Laporan : Kiki Andriana
TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang mencatat 62 kasus kematian bayi di wilayahnya sejak Januari hingga April 2026.
Terbaru, bayi perempuan pasangan Rosita (39) dan Ujang Mulyana (40), yang sudah masuk usia kandungan 9 bulan meninggal dunia di dalam rahim sang ibu saat persalinan di Puskesmas Darmaraja, Jumat (22/5/2026) pagi.
Sebelumnya, Rosita (39), ibu hamil warga Dusun Kaum RT02/05, Desa Darmaraja, Kecamatan Darmaraja, Kabupaten Sumedang, yang bayinya meninggal di dalam kandungan dirujuk operasi caesar dari Puskesmas Darmaraja ke RS Pakuwon Sumedang, namun rujukan Puskesmas ditolak oleh pihak rumah sakit pada Rabu (13/5/2026).
Dugaan penolakan rujukan pasien BPJS PBI (Penerima Bantuan Iuran) oleh Rumah Sakit swasta ini terjadi pada Rabu (13/5/2026).
Baca juga: Update Kasus Kematian Anak NS di Sukabumi:Polisi Temukan Indikasi Kekerasan Berulang Sejak 2024
Pihak rumah sakit beralasan dokter kandungan tengah menunaikan ibadah haji, dan bayi yang didalam kandungan sang ibu pun disebut belum siap dilahirkan, dan belum cukup berat badan.
"Untuk kematian bayi hingga April 2026 tercatat 62 kasus, sedangkan tahun 2025 tercatat 173 kasus. Angka kematian ibu (AKI) hingga April 2026 ada 3 kasus, atau menurun jika dibandingkan tahun sebelumnya tercatat 14 kasus," kata Dikdik Sadikin, Kepala Dinas Kesehatan Sumedang kepada Tribun Jabar.id, Kamis (28/5/2026).
Dikdik mengatakan, angka kematian bayi saat proses persalinan mayoritas disebabkan oleh beberapa faktor.
"Mayoritas akibat berat badan bayi rendah (BBLR), gangguan pernapasan, dan infeksi," ujarnya.
Ia menyebutkan, angka kematian ibu dan bayi di kabupaten yang dipimpin Dony Ahmad Munir ini terus mengalami penurunan dalam tiga tahun terakhir.
"Mudah-mudahan terus menurun," ucapnya.
Meski terus terjadi penurunan, kata Dikdk, tidak serta merta berpuas diri. Usaha penurunan angka kematian ibu dan bayi di Sumedang terus digencarkan.
Menurutnya, sejumlah upaya dilakukan dalam pencegahan melalui pendekatan promotif, preventif, kuratif, kolaboratif lintas sektor, sosialisai, dan edukasi terhadap masyarakat.
"Peningkatkan pelayanan kesehatan, pemeriksaan kehamilan (ANC) secara rutin dan terpadu, deteksi dini kehamilan risiko tinggi, pemantauan bayi baru lahir dan balita secara berkala melalui Posyandu dan Puskesmas, dan pemberian imunisasi lengkap dan pemantauan tumbuh kembang anak," ujarnya.
Baca juga: Kasus Bayi Meninggal Diduga Ditolak RS Pakuwon, Wakil Ketua DPRD Sumedang Minta SOP Dicek
Dikdik juga menyebutkan, Dinkes Sumedang telah meluncurkan Aplikasi SICAKEP, untuk mempercepat pemantauan ibu hamil risiko tinggi dan penanganan persalinan.
"Kemudian penguatan layanan kesehatan primer di seluruh Puskesmas agar pelayanan ibu dan anak lebih cepat, terintegrasi, dan mudah diakses masyarakat," kata Dikdik.