Jubir Gerindra Sebut Kunjungan Prabowo ke Eropa untuk Perkuat Diplomasi dan Investasi
Wahyu Aji May 28, 2026 11:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Juru bicara (jubir) Partai Gerindra Sugiat Santoso, menyebut, kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke sejumlah negara Eropa merupakan langkah strategis untuk memperkuat diplomasi, investasi, serta posisi Indonesia di tengah persaingan global.

Menurut Sugiat, penilaian yang menyebut perjalanan luar negeri Presiden sebagai pemborosan anggaran merupakan cara pandang parsial yang tidak melihat kepentingan jangka panjang Indonesia.

"Indonesia tidak sekadar berkunjung. Pak Prabowo sedang mengonversi keunggulan komoditas nikel dan posisi geopolitik kita menjadi investasi nyata dan benteng keamanan sebelum jendela peluang global ini tertutup," kata Sugiat dalam keterangannya kepada wartawan, Kamis (28/5/2026).

Dia menjelaskan paradigma politik luar negeri bebas-aktif Presiden Prabowo dijalankan melalui diplomasi ofensif, yakni strategi hubungan luar negeri yang proaktif.

Sugiat mengatakan pendekatan tersebut dilakukan dengan mengambil inisiatif membangun aliansi strategis dan memperkuat posisi Indonesia dalam negosiasi internasional.

"Prabowo melangkah lebih awal sebelum didikte oleh negara lain. Dia mengambil posisi tegas dalam menyatakan kedaulatan, posisi politik, dan membela warga negaranya dengan terukur," katanya.

Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI itu menyebut ada tiga negara Eropa yang dikunjungi Presiden Prabowo pada akhir Mei 2026, yakni Prancis, Austria, dan Hungaria.

Menurut dia, Prancis memiliki kekuatan militer dan teknologi terbesar di Eropa Barat sehingga menjadi mitra strategis Indonesia dalam penguatan pertahanan dan transfer teknologi.

"Kedekatan politik yang dibangun bertahap melalui kunjungan berulang adalah syarat mutlak dalam bekerja sama dengan Macron," katanya.

Sementara Austria disebut sebagai pusat industri manufaktur presisi Eropa Tengah yang memiliki kekuatan di sektor mesin, otomotif, pengolahan logam, hingga bahan kimia.

Adapun Hungaria dinilai menjadi salah satu pusat pengembangan gigafactory baterai kendaraan listrik di Uni Eropa yang membuka peluang kerja sama hilirisasi nikel Indonesia.

Sedangkan Hungaria adalah pusat agresif pembangunan gigafactory baterai EV di Uni Eropa (tempat berkumpulnya raksasa seperti Samsung SDI dan CATL).

Dia menyebut masuk ke Hungaria berarti mengunci posisi Indonesia dalam rantai pasok baterai masa depan Eropa dari pintu yang paling terbuka.

Legislator asal Dapil Sumatra Utara (Sumut) III itu menekankan Indonesia saat ini menguasai sekitar 65 persen nikel dunia yang sangat dibutuhkan industri kendaraan listrik Eropa.

"Pak Prabowo datang ke sana bukan sebagai peminta-minta bantuan, tetapi sebagai pemilik komoditas strategis yang menentukan masa depan industri otomotif dunia," katanya.

Sugiat mengatakan dunia saat ini tengah memasuki transisi kendaraan listrik, sementara Indonesia memiliki waktu terbatas sebelum teknologi baterai beralih ke bahan non-nikel.

Sebab itu, dia menilai langkah Presiden Prabowo melakukan kunjungan maraton ke Paris, Wina, dan Budapest bertujuan mengunci peluang investasi strategis sebelum momentum tersebut berlalu.

Selain di sektor ekonomi, Sugiat juga menilai kunjungan ke Prancis penting dalam membangun kerja sama pertahanan dan akses teknologi militer.

"Kunjungan berulang ke Paris adalah cara Prabowo membangun trust tingkat tinggi dengan Presiden Macron agar Indonesia diberi akses teknologi militer yang tidak sembarang negara bisa beli," katanya.

Dia juga menegaskan bahwa diplomasi luar negeri Indonesia tetap dijalankan melalui politik bebas-aktif.

"Kunjungan ke Prancis ini bukti nyata politik Bebas-Aktif yang berwibawa. Indonesia tidak mengekor ke Amerika, tidak tunduk ke China, dan tidak takut pada tekanan NATO saat berhubungan dengan Rusia demi mengamankan pasokan minyak dan LPG murah untuk rakyat," katanya.

"Pak Prabowo sedang mempraktikkan hedging (keseimbangan geopolitik) tingkat tinggi agar Indonesia tidak bisa diabaikan oleh kekuatan dunia mana pun," timpalnya.

Sugiat menambahkan hasil diplomasi internasional tidak bisa dinilai dalam waktu singkat karena dampaknya baru akan terlihat dalam jangka panjang.

Baca juga: Presiden Prabowo Disambut PM Prancis di Istana Élysée

"Indonesia sedang dipimpin oleh seorang Patriot yang tahu persis bagaimana cara memenangkan kepentingan nasional di luar negeri. Menilai keberhasilan diplomasi internasional dari hasil beberapa minggu atau bulan adalah cara berpikir yang tidak logis," tandasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.