TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Kesempatan bergabung dalam program menu kering SPPG pada akhir 2024 menjadi momentum besar bagi usaha roti milik Nur Fitriyani (27).
Ia berhasil menambus dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), Program Strategis Presiden RI Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.
Namanya Bake Me Cake, berlokasi di Jl Poros Paccerakkang, Kelurahan Daya, Biringkanaya, Makassar Sulawesi Selatan.
Dari rumah produksi sederhananya, ia mulai menerima pesanan roti dalam jumlah besar.
Produksi yang biasanya hanya untuk kampus dan instansi mendadak meningkat tajam.
Distribusinya bahkan menjangkau enam wilayah sekaligus.
Mulai Makassar, Gowa, Takalar, Antang, Daya hingga Kabupaten Barru.
“Alhamdulillah, akhir tahun 2024 sampai Ramadan 2025 kemarin, sempat masuk di program menu keringnya SPPG,” ujar Nur Fitriyani ditemui di Kantor Makassar Government Center (MGC) Pemkot Makassar, Kamis (21/5/2026).
Baca juga: Dapur Andist, Saat Camilan Tradisional Naik Kelas Bersama Rumah BUMN BRI
Lonjakan pesanan itu membuat alat produksi yang dimiliki mulai kewalahan.
Oven lama yang digunakan hanya mampu menampung tiga loyang dalam sekali panggang.
Sementara permintaan produksi terus bertambah setiap hari.
Proses pembuatan roti pun memakan waktu lebih lama karena kapasitas alat terbatas.
Kondisi itu membuat Nur Fitriyani mulai memikirkan tambahan modal usaha.
Ia kemudian memutuskan mengambil Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI pada akhir 2024.
Nilai pinjaman yang diambil sebesar Rp50 juta.
Tenor pengembaliannya selama dua tahun.
Dana tersebut langsung digunakan membeli berbagai peralatan baru untuk menunjang produksi.
“Alhamdulillah, sangat membantu. Karena dari dana itu, kami bisa beli alat-alat baru,” katanya.
Oven produksi kini memiliki kapasitas hingga sembilan loyang sekali masuk.
Selain itu, mereka juga membeli alat pemotong adonan otomatis.
Mixer lama pun diganti dengan kapasitas tiga kali lebih besar dibanding sebelumnya.
Salah satu pekerja, Wulan, mengaku terbantu sejak bergabung di usaha roti tersebut.
Menurutnya, pekerjaan di rumah produksi itu ikut membantu perekonomian keluarganya.
Ia juga merasakan perubahan besar setelah alat produksi diperbarui menggunakan dana KUR BRI.
“Kalau dulu itu capek sekali karena semua masih manual dan alatnya kecil. Sekarang lebih ringan karena alatnya sudah besar dan lebih cepat juga kerjanya,” ujar Wulan.
Menurutnya, proses membuat adonan kini jauh lebih mudah karena mixer baru mampu menampung adonan dalam jumlah besar sekaligus.
Begitu juga dengan proses memanggang yang tidak lagi harus dilakukan berulang kali seperti sebelumnya.
Fitri menjelaskan, perubahan alat produksi itu berdampak besar terhadap kapasitas usaha mereka.
Jumlah roti yang diproduksi meningkat drastis dalam waktu singkat.
Untuk suplai ke kampus saja, mereka mampu membuat sekitar 500 roti dalam sekali produksi.
Produk mereka dipasarkan dengan cara dititip di koperasi kampus, salah satunya di Universitas Bosowa Makassar.
Pengiriman biasanya dilakukan setiap pekan.
Selain roti, usaha tersebut juga menerima pesanan snack box dari berbagai kegiatan.
Pesanan lain datang dari instansi pemerintahan hingga rumah sakit.
“Awalnya Unibos, karena kebetulan orang tua kerja di sana kan, jadi gampang masuknya. Terus dari situ merembet ke kampus-kampus lain,” ujar Fitri
Usaha tersebut sebenarnya mulai dirintis sejak 2020.
Namun, bisnis itu baru resmi berjalan setelah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) pada 2022.m
Kini, rumah produksi Nur Fitriyani mempekerjakan delapan orang karyawan.
Masing-masing memiliki tugas berbeda di bagian produksi.
Ada yang khusus membuat adonan.
Ada pula yang bertugas memanggang roti hingga packing pesanan.
Nur Fitriyani mengaku peningkatan produksi setelah mendapatkan KUR turut mendongkrak omzet usaha.
“Omzetnya juga naik. Malah dari keuntungan produksi yang meningkat itu, per bulan April kemarin sebenarnya sudah tertutupi semua modal pengembalian KURnya,” katanya.
Menurutnya, keuntungan dari peningkatan produksi membuat modal usaha lebih cepat kembali.
Saat ini, ia mulai menyusun rencana pengembangan usaha berikutnya.
Salah satu target yang ingin dicapai ialah memperluas jaringan kerja sama dengan hotel.
Ia juga mulai mencari koneksi melalui program inkubator usaha yang digagas Dinas Koperasi dan UKM Kota Makassar.
“Kalau saya, rencana ke depan itu mau fokus kerjasama hotel sebenarnya,” ujarnya.
Selain hotel, ia juga memiliki rencana membawa produknya masuk ke ritel modern (*)