Jemaah Haji Lampung Masuki Tenda Mina, Mulai Lontar 3 Jumrah di Hari Tasyrrik
Robertus Didik Budiawan Cahyono May 28, 2026 06:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Gelombang jemaah haji asal Provinsi Lampung kini telah sepenuhnya memasuki tenda-tenda pemondokan di Mina dan mulai bergerak secara bergelombang menuju area Jamarat.

Dari lokasi pemondokan, para jemaah harus berjalan kaki 5 kilometer untuk melaksanakan rangkaian ibadah lontar jumrah.

Ritual ini merupakan wajib haji berupa melempar batu kerikil ke tugu batu sebagai simbol perdana perlawanan terhadap godaan setan sekaligus napak tilas keteguhan iman Nabi Ibrahim AS.

Ketua Kloter JKG 19 (Tanggamus, Pesawaran, Pesisir Barat), Tri Idayana, memaparkan, rombongan yang ia pimpin telah memulai tahapan awal di Mina pada Rabu (27/5/2026) atau 10 Zulhijah kemarin.

Di mana, sebanyak 441 jemaah yang tergabung dalam Kloter JKG 19 telah melaksanakan Lontar Jumrah Aqabah.

Baca juga: Menuju Wukuf di Arafah, Jemaah Haji Lampung Persiapkan Batin dan Fisik

Ritual tersebut merupakan wajib haji berupa melempar batu kerikil ke tugu batu sebagai simbol perdana perlawanan terhadap godaan setan sekaligus napak tilas keteguhan iman Nabi Ibrahim AS.

Tri menceritakan, pelaksanaan ibadah ini menguras energi yang cukup besar karena jemaah harus jarak berjalan kaki dari tenda Mina ke lokasi Jamarat mencapai lebih kurang 2,5 kilometer.

"Dari tenda ke lokasi Jamarat jaraknya sekitar 2,55 Kilometer, sehingga perjalanan pergi-pulang menempuh total jarak 5 kilometer," Kata Tri Idayana dari Mina, Kamis (28/5/2026).

Demi keselamatan jiwa jemaah, waktu pelontaran kemarin sengaja dipecah ke dalam beberapa sesi dari pukul 03.00 s.d 18.00 Waktu Arab Saudi (WAS).

"Hal ini karena ada jam larangan meninggalkan tenda dari pukul 10.00 sampai 15.00 WAS dari Pemerintah Arab Saudi, untuk menghindari paparan cuaca panas ekstrem," jelas Tri.

Di mana, kindisi cuaca ekstreme di Tanah Suci dapat mencapai suhu maksimal 48 derajat celcius pada siang hari.

Setelah menuntaskan lempar Jumrah Aqabah kemarin, jemaah JKG 19 langsung mengambil tahapan berikutnya, yaitu melaksanakan Tahalul Awal dengan mencukur rambut.

Dengan begitu, sebagian besar larangan ihram gugur sehingga jemaah dapat melepas kain ihram dan menggantinya dengan pakaian biasa.

Berlanjut pada hari ini, Kamis (28/5/2026) atau 11 Zulhijah 1447 Hijriah, jemaah secara runtut resmi memasuki Hari Tasyrik, yaitu hari-hari setelah Iduladha yang dikhususkan untuk menetap dan berzikir di Mina. 

Pada fase ini, kewajiban jemaah meningkat karena harus melakukan Lontar Jumrah ke tiga tugu batu sekaligus secara berurutan (yakni Junrah Ula, Jumrah Wustha, dan Jumrah Aqaba.

Jumrah Ula atau Sughra, merupaka tugu pertama atau terkecil yang posisinya paling dekat dengan arah tenda Mina. Ini melambangkan godaan setan kepada Nabi Ibrahim AS agar mengurungkan niat menuruti perintah Allah. Jemaah melontarnya dengan 7 butir kerikil.

Tugu kedua atau pertengahan dinamakan Jumrah Wustha, melambangkan godaan setan kepada Siti Hajar yang berusaha memicu keraguan seorang ibu. Tugu ini juga dilontar menggunakan 7 butir kerikil.

 Ketiga adalah Jumrah Aqabah (Kubra), yakni tugu ketiga atau terbesar, melambangkan godaan setan kepada Nabi Ismail AS agar memberontak kepada ayahnya. Jemaah menutup rangkaian jumrah dengan melontar 7 butir kerikil terakhir ke tugu ini.

Mengenai kondisi pemutakhiran pergerakan pada tahapan hari ini, Tri Idayana mengonfirmasi bahwa jemaah sudah bergerak maju sejak dini hari tadi. 

"Pelaksanaan lempar jumrah untuk JKG 19 hari Kamis ini dimulai sejak pukul 02.30 WAS sampai selesai, dan saat ini sedang berlangsung yang dibagi ke dalam beberapa sesi rombongan," ujarnya.

Tri menyebut situasi di lapangan hari ini berjalan jauh lebih kondusif lantaran telah memasuki hari tasyrik dengan jadwal lebih teratue ketimbamg pada 10 Dulhijjah kemarin.

 "Pelaksanaan lontar jumrah hari ini alhamdulillah terpantau lebih tertib dan lancar," pungkasnya. 

(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.