Tak Sekadar Berwirausaha, UMKM Dbroo Kitchen Temani Siswa TK hingga Mahasiswa Berkarya
Febri Prasetyo May 27, 2026 03:38 AM

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Chrysnha Pradipha

TRIBUNNEWS.COM - Rumah produksi UMKM kuliner lokal Dbroo Kitchen pagi itu tak seperti biasanya. Suasana yang sehari-hari dipenuhi aktivitas produksi camilan mendadak berubah ramai.

Tawa anak-anak terdengar bersahutan di sela menggulung adonan bekatul egg roll yang baru diberikan. Dengan celemek kecil yang menggantung di leher, mereka sibuk membuat adonan untuk kemudian menuang topping hingga memperhatikan instruksi dengan wajah antusias.

"Ini benar tidak bu seperti ini?" tanya seorang anak sembari menunjukkan adonan.

"Kalau begini gimana?" tanya seorang anak lainnya di bagian ujung barisan.

Mereka adalah anak-anak TK yang tengah belajar menjadi “karyawan magang” dalam sesi cooking class Dbroo Kitchen.

Sang pemilik UMKM Dbroo Kitchen, Yuliani Setiawati  seketika menghampiri meja anak-anak yang mulai kesulitan menggulung adonan egg roll.

Perempuan yang sebelumnya bekerja sebagai pegawai bank itu tampak sabar mendampingi peserta satu per satu.

Yulia mengaku kegiatan cooking class awalnya hanya selingan. Namun lama-lama justru menjadi aktivitas yang paling ia tunggu.

Dari situ, ia mulai membuka kesempatan bagi anak-anak untuk belajar langsung di tempat produksinya yang beralamat di Karangasem, Laweyan, Kota Solo.

Tak hanya anak TK, Dbroo Kitchen juga kerap didatangi pelajar dan mahasiswa untuk magang, penelitian, maupun mengerjakan tugas kuliah.

Baca juga: Mendag Budi Sebut Mayoritas UMKM Tak Tahu Cara Cari Pembeli di Luar Negeri

Sejak 2022, mahasiswa dari Universitas Sebelas Maret, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Universitas Dian Nuswantoro hingga Universitas Veteran Bangun Nusantara datang silih berganti ke tempat usahanya.

Di sela produksi harian, Yulia tetap harus membagi waktu mendampingi peserta cooking class maupun mahasiswa magang.

“Saya cuma bisa membagi pengalaman dan sedikit ilmu yang saya punya. Semoga bisa membantu adik-adik mengerjakan tugas,” katanya, Jumat (15/5/2026).

Saat mendampingi mahasiswa program Wirausaha Merdeka atau WMK, para peserta sudah datang membawa prototype produk masing-masing. Yulia membantu mereka mulai dari membeli bahan baku, proses produksi, sampai pemasaran.

Menurutnya, pendekatan yang santai membuat mahasiswa maupun anak-anak lebih cepat akrab.

“Anak-anak sekarang pintar-pintar. Dikasih tahu sedikit langsung kerja. Lebih ke pendekatan sebagai teman supaya tidak canggung,” ujarnya.

Dari kegiatan itu, usahanya justru makin dikenal dari mulut ke mulut. Beberapa mahasiswa bahkan memesan snack untuk kebutuhan kampus.

Perjalanan Yulia membangun usaha bermula setelah ia berhenti bekerja pada 2019.

Awalnya ia berjualan donat rumahan yang dititipkan di angkringan dan lapak susu segar.

Persaingan usaha membuatnya belajar soal kualitas produk dan kemasan.

Hingga akhirnya pada 2020, ia mulai mengenal potensi bekatul setelah bergabung dengan komunitas UMKM dan Rumah BUMN Solo.

Dari bahan yang kerap dianggap limbah penggilingan padi itu, Yulia mencoba membuat brownies, donat, hingga egg roll. Dari situlah lahir produk andalannya, Bekroll atau bekatul egg roll.

Tak disangka, camilan berbahan bekatul tersebut justru menjadi produk yang paling banyak menarik perhatian.

Pengetahuan yang diperoleh selama pendampingan menjadi bekal saat mengikuti proses kurasi UMKM EXPO(RT) BRILIANPRENEUR.

Yulia mengaku sempat tidak percaya diri karena peserta yang mendaftar berasal dari berbagai daerah dengan produk unggulan masing-masing.

Namun kesempatan itu akhirnya datang. Bahkan, Yulia sudah dua kali mengikuti program expo UMKM yang mempertemukannya dengan calon pembeli dan jaringan pasar lebih luas.

“Alhamdulillah bisa menambah jaringan pemasaran dan buyer,” katanya.

Selama pameran berlangsung, stan kecil milik Yulia ramai didatangi pengunjung. Sejumlah calon pembeli asing bahkan mulai membuka pembicaraan untuk kemungkinan kerja sama.

Meski begitu, Yulia sadar perjalanan usaha masih panjang.

Keinginan menembus pasar ekspor dalam skala besar hingga kini masih terkendala proses perizinan Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP), standar keamanan pangan yang dibutuhkan untuk memperluas pasar internasional.

Menurut Yulia, proses pengurusan sertifikasi tersebut membutuhkan biaya cukup besar bagi pelaku usaha kecil.

Namun ia memilih tetap melangkah pelan-pelan sambil memperkuat kualitas usaha.

Bagi Yulia, langkah kecil itu sudah menjadi kemajuan besar.

Ia ingin menunjukkan bahwa bahan pangan sederhana yang sering dipandang sebelah mata tetap bisa memiliki nilai lebih jika diolah secara serius.

“Kalau produk lokal lain bisa dikenal di luar negeri, kenapa kita tidak mencoba juga,” ujarnya.

Kini ia juga mengembangkan varian baru berupa egg roll abon berbahan tepung mocaf bebas gluten.

Yulia mengaku senang karena dapur produksinya sekarang bukan hanya dipakai jualan, tetapi juga jadi tempat belajar banyak orang.

Ke depan, Yulia berharap semakin banyak pelaku UMKM kecil mendapat kesempatan mengikuti pameran dan program pendampingan seperti yang selama ini ia rasakan.

Ia juga berharap produk UMKM lokal semakin sering dilibatkan dalam berbagai kegiatan resmi, baik tingkat daerah maupun nasional.

“Harapannya semoga produk UMKM seperti kami bisa lebih sering diajak ikut pameran, dilibatkan di event-event, bahkan jadi souvenir atau isi goodie bag tamu dinas,” katanya.

Rumah BUMN Bantu UMKM

Koordinator Rumah BUMN Solo, Condro Rina, menyatakan bahwa pihaknya menjadi wadah agar UMKM bisa berkembang dan naik kelas.

“Kami memberikan pelatihan, pendampingan, dan inkubasi bisnis agar UMKM bisa mandiri dan mampu menjawab tantangan zaman,” ujar Condro pada Minggu (10/5/2026).

Sejumlah produk UMKM binaan Rumah BUMN Solo terpajang di lobi Hotel Ibis Style Solo.
Sejumlah produk UMKM binaan Rumah BUMN Solo terpajang di lobi Hotel Ibis Style Solo. (Tribunnews.com)

Program yang ditawarkan mencakup berbagai pelatihan tematik, termasuk pelatihan berbasis momen seperti workshop takjil saat bulan Ramadan.

Contoh produk yang dibuat dalam workshop tersebut antara lain es kuwut, mochi, dan kue bawang dengan modal kurang dari Rp50.000.

Seluruh program pelatihan di Rumah BUMN Solo disediakan secara gratis bagi para peserta.

Hingga kini terdapat sekitar 85.157  UMKM yang terdaftar pada rumahbumn.id.

Dari jumlah tersebut, sekitar 300 UMKM aktif dalam grup komunikasi daring Solo Raya.

Jumlah mitra terus meningkat dari tahun ke tahun, meskipun sempat menurun saat pandemi COVID-19.

Pasca pandemi, muncul banyak UMKM baru dari kalangan produktif, seperti mahasiswa dan lulusan baru.

Kriteria utama untuk menjadi mitra adalah memiliki semangat wirausaha, baik yang sudah punya usaha maupun yang baru ingin memulai.

Rumah BUMN Solo juga berperan dalam peningkatan daya saing dan akses pasar bagi UMKM.

Mereka menggandeng platform digital seperti Shopee dan Tokopedia untuk mendukung pemasaran daring.

Pelatihan yang diberikan mencakup public speaking, konten digital, dan editing video untuk menunjang promosi.

“Dengan pelatihan ini, UMKM bisa tampil beda dan punya ciri khas produk yang kuat,” kata Condro.

Produk mitra binaan juga sering diikutsertakan dalam pameran dan bazar, termasuk saat ada kunjungan direksi BRI atau pejabat kementerian.

Beberapa produk unggulan bahkan sudah berhasil menembus pasar ekspor seperti ke Kanada.

Kolaborasi menjadi prinsip utama dalam kerja Rumah BUMN Solo, sesuai arahan Kementerian BUMN.

Selain itu, Rumah BUMN Solo juga mendukung program tahunan BRI seperti BRI UMKM Ekspor yang mempertemukan pelaku usaha dan calon buyer dari luar negeri.

Tantangan terbesar yang dihadapi adalah membangun kesadaran UMKM tentang pentingnya peningkatan keterampilan usaha.

Condro menilai, pelatihan harus dikemas menarik agar UMKM tertarik belajar dan meningkatkan kapasitas mereka.

“Kami tidak ingin usaha mereka sekadar untung sesaat, tapi bisa bertahan bahkan sampai ke generasi berikutnya,” tambahnya.

Ke depan, Rumah BUMN Solo berkomitmen untuk terus memberikan dukungan berupa ilmu, keterampilan, dan akses jejaring bisnis bagi para UMKM.

Keberadaan Rumah BUMN Solo membawa manfaat bagi ribuan UMKM, juga menjadi rumah kedua para pelaku usahanya.

Di antaranya yang berhasil mengembangkan sayap adalah UMKM Lintang Kejora milik Rina Sulistyaningsih asar Kampung Baru hingga Sangkar Burung Eank Solo milik Eko Allif Muryanto asal Mojosongo yang telah mengirim produknya hingga ke Belgia.

Masih banyak lagi UMKM binaan Rumah BUMN Solo yang telah mandiri dan menjadi inspirasi UMKM lainnya di Solo Raya.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.