilakukan dengan mudah," ucap dia.

Hingga pertengahan bulan Mei 2026, sebanyak 345 lubang biopori jumbo dan 40 teba modern sudah dibuat di lingkungan warga maupun di kantor-kantor pemerintahan.

Rinciannya yang sudah dibangun berada di Kecamatan Cilandak ada 87 titik, Jagakarsa 42 titik, Kebayoran Baru 38 titik, Kebayoran Lama 23 titik, Mampang Prapatan 42 titik.

Kemudian, di Kecamatan Pancoran 46 titik, Pasar Minggu 31 titik, Pesanggrahan 24 titik, Setiabudi 21 titik dan Tebet ada 31 titik lubang biopori jumbo dan teba modern.