TRIBUNNEWS.COM - Setelah hampir 88 hari atau sekitar tiga bulan hidup dalam isolasi digital, warga Iran akhirnya kembali bisa mengakses internet meski masih dalam kondisi terbatas.
Pemulihan koneksi internet tersebut langsung memicu ledakan aktivitas di media sosial pada Kamis (28/5/2026).
Ribuan pesan yang tertunda, foto-foto lama, video perang, hingga curahan emosi warga yang selama berbulan-bulan terputus dari dunia luar mulai membanjiri platform digital.
Ellie, seorang seniman asal Teheran, mengaku dirinya dan sang suami langsung menangis ketika akhirnya bisa kembali mendengarkan musik dan mengakses dunia luar setelah berbulan-bulan hidup dalam keterisolasian digital.
Ia menggambarkan momen tersebut sebagai “secercah kebebasan” di tengah situasi Iran yang masih penuh ketidakpastian.
Meski begitu, tidak semua warga memiliki perasaan yang sama. Maryam, seorang fotografer di Teheran, justru mengaku muak melihat sebagian pihak merayakan pemulihan internet tersebut.
Menurutnya, akses internet adalah hak dasar warga negara dan bukan sesuatu yang pantas dipuji ketika akhirnya dikembalikan oleh pemerintah.
Maryam mengatakan kondisi internet di Iran saat ini juga masih jauh dari normal. Internet seluler disebut masih sulit digunakan dan sejumlah aplikasi komunikasi belum dapat berjalan dengan baik.
“WhatsApp hampir tidak bisa dipakai. Hanya VPN yang sedikit lebih mudah tersambung,” ujarnya sebagaimana dikutip dari The Guardian.
Keluhan serupa juga datang dari Amin, seorang profesor di Teheran. Ia mengatakan media sosialnya kini dipenuhi video para ibu yang menangis di makam anak-anak mereka, serta berbagai unggahan tentang korban konflik dan penderitaan warga sipil selama masa krisis.
“Hati saya terasa lebih berat dari sebelumnya,” katanya.
Menurut Amin, rakyat Iran menjadi pihak yang paling menderita dalam konflik berkepanjangan yang melibatkan tekanan politik, perang, dan pembatasan kebebasan informasi.
“Kami kehilangan pekerjaan, kehilangan anak muda, dan kehilangan kepercayaan terhadap dunia internasional,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari The Guardian.
Baca juga: Tujuh Senjata yang Disebut Bisa Menenggelamkan Kapal Induk USS Abraham Lincoln: Iran Bisa Punya?
Selain unggahan tentang kesedihan dan kehilangan, humor khas masyarakat Iran juga mulai bermunculan kembali di berbagai platform digital.
Namun, humor tersebut tidak hadir sebagai hiburan biasa. Sebagian besar unggahan justru dipenuhi sindiran tajam, kemarahan, dan kritik terhadap situasi yang telah mereka alami selama hampir tiga bulan hidup dalam isolasi digital.
Banyak warga menggunakan candaan satir untuk meluapkan rasa frustrasi terhadap kondisi politik, perang, hingga tekanan ekonomi yang terus membebani kehidupan mereka.
Tak hanya kepada pemerintah Iran, kemarahan warga juga diarahkan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Pemerintah Iran pertama kali memutus akses internet secara luas pada 8 Januari 2026 sebagai bagian dari langkah pengamanan menghadapi gelombang protes antipemerintah di berbagai kota.
Situasi kemudian semakin memburuk setelah pecah konflik militer antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel pada akhir Februari.
Pemerintah Iran saat itu memperketat kontrol informasi dan membatasi akses komunikasi digital demi alasan keamanan nasional.
Akibatnya, jutaan warga Iran praktis terputus dari dunia luar. Hanya sebagian kecil masyarakat yang mampu membeli layanan VPN mahal atau menggunakan internet satelit untuk tetap terhubung.
Sementara sebagian besar warga lainnya benar-benar hidup dalam isolasi digital selama hampir tiga bulan.
Baca juga: IRGC Iran Sebut Serangan ke Pangkalan Militer AS Sebagai Peringatan Serius, Kuwait Sibuk Cegat Drone
Meski akses internet di Iran mulai pulih secara bertahap setelah hampir tiga bulan mengalami pemadaman, banyak warga justru khawatir pemerintah akan memperketat pengawasan digital terhadap masyarakat.
Kekhawatiran tersebut muncul karena sebagian warga menilai pemulihan internet bukan sepenuhnya bentuk kebebasan, melainkan bagian dari sistem kontrol baru yang memungkinkan aktivitas digital masyarakat lebih mudah dipantau aparat keamanan.
Mina, seorang demonstran muda yang sempat ditangkap saat gelombang protes pada Januari lalu, mengaku tidak percaya pemerintah benar-benar membuka akses internet secara bebas.
Menurutnya, pemerintah kemungkinan sedang menggiring masyarakat menggunakan jaringan internet yang lebih mudah diawasi melalui sistem yang oleh sebagian warga disebut sebagai “filternet”.
Ia menilai langkah tersebut dapat membuat aktivitas komunikasi, unggahan media sosial, hingga percakapan pribadi warga menjadi lebih mudah dipantau oleh otoritas keamanan Iran.
Karena itu, meski akses komunikasi mulai tersedia kembali, sebagian masyarakat Iran mengaku masih hidup dalam rasa takut dan ketidakpastian.
(Tribunnews.com / Namira)