Laporan Wartawan TribunSolo.com, Hanang Yuwono
TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Di sudut barat daya Kota Solo, tepatnya di Desa Trangsan, Gatak, Sukoharjo, Jawa Tengah, suara ketukan rotan dan aroma khas anyaman sudah menjadi denyut kehidupan sehari-hari warga. Desa yang dahulu dikenal sebagai kawasan pertanian biasa itu kini menjelma menjadi sentra mebel rotan yang namanya menembus pasar internasional.
Tak banyak yang menyangka, dari gang-gang kecil di desa ini lahir kursi, meja, keranjang, hingga dekorasi rumah yang menghiasi hunian di penjuru dunia.
Perjalanan Desa Trangsan menjadi “desa ekspor” tidak terjadi dalam semalam. Sejak 1927, keterampilan mengolah rotan diwariskan turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Awalnya, warga membuat kerajinan secara sederhana di teras rumah sambil tetap bertani untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Namun, perlahan rotan mengubah nasib desa.
Kini, hampir setiap rumah di Desa Trangsan memiliki aktivitas produksi mebel. Di halaman rumah, tumpukan rotan mentah siap dianyam. Di sudut lainnya, para pekerja sibuk membentuk kursi dan meja dengan teliti.
Memfasilitasi para perajin rotan, dibentuklah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Trangsan yang bernama resmi BUMDes Mata Bangsa. Bumdes ini didirikan untuk mendukung potensi Desa Wisata Rotan Trangsan, sebagai penggerak ekonomi warga dengan mengelola sektor pariwisata, layanan katering, hingga pengelolaan sampah terpadu.
Kepada TribunSolo.com, Ketua BUMDes Trangsan, Kasih Agung, memaparkan dinamika industri rotan Desa Trangsan saat ini.
"Alhamdulillah saat ini industri rotan di Trangsan masih jalan, tetapi mayoritas agak berkurang ekspornya," ucap pria yang akrab disapa Agung ini.
Ketika nilai rupiah terhadap dolar anjlok seperti saat ini, hal itu justru menjadi peluang bagi para eksportir di Desa Trangsan. Meski demikian, tidak semua perajin rotan di Trangsan mendulang 'berkah' yang sama.
"Kalau dolar tinggi, eksportir justru senang karena mereka dapat kelebihan dari kurs dolar. Tetapi kalau seperti saya ya tidak merasakan, karena tidak mengekspor secara langsung," terang Agung.
Saat ini kata dia, ada 400 perajin atau Unit Kecil Menengah (UKM) rotan di Trangsan. Namun, untuk jumlah eksportir hanya ada sekitar 25 sampai 30 saja.
Agung yang merupakan perajin rotan ini mengatakan dirinya biasa mengekspor mebel lewat agen. Biasanya mebel rotan buatannya bisa tembus ke tiga benua, Amerika, Australia, dan Eropa. Pria murah senyum ini menjelaskan kendala industri rotan saat ini yang menjadi kegelisahannya.
"Kalau saat ini tantangannya masih berupa sumber daya manusia (SDM) yang terus berkurang. Begitu pula soal regenerasi, saat ini justru banyak anak muda yang memilih bekerja di pabrik. Dulu di sini anak-anak kecil pulang sekolah belajar menganyam seperti saya, sekarang sudah tidak ada," ujarnya.
Padahal menurut Agung mebel rotan saat ini memiliki peluang bagus. Seperti dia yang memasarkan rotan hingga keluar daerah.
"Sekarang dipasarkan ke Pacitan, Wonogiri, Jepara, Purwodadi," tambahnya.
Di tengah tantangan regenerasi perajin rotan di Desa Trangsan, Bank Rakyat Indonesia (BRI) melalui mantrinya mengetuk pintu satu perajin ke perajin lainnya. Kehadiran bank berlogo biru tua ini membuat industri rotan di Trangsan kembali menggeliat.
BRI memberikan akses modal kepada perajin agar lebih produktif lewat Kredit Usaha Rakyat (KUR). Kebanyakan kredit permodalan di Trangsan memang dari BRI.
"Terutama di Trangsan ini dari BRI," kata Agung.
Tidak cuma permodalan, BRI melalui program Klasterkuhidupku juga memberikan pemberdayaan terhadap Klaster Rotan Trangsan. Pada 2024 lalu, BRI melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) BRI Peduli juga menyalurkan bantuan peralatan usaha bagi Klaster Rotan Trangsan untuk mendukung produktivitas dan pengembangan usaha.
"Itu kemarin berupa peralatan, ada beberapa unit. Mereka memberikan peralatan kepada perajin lokal yang belum memiliki peralatan memadai. BRI membantu para perajin ini untuk meningkatkan produksinya. Alat yang diberikan bisa kompresor dan straples untuk meningkatan produksi," ujar Agung.
Selain itu, sampai saat ini BRI juga menjadi sponsor utama event Grebeg Penjalin. Grebeg Penjalin merupakan acara budaya tahunan di Desa Trangsan, Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo, yang menjadi pusat perhatian karena adanya kirab gunungan rotan. Festival ini diadakan untuk merayakan dan mempromosikan potensi daerah sebagai sentra industri kerajinan rotan, sekaligus menggerakkan ekonomi UMKM
"Bantuan ke BUMDes berupa tanaman untuk penghijauan. Selain itu sampai sekarang BRI juga menjadi sponsor utama Grebeg Penjalin. Harapannya, BRI bisa selalu kerja sama dengan BUMDes Desa Trangsan. Kolaborasi tetap lanjut terus." ujarnya.
Dia juga menyampaikan harapannya terhadap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukoharjo agar membeli mebel rotan dari daerahnya sendiri, alih-alih membeli mebel dari luar Sukoharjo.
"Pemda itu sebaiknya membeli mebel rotan untuk mengisi gedung-gedung pemerintahannya. Sampai sekarang belum ada pembelian produk rotan skala besar untuk di pemda. Padahal, rotan di Trangsan sendiri sudah sampai luar negeri," pungkas Agung.
Digitalisasi perbankan turut dirasakan manfaatnya oleh Pengusaha Rotan di Desa Trangsan, Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.
Suryanto, pemilik Cv Surya Rotan Furniture mengatakan, dia sudah lama memakai produk dari bank Mandiri.
Dia mengatakan, saat ini menggunakan aplikasi perbankan di ponselnya. Menggunakan aplikasi perbankan, Suryanto mengatakan, tidak perlu lagi untuk melakukan transaksi ke bank.
Banyak yang bisa dia persingkat, seperti waktu, tak perlu repot mengeluarkan kendaraan untuk ke bank. Melalui layanan digital perbankan, Suryanto mengaku dirinya sudah bertransaksi dengan pembeli dari banyak negara.
Ada enam negara yang berhubungan dengan produksi Suryanto yakni Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Prancis, Turki dan India. Produk yang dia ekspor seperti kursi, meja, dan lain sebagainya.
BRI sendiri selain dari program CSR, sudah menghadirkan berbagai layanan perbankan untuk mendukung pelaku usaha dan eksportir menembus pasar internasional. Layanan tersebut mencakup pembiayaan ekspor, transaksi valuta asing, hingga pendampingan UMKM agar mampu bersaing di pasar global.
Dalam sektor Trade Finance, BRI menyediakan fasilitas seperti Letter of Credit (L/C), SKBDN, Documentary Collection, Export Bill Negotiation, hingga Pre-Export Financing untuk membantu kelancaran arus kas dan pembiayaan produksi eksportir.
BRI juga menawarkan layanan valuta asing melalui BritAma Valas, transfer internasional, transaksi treasury dan forex dengan kurs kompetitif, serta pengelolaan Devisa Hasil Ekspor (DHE) sesuai aturan pemerintah.
Selain itu, BRI memiliki program pemberdayaan UMKM bernama BRILIANPRENEUR yang membantu pelaku usaha memperluas pasar lewat pelatihan bisnis, pameran, dan business matching dengan buyer internasional.
Melalui layanan yang terintegrasi ini, BRI berharap dapat membantu eksportir dan UMKM Indonesia meningkatkan daya saing sekaligus memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional.
Selain itu layanan digitalisasi yang terintegrasi ini diharapkan bisa menjadi solusi bagi masalah regenerasi perajin rotan di Desa Trangsan.
Sementara itu, adanya industri rotan di Desa Trangsan membawa dampak signifikan bagi warga sekitar. Hal itu diamini oleh Ryan (34) Ketua RT 1 Jogahan, Trangsan, Gatak.
"Kehadiran industri rotan ini jelas bermanfaat bagi warga sekitar. Terutama membuka lapangan kerja," ucapnya.
Tercatat, ada puluhan warganya yang bekerja di sentra industri rotan di Trangsan. Hal itu pun cukup membantu menciptakan lapangan pekerjaan dan mengurangi angka pengangguran serta kriminalitas.
Meskipun, Ryan sendiri mengakui jika saat ini jumlah warganya yang bekerja di industri rotan Trangsan semakin berkurang saban tahunnya. Banyak anak muda yang saat ini memilih meniti karier di jalur perkantoran, pabrik, atau bisnis sendiri di luar mebel.
"Harapannya industri rotan ini tetap eksis. Karena rotan sudah menjadi ikon di desa ini. Perlu regenerasi dan sosialiasi lebih dalam tentang potensi rotan ini. Bisa menggandeng perbankan atau pemda setempat," ungkapnya.
Dia pun mengapresiasi peran BRI dalam memajukan industri rotan di Trangsan. Mulai dari permodalan, program CSR, hingga sponsor utama event.
"Jelas lebih baik jika perajin mengambil modal dari BRI. Daripada mereka terjerat pinjol atau bank plecit untuk permodalan," tutupnya. (*)