TRIBUNNEWS.COM - Amerika Serikat menghabiskan lebih dari 200 rudal pencegat THAAD untuk membantu Israel menghadapi gelombang serangan rudal Iran selama konflik terbaru di Timur Tengah.
Laporan tersebut mencuat usai seorang pejabat Amerika Serikat mengatakan bahwa Washington menembakkan lebih dari 200 rudal pencegat THAAD untuk menghancurkan rudal-rudal Iran yang mengarah ke wilayah Israel.
Jumlah tersebut belum termasuk lebih dari 100 rudal pencegat jenis SM-3 dan SM-6 yang juga digunakan Amerika Serikat untuk memperkuat perlindungan udara sekutunya itu.
Besarnya penggunaan sistem pertahanan tersebut dipicu tingginya intensitas serangan Iran selama perang berlangsung.
Militer Iran dilaporkan meluncurkan sekitar 650 rudal balistik ke arah Israel dalam berbagai gelombang serangan.
Rudal-rudal itu menyasar wilayah permukiman, fasilitas strategis, hingga pusat infrastruktur penting di Israel.
Kondisi tersebut memaksa sistem pertahanan udara Israel dan Amerika Serikat bekerja tanpa henti untuk mencegah rudal-rudal Iran menghantam target di darat.
THAAD atau Terminal High Altitude Area Defense menjadi salah satu sistem utama yang digunakan Washington untuk menghadapi ancaman tersebut.
Sistem pertahanan canggih itu dirancang untuk menghancurkan rudal balistik di ketinggian tinggi sebelum mencapai sasaran.
Tingginya ancaman rudal Iran membuat Washington harus terus menembakkan pencegat THAAD secara berulang demi memastikan perlindungan maksimal bagi Israel.
Dalam banyak kasus, satu rudal balistik bahkan harus dihadapi menggunakan lebih dari satu pencegat untuk meningkatkan peluang penghancuran target di udara. Hal inilah yang membuat stok rudal THAAD cepat terkuras dalam waktu singkat.
Namun masalahnya rudal pencegat ini memiliki biaya produksi yang sangat mahal dan tidak dapat diproduksi dalam waktu singkat.
Setiap unit pencegat membutuhkan proses produksi rumit karena menggunakan teknologi militer canggih untuk mendeteksi, mengejar, dan menghancurkan target berkecepatan tinggi di udara.
Baca juga: Mojtaba Khamenei Pasang Badan! Uranium Iran Dilarang Keluar Negeri meski AS Mendesak
Akibatnya, stok rudal THAAD tidak mudah digantikan apabila digunakan dalam perang intensitas tinggi seperti konflik Iran dan Israel.
Situasi menjadi semakin berat karena dalam sistem pertahanan modern, satu rudal musuh sering kali harus dihadapi menggunakan dua atau lebih rudal pencegat sekaligus.
Strategi tersebut dilakukan untuk meningkatkan peluang keberhasilan intersepsi, terutama terhadap rudal balistik Iran yang memiliki kecepatan tinggi dan kemampuan manuver tertentu.
Artinya, jumlah rudal pencegat yang ditembakkan bisa jauh lebih banyak dibanding jumlah rudal yang sebenarnya diserang.
Karena itu, penggunaan lebih dari 200 rudal THAAD dalam waktu singkat langsung memicu kekhawatiran mengenai kesiapan cadangan pertahanan Amerika Serikat apabila konflik kembali meluas di kawasan Timur Tengah.
Pengamat militer menilai kondisi ini menunjukkan bahwa perang modern berbasis rudal mampu menguras persediaan senjata pertahanan negara besar dengan sangat cepat, bahkan bagi militer sekelas Amerika Serikat.
Di tengah meningkatnya ancaman serangan rudal balistik dari Iran, pemerintah Israel dilaporkan mulai mempercepat produksi sistem pencegat Arrow guna memperkuat kemampuan pertahanan udaranya.
Langkah tersebut diambil setelah perang terbaru di Timur Tengah menguras persediaan rudal pencegat Israel dan memaksa negara itu semakin bergantung pada dukungan sistem pertahanan Amerika Serikat.
Israel selama ini dikenal memiliki sistem pertahanan udara berlapis yang dirancang untuk menghadapi berbagai jenis ancaman, mulai dari roket jarak pendek hingga rudal balistik jarak jauh.
Dalam sistem tersebut, lapisan pertahanan paling atas diperkuat oleh Arrow 2 dan Arrow 3 yang dikembangkan khusus untuk menghancurkan rudal balistik sebelum mencapai wilayah target.
Arrow 2 dirancang untuk melakukan intersepsi di dalam maupun luar atmosfer bumi, sementara Arrow 3 memiliki kemampuan mencegat rudal pada ketinggian lebih tinggi di luar atmosfer.
Kemampuan tersebut membuat sistem Arrow menjadi salah satu elemen terpenting dalam pertahanan strategis Israel menghadapi ancaman dari Iran.
Namun penggunaan intensif selama perang membuat kebutuhan produksi rudal pencegat meningkat tajam.
Satu unit rudal Arrow 3 diperkirakan memiliki biaya produksi antara 2 hingga 3 juta dolar Amerika Serikat.
Selain mahal, proses produksi sistem ini juga membutuhkan waktu cukup lama karena menggunakan teknologi militer tingkat tinggi dan komponen khusus yang tidak bisa diproduksi secara cepat.
Kondisi itu menimbulkan kekhawatiran bahwa perang berkepanjangan dapat memberikan tekanan besar terhadap stok pertahanan udara Israel maupun Amerika Serikat.
Pengamat militer menilai konflik modern berbasis rudal seperti yang terjadi antara Iran dan Israel mampu menguras persediaan sistem pertahanan dalam waktu singkat, terutama ketika serangan dilakukan secara masif dan berulang.
Situasi tersebut juga memperlihatkan bahwa pertahanan udara kini menjadi salah satu faktor paling krusial dalam konflik Timur Tengah, seiring meningkatnya kemampuan rudal balistik dan serangan jarak jauh di kawasan tersebut.
(Tribunnews.com / Namira)