Tokoh Islam Indonesia Ungkap Pengalaman Menyaksikan Kehidupan Muslim di China
Yocerizal May 21, 2026 12:24 PM

 

SERAMBINEWS.COM - Perjalanan delegasi tokoh Islam wilayah kerja Konsulat Jenderal China di Medan ke Beijing, Urumqi, dan Kashgar pada 11–17 Mei menghadirkan pengalaman baru bagi para peserta.

Selama sepekan berada di China, mereka tidak hanya melihat perkembangan teknologi dan pembangunan modern, tetapi juga menyaksikan langsung kehidupan masyarakat Muslim di negara tersebut.

Delegasi terdiri dari tokoh agama, akademisi, organisasi sosial, hingga insan media dari Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat. 

Sebagaimana rilis yang diterima Serambinews.com dari Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Medan, rombongan mengunjungi masjid, lembaga pendidikan Islam, pusat kebudayaan, hingga situs sejarah seperti Forbidden City atau Kota Terlarang di Beijing.

Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Muhammad Qorib, mengatakan perjalanan tersebut memberinya pemahaman baru mengenai perkembangan China dan kehidupan beragama di negara itu.

Menurutnya, masih ada sebagian masyarakat Indonesia yang memiliki persepsi kurang tepat terhadap China sehingga menimbulkan jarak sosial, terutama di kalangan Muslim. 

Baca juga: JCH Kloter Terakhir dari Aceh Tiba di Mekkah, Total 18 Jamaah Gagal Berangkat

Baca juga: Batas Waktu Serahkan Diri Berakhir, Hanya Empat Napi yang Kembali ke LP Kualasimpang

Namun setelah melihat langsung kondisi di lapangan, ia menilai banyak hal ternyata berbeda dari gambaran yang selama ini berkembang.

“China yang kami lihat ternyata tidak sama dengan sebagian gambaran sepihak yang selama ini beredar,” ujarnya.

Muhammad Qorib menilai perkembangan China di bidang pendidikan dan teknologi layak dipelajari. Ia menyoroti investasi besar negara itu dalam pengembangan sumber daya manusia, termasuk pendidikan teknik dan inovasi.

Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara ini mengatakan, kemajuan China bukan sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba, melainkan hasil pembangunan jangka panjang yang berfokus pada pendidikan dan teknologi.

Selain melihat perkembangan modern, delegasi juga mengunjungi sejumlah pusat kehidupan Muslim di Xinjiang, termasuk Urumqi dan Kashgar. Di sana, mereka berdialog dengan komunitas Muslim setempat, mengunjungi masjid, serta melihat aktivitas pendidikan Islam.

Muhammad Qorib mengatakan agama di China memang lebih dipandang sebagai urusan pribadi dan tidak terlalu ditampilkan secara terbuka. Meski demikian, tambah dia, keberadaan agama tetap diakui dan dihormati.

“Kami melihat para tokoh agama masih menjalankan aktivitasnya dan sejumlah fasilitas keagamaan tetap berjalan,” katanya.

Islam di China_1
DI MASJID DONGSI - Delegasi tokoh Islam Indonesia berfoto bersama saat mengunjungi Masjid Dongsi di Beijing, China, dalam rangkaian kunjungan pertukaran budaya dan keagamaan pada 11–17 Mei 2026. Dalam kunjungan tersebut, delegasi melihat langsung kehidupan Muslim, aktivitas keagamaan, serta perkembangan sosial dan budaya di China.

Pandangan serupa disampaikan pejabat Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Ibnu Sadan bin Ibrahim. Ia mengaku kunjungan tersebut mengubah pandangannya mengenai kehidupan beragama di China.

“Selama ini ada anggapan di luar bahwa tidak ada kebebasan beragama di China. Namun setelah kami datang langsung, kami melihat masyarakat tetap dapat menjalankan aktivitas keagamaan dengan baik,” ucapnya.

Ibnu Sadan mengaku terkesan dengan keberadaan institut Islam di Xinjiang yang digunakan untuk mendidik imam dan pemimpin agama. Delegasi juga mendapat penjelasan mengenai sistem pendidikan kader ulama serta dukungan terhadap operasional lembaga tersebut.

Selain kehidupan keagamaan, Ibnu Sadan turut menyoroti perkembangan modern di Xinjiang yang menurutnya berubah sangat pesat dibanding citra wilayah tersebut pada masa lalu.

Ia juga mengapresiasi penerapan teknologi informasi di berbagai tempat wisata dan ruang publik di Beijing.  Menurut dia, sejumlah lokasi wisata telah menggunakan perangkat audio otomatis dengan berbagai pilihan bahasa, termasuk bahasa Indonesia.

Wakil Ketua MUI Sumatera Utara, Muhammad Jamil, menilai perjalanan tersebut bukan hanya memperluas pemahaman mengenai masyarakat China, tetapi juga mempererat hubungan antartokoh Islam dari berbagai daerah di Indonesia.

Dialog dan pertukaran lintas negara seperti itu dianggap penting untuk membangun rasa persaudaraan dan saling pengertian antarumat Muslim.

Baca juga: Danden Gegana Kompol Akmal Raih Gelar Doktor di USK Lewat Riset Teknologi Virtual Reality

Baca juga: Kawanan Gajah Liar Masuk Permukiman Warga di Lango Aceh Barat

Muhammad Jamil juga mengaku terkejut mengetahui Beijing memiliki puluhan masjid dan melihat adanya lembaga pendidikan Islam yang tetap berkembang. 

“Saya sangat terkejut dan tersentuh melihat adanya lembaga pendidikan Islam yang didukung dan dikembangkan,” katanya.

Sementara itu, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sumatera Utara, Muhammad Hatta Siregar, menyoroti hubungan antarumat beragama yang menurutnya berjalan harmonis selama kunjungan berlangsung.

“Selama hampir delapan hari berada di China, kami melihat hubungan antarumat beragama berjalan sangat harmonis,” ucapnya.

Muhammad Hatta mengatakan delegasi juga melihat perkembangan masyarakat Muslim di Kashgar dan Urumqi yang dinilainya berjalan cukup baik. Ia mengapresiasi adanya perhatian terhadap kehidupan komunitas Muslim di wilayah tersebut.

Sejarah dan Budaya China

Selain mengunjungi pusat komunitas Muslim, delegasi turut mempelajari sejarah dan budaya China melalui kunjungan ke Kota Terlarang di Beijing. 

Di lokasi tersebut, rombongan mendapat penjelasan mengenai sejarah Dinasti Ming dan Qing, tata ruang istana kekaisaran, hingga pelestarian warisan budaya kuno China yang masih terjaga hingga kini.

Islam di China_2
KOTA TERLARANG - Delegasi tokoh Islam Indonesia berfoto bersama saat mengunjungi Forbidden City atau Kota Terlarang di Beijing, China, dalam rangkaian kunjungan pertukaran budaya dan keagamaan pada Mei 2026. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya delegasi mempelajari sejarah peradaban, budaya, serta perkembangan modern China.

Wakil Sekretaris Al Washliyah Sumatera Utara, Muhammad Riduan Harahap, mengaku kagum melihat perpaduan antara kekuatan budaya dan kemajuan teknologi China.

“Saya melihat masyarakat China sangat ramah, memiliki budaya yang kuat, dan perkembangan teknologinya juga sangat maju,” katanya.

Bagi para peserta, perjalanan tersebut tidak sekadar menjadi agenda kunjungan luar negeri, tetapi juga ruang pertukaran pengalaman mengenai pendidikan, budaya, kehidupan sosial, dan praktik keagamaan di China modern.

Kunjungan itu meninggalkan kesan tersendiri bagi para delegasi, terutama karena mereka dapat melihat langsung kehidupan masyarakat Muslim, perkembangan pendidikan Islam, serta perubahan besar yang terjadi di berbagai wilayah China dalam beberapa tahun terakhir.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.