BANJARMASINPOST.CO.ID - Meningkatnya penggunaan styrofoam dan plastik untuk penyimpanan makanan membuat sekelompok mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Banjarmasin (UMBJM) berinovasi.
Mereka melirik bahan yang banyak terdapat di Kalimantan Selatan yakni pelepah nipah.
Bahan yang kerap dianggap biasa itu mereka olah menjadi kemasan ramah lingkungan.
Lewat inovasi tersebut, Tim Seabuku UMBJM berhasil meraih pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Kewirausahaan (PKM-K) dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) tahun 2026.
Baca juga: Inovasi Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Banjarmasin, Ubah Bonggol Jagung Jadi Pasir KucinG
Inovasi yang mereka usung berjudul “Kemasan Ramah Lingkungan Berbasis Pelepah Nipah dan Daun Sirsak Berteknologi Kompresi Serat Selulosa untuk Penyimpanan Hasil Perikanan Segar.”
Ketua Tim Seabuku, Siti Saidah Nur Rahmah mengatakan, inovasi tersebut berawal dari keresahan mereka terhadap tingginya penggunaan plastik dan styrofoam untuk penyimpanan.
“Padahal di daerah kita sebenarnya banyak potensi lokal yang dekat dengan kehidupan masyarakat, salah satunya nipah,” ujar Siti di Banjarmasin, Jumat (29/5/2026).
Tak hanya pelepah nipah, mereka juga memanfaatkan daun sirsak yang dinilai memiliki kandungan alami untuk membantu menjaga kualitas bahan pangan.
Kedua bahan tersebut kemudian dikombinasikan menggunakan teknologi kompresi serat selulosa menjadi kemasan alternatif pengganti styrofoam.
Menurut Siti, pencemaran akibat limbah plastik jadi satu persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat pesisir maupun sektor perikanan di Banua.
Di balik keberhasilan tersebut, proses yang dilalui tim ternyata tidak singkat.
Tim yang dibimbing dosen pendamping Yulianita Pratiwi Lestari itu harus melewati berbagai revisi proposal, diskusi panjang, hingga membagi waktu di tengah aktivitas kuliah.
Menjelang tenggat pengumpulan proposal, begadang menjadi hal yang nyaris tak terhindarkan bagi anggota tim.
“Jujur hampir semua anggota tim pernah panik, apalagi saat mendekati deadline. Kadang sampai begadang buat revisi dan menyempurnakan proposal,” tutur Siti.
DIa menyebut, momen paling berkesan adalah saat pengumuman pendanaan diumumkan oleh Kemendiktisaintek.
Bagi mereka, keberhasilan tersebut bukan hanya soal lolos pendanaan nasional, tapi juga jadi bentuk apresiasi atas proses panjang yang telah mereka jalani bersama.
Selain Siti sebagai Chief Executive Officer (CEO), tim tersebut juga diisi Maulida Zahra sebagai Chief Finance Officer (CFO), Nur Putri Zahra selaku Chief Product Officer (CPO), Muhammad Anta Muzzakir sebagai Chief Marketing Officer (CMO), serta M Syauqi Abiyyu Khairi selaku Chief Technology Officer (CTO).
Saat ini, Tim Seabuku bersiap merealisasikan produk sekaligus melakukan pengembangan lebih lanjut inovasi tersebut. Mereka bahkan menargetkan soft launching produk dapat dilakukan pada Juni mendatang.
Tim tersebut juga berharap inovasi berbasis potensi lokal Banua itu nantinya bisa melangkah hingga Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) Ke-39.
(Banjarmasinpot.co.id/Rifki Soelaiman)