Naskah Singkat Khutbah Salat Jumat 22 Mei 2026: Berkorban dengan Berkurban
Machmud Mubarok May 21, 2026 02:05 PM

 

TRIBUNPRIANGAN.COM - Bulan Zulhijah adalah bulan berkorban di antara bulan haram lain.

Pernyataan tersebut rasanya sangat identik dengan perayaan hari Raya Idul Adha di bulan terakhir di kalender Hijriah tersebut.

Pasalnya, bulan kedua belas tersebut memang menjadi bulan yang dipilih untuk melaksanakan berbagai ibadah termasuk Berkurban.

Seperti yang kita tahu, Allah memerintahkan kita untuk terus mendekatkan diri kepada-Nya dengan dua bentuk ibadah.

Selain shalat 5 waktu, ibadah lain yang juga ditekankan adalah berkurban yang merupakan ibadah tahunan dan hanya bisa dilaksanakan pada bulan Zulhijah.

Pelaksanaan ibadah yang dilakukan pada hari Raya Haji atau Idul Adha pada tanggal 10 Zulhijah atau tiga Hari Tasyriq, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 bulan Zulhijah ini, bertujuan untuk mensyukuri banyaknya nikmat yang sudah Allah berikan.

Untuk itu, sudah selayaknya setiap dari kita berusaha untuk dapat melaksanakan kurban sehingga kita akan semakin dekat kepada Allah.

Berikut ini terdapat salah satu topik khutbah jumat jelang momen kurban di bulan Zulhijah, yang bisa digunakan untuk penyampaian esok hari.

Baca juga: Naskah Singkat Khutbah Jumat 22 Mei 2026: Raih Cinta dan Ampunan di Bulan Zulhijjah

Khutbah I

الْحَمْدُ لِلَّهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرَّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِي كَانَ خُلْقُهُ الْقُرْآنَ
أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ الرَّحْمَنِ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُّ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِةٌ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Tidak bosan-bosannya khatib mengajak kepada seluruh jamaah, mari kita senantiasa meningkatkan dan menguatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Barometer dari ketakwaan adalah kemampuan kita untuk sekuat tenaga menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala yang dilarang oleh-Nya.

Posisi kita berada di jalan yang telah digariskan oleh Allah SWT-dengan tidak menyimpang ke kanan maupun ke kiri-akan menjadikan kita pada posisi yang kuat dan seimbang, sehingga mampu menghantarkan kita kepada tujuan hidup yang hakiki.

Ketakwaan ini pula yang ditegaskan oleh Allah SWT sebagai bekal terbaik dalam menjalani kehidupan. Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 197:

وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ

"Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat." (QS. Al-Baqarah: 197)

Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 22 Mei 2026: 6 Cara Menyambut dan Menghidupkan Bulan Zulhijah

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Pada kesempatan khutbah kali ini, khatib mengajak kita semua untuk kembali merenungkan nikmat-nikmat dan rezeki yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT dalam kehidupan ini. Semua nikmat itu nyata adanya dan telah ditegaskan dalam Al-Quran, dalam Surah Al-Kautsar ayat 1:

اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَ

"Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak."

Nikmat yang telah diberikan kepada kita tidak boleh membuat kita lalai dan menjauh dari Allah. Justru sebaliknya, nikmat itu harus menjadi sarana untuk semakin dekat kepada-Nya. Bagaimana cara kita mendekatkan diri kepada Allah? Jawabannya ada pada ayat berikutnya dalam Surah Al-Kautsar:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ

"Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah)."

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Dalam ayat tersebut, Allah memerintahkan dua bentuk ibadah sebagai sarana pendekatan kepada-Nya. Pertama adalah sholat, yang merupakan kewajiban harian. Kedua adalah ibadah kurban, sebuah ibadah tahunan yang hanya dilakukan pada bulan Dzulhijjah, yaitu pada tanggal 10 Dzulhijjah atau pada Hari Tasyriq (11, 12, dan 13 Dzulhijjah).

Secara bahasa, kurban berasal dari kata "qaruba - yaqrubu - qurban" yang berarti dekat. Maka, berkurban sejatinya adalah upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan mengorbankan sebagian harta guna membeli hewan kurban dan membagikannya kepada sesama.

Namun, penting bagi kita untuk memastikan bahwa niat kita benar. Jangan sampai ibadah kurban dilakukan dengan niat yang salah, seperti ingin dipuji atau mencari popularitas. Karena hal itu justru akan menjauhkan kita dari Allah, bukan mendekatkan.

Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 22 Mei 2026: Panggilan Kebaikan yang Menggunung di Awal Zulhijah

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Menurut pendapat Imam Malik dan Imam Al-Syafi'i, menyembelih hewan kurban adalah sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan. Sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa kurban adalah wajib bagi yang mampu dan tidak sedang bepergian. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pun tidak pernah meninggalkan ibadah ini sejak disyariatkan sampai beliau wafat.

Dalam sebuah hadits dari Aisyah radhiyallahu 'anha, Nabi bersabda:

مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ إِنَّهَا لَتَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلَافِهَا وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنْ اللهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنْ الْأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا

"Tidak ada suatu amalan yang dikerjakan anak Adam pada hari raya Idul Adha yang lebih dicintai oleh Allah dari menyembelih hewan. Karena hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kuku kakinya. Darah hewan itu akan sampai di sisi Allah sebelum menetes ke tanah. Karenanya, lapangkanlah jiwamu untuk melakukannya." (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Ibadah kurban juga memiliki dua dimensi. Dimensi vertikal sebagai bentuk penghambaan kepada Allah. Dan dimensi horizontal sebagai bentuk kepedulian kepada sesama melalui pembagian daging kurban, yang akan membahagiakan orang lain dan memperkuat ukhuwah Islamiyah.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Dengan begitu agungnya makna dan tujuan kurban, sudah sepantasnya kita yang mampu berusaha melaksanakannya. Jangan sampai kita menjadi hamba yang kufur nikmat karena enggan berkurban padahal memiliki kemampuan.

Mari kita menjadi hamba yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan menjalankan semua perintah-Nya, agar tidak termasuk dalam golongan yang disebut Allah dalam Surah Al-Kautsar ayat 3:

اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ

"Sungguh, orang-orang yang membencimu, dialah yang terputus (dari rahmat Allah)."

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

الْحَمْدُ لِلَّهِ وَكَفَى وَأُصَلِّي وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِي الْعَظِيمِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلَّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى الِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هُذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةَ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
عِبَادَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.