Menkeu: BPKP dan Kejagung Telusuri 10 Perusahaan Sawit Pelaku Manipulasi Data Ekspor
Choirul Arifin May 22, 2026 09:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dan Kejaksaan Agung bergerak menindaklanjuti dugaan manipulasi ekspor oleh 10 perusahaan sawit atau CPO.

"Sudah, BPKP dan Kejagung sudah bergerak, saya masih nunggu laporan dari mereka, udah berapa bulan gitu. Jadi itu merupakan titik awal mereka masuk," kata Purbaya di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (22/5/2026).

Purbaya meyakini praktik manipulasi nilai ekspor banyak terjadi seperti diduga dilakukan oleh 10 perusahaan sawit tersebut. Ia akan menanyakan hasil penelusuran dari dua lembaga tersebut pada pekan depan.

"Tapi yang jelas clearsekali emang ada manipulasi harga, itu under-invoicing apa? kalau saya bilang sih penyelundupan lah kira-kira gitu, walaupun namanya keren under-invoicing dan lain-lain, tapi basically nipu,” katanya.

Saat ditanya mengenai nama nama perusahaan yang diduga melakukan manipulasi, Purbaya masih enggan mengungkapkannya. Namun yang pasti kata dia, selain perusahaan di sektor sawit, ada juga praktik serupa di sektor batubara.

"Ini yang CPO aja. Yang batu bara juga ada penemuan menarik nanti juga kita akan diskusi sama BPKP sama Kejaksaan," pungkas Purbaya.

Sebelumnya Presiden Prabowo Subianto mengundang sejumlah menteri makan siang di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis, (21/5/2026). Salah satunya yakni Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

Purbaya mengatakan dalam undangan makan siang tersebut dirinya membawa beberapa laporan diantaranya daftar perusahaan sawit nakal. Daftar perusahaan terebut tersimpan dalam map yang ditenteng Purbaya begitu turun dari mobil menuju Istana.

Baca juga: Menkeu Purbaya Sentil Manipulasi Data Ekspor: Dulu Dimainkan Pemilik, Sekarang Enggak Bisa

"Ini jaga jaga aja kalau biar kalau ditanya bisa jawab. Ini ada beberapa catatan perusahaan CPO yang mana yang lakukan manipulasi harga. Jadi kalau ditanya (Presiden) saya akan jawab," kata Purbaya.

Purbaya lalu menunjukkan berkas yang berisi grafik angka-angka. Purbaya menyebut grafik tersebut merupakan daftar 10 perusahaan yang memanipulasi harga ekspor ke Amerika Serikat.

"Jadi ini ada 10 perusahaan besar, 3 pengapalan, masing masing perusahaan saya random pilih. Mereka kelihatan sekali melakukan manipulasi harga, ekspor ke Amerika misalnya," kata Purbaya.

Praktik manipulasi tersebut menyebabkan kerugian negara. Perusahaan perusahaan tersebut melakukan manipulasi harga dengan tingkat beragam.

"Jadi harganya di sini berapa itu cuma seperempat atau sepertiga apa yang ada di AS. Jadi income-nya rendah kan di sini jadi saya rugi banyak. Ada contohnya, nggak mau sebut perusahaannya," kata Purbaya.

Baca juga: Menkeu Purbaya Gandeng Kejaksaan Hingga BPK Usut Dugaan Manipulasi Data Ekspor

Purbaya mencontohkan salah satu perusahaan menyebut nilai ekspornya US$ 2,6 juta, padahal harga sebenarnya US$ 4,2 juta. Hal itu menyebabkan devisa negara berkurang.

"Jadi 57 persen bedanya. Ada yang lebih gila lagi ada satu perusahaan lagi di sini ekspornya US$ 1,44 juta di sana US$ 4 jutaan berubah harga 200 persen," kata Purbaya.

Daftar perusahaan nakal yang manipulasi harga tersebut baru pada sektor CPO. Purbaya mengatakan praktik manipulasi juga terjadi pada sektor batubara.

"Kita mau detensi kapal per kapal jadi itu yang saya laporin kalau ditanya, kalau nggak ya nggak usah. Ini 10 besar. Ini baru CPO nanti ada batu bara juga," pungkas Purbaya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.