BANJARMASINPOST.CO.ID - Mengaku puas menghabisi nyawa teman yang selingkuhi istrinya, Idham Dermawan (35) mengaku sangat menyimpan dendam setelah membongkar perselingkuhan.
Dia mengaku merasa sakit hati setelah mengetahui istrinya menjalin hubungan gelap dengan Agmi.
Idham Dermawan mengakuinya saat diwawancarai wartawan di Polres Empat Lawang, Jumat (29/5/2026).
Diakuinya, jika dirinya kenal dan dekat dengan korban Agmi (35).
“Kenal malah dekat dia itu teman saya sudah dari lama, pernah tidur di rumah,” katanya.
Baca juga: Ketahuan Selingkuh dengan Pria Lain, Istri Sayat Leher Suami Pakai Pisau Saat Tidur, Ini Nasibnya
Ia mengaku menyesal akan perbuatannya, tetapi juga ada rasa puas hati.
“Puas hari karena tidak ada lagi rasa penasaran, tapi saya mengakui jika saya salah membunuh itu salah, tidak sengaja saya melakukan itu,” ucapnya.
Ia tewas di tengah malam saat hendak masuk ke dapur rumah Idham yang beralamat di Desa Gunung Meraksa Lama, Kecamatan Pendopo itu.
Penyebab peristiwa pembunuhan ini dilatarbelakangi oleh adanya cinta segitiga antara istri Idham Dermawan dengan Agmi.
“Puas hati karena tidak ada lagi rasa penasaran, tapi saya mengakui jika saya salah membunuh itu salah, tidak sengaja saya melakukan itu,” ucapnya.
Usai membunuh Agmi, Idham Dermawan sempat kabur.
Akan tetapi ia memilih menyerahkan diri kepada polisi setelah pihak kepolisian berhasil mendekati pihak keluarga.
Perselingkuhan masih menjadi salah satu pelanggaran terbesar dalam hubungan. Namun, bagaimana jika pelakunya bukan pasangan, melainkan teman dekat kamu sendiri?
Situasi ini kerap menimbulkan dilema. Di satu sisi, kamu mungkin tidak setuju dengan tindakan tersebut. Di sisi lain, hubungan pertemanan yang sudah lama terjalin tidak mudah untuk diputuskan begitu saja.
Tidak ada jawaban hitam-putih dalam menghadapi situasi ini. Banyak faktor yang memengaruhi keputusan seseorang untuk tetap berteman atau memilih menjauh.
Perspektif berubah saat pelaku adalah orang terdekat
Secara umum, masyarakat menganggap perselingkuhan sebagai tindakan yang salah. Namun, ketika pelakunya adalah orang yang kita kenal baik, penilaian tersebut bisa menjadi lebih kompleks.
Terapis hubungan Vienna Pharaon menjelaskan, seseorang bisa saja menjadi teman yang baik, tetapi tidak selalu menjadi pasangan yang baik.
“Orang bisa menjadi teman yang hebat, tetapi mungkin tidak begitu baik sebagai pasangan,” ungkap dia, seperti dilansir SELF Magazine, Jumat (10/4/2026).
Menurutnya, hubungan romantis memiliki dinamika yang lebih kompleks dibandingkan pertemanan, seperti ekspektasi kesetiaan, komitmen jangka panjang, hingga keterlibatan emosional yang lebih dalam.
Oleh karena itu, perilaku seseorang dalam hubungan asmara tidak selalu mencerminkan bagaimana ia bersikap dalam pertemanan.
Perselingkuhan bisa mengubah cara pandang terhadap teman
Meski demikian, tidak sedikit orang yang memilih menjauh setelah mengetahui temannya berselingkuh. Hal ini biasanya terjadi karena perubahan persepsi terhadap karakter teman tersebut.
Beberapa orang merasa sulit untuk menghormati atau mempercayai kembali temannya setelah mengetahui tindakan tersebut.
Dalam laporan SELF, seorang responden mengaku tidak lagi bisa melihat temannya dengan cara yang sama setelah mengetahui perselingkuhan yang dilakukan.
Perasaan ini wajar, karena perselingkuhan sering kali dianggap mencerminkan nilai dan integritas seseorang.
Dalam banyak kasus, bukan hanya tindakan selingkuh itu sendiri yang merusak hubungan pertemanan, melainkan pola perilaku yang terungkap setelahnya.
Misalnya sikap tidak peduli terhadap perasaan orang lain atau kecenderungan menghindari tanggung jawab.
Tidak harus memutus hubungan tapi perlu batasan
Di sisi lain, banyak orang tetap memilih mempertahankan pertemanan, terutama jika hubungan tersebut sudah terjalin lama.
Pharaon menilai, mempertahankan hubungan bukan berarti membenarkan tindakan teman.
“Saya jarang melihat seseorang langsung mengakhiri pertemanan yang sehat hanya karena perselingkuhan, setidaknya tidak tanpa memahami konteksnya terlebih dahulu,” ujarnya.
Dalam situasi ini, penting untuk menetapkan batasan yang jelas. Misalnya, kamu bisa menolak terlibat dalam kebohongan atau tidak ingin terus-menerus membahas hubungan tersebut.
Menjaga jarak emosional juga bisa menjadi cara untuk melindungi diri tanpa harus sepenuhnya memutus hubungan.
Pertanyaan penting sebelum memutuskan tetap berteman
Agar tidak terjebak dalam dilema berkepanjangan, para ahli menyarankan untuk mengevaluasi perasaan dan nilai pribadi sebelum mengambil keputusan.
Pharaon menyarankan beberapa pertanyaan reflektif, seperti:
Apakah kamu masih ingin dekat dengan orang tersebut?
Apakah kamu masih menghormatinya?
Apakah kamu merasa nyaman dan aman saat bersama mereka?
Ia juga menekankan pentingnya melihat apakah teman tersebut menunjukkan penyesalan.
“Ada orang yang benar-benar ingin memahami kesalahannya, tetapi ada juga yang terus mengulanginya karena tidak peduli,” jelasnya.
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini dapat membantu menentukan apakah hubungan tersebut masih layak dipertahankan atau justru sebaiknya diakhiri.
Pilihan ada di tangan kamu
Keputusan untuk tetap berteman atau tidak sangat bergantung pada pengalaman, nilai, dan batasan masing-masing individu.
Sebagian orang mungkin memilih menjauh demi menjaga prinsip, sementara yang lain tetap bertahan karena melihat sisi lain dari temannya. Pharaon menegaskan, tidak ada pilihan yang sepenuhnya benar atau salah.
Yang terpenting adalah kamu tetap bisa menjadi versi terbaik diri sendiri dalam hubungan tersebut.
“Kita ingin berada di sekitar orang-orang yang mendorong kita untuk berkembang, bukan yang membuat kita mengorbankan nilai yang kita pegang,” terang dia.
(Banjarmasinpost.co.id/Tribun-Medan.com)