SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Aksi kejahatan jalanan yang menyasar anak-anak di bawah umur kembali marak dan meresahkan warga Kota Surabaya.
Kali ini, sebuah video rekaman CCTV yang memperlihatkan detik-detik seorang bocah berusia 10 tahun dijambret hingga terjungkal dari sepedanya viral di media sosial.
Menanggapi insiden yang memicu trauma mendalam pada korban tersebut, aparat kepolisian dari Polsek Kenjeran langsung bergerak cepat mendatangi lokasi kejadian guna menggelar penyelidikan.
Dalam video CCTV yang viral di media sosial, merekam kejadian tersebut, pelaku adalah seorang pemotor misterius.
Insiden terjadi saat korban sedang dibonceng oleh temannya menaiki sepeda motor listrik di Jalan Kendinding Lor Gang Kemuning I, Kenjeran, Surabaya, pada Kamis (28/5/2026) malam sekitar pukul 19.00 WIB.
Pelaku tampak beraksi sendirian dan secara senyap membuntuti korban dari sisi belakang.
Ketika situasi dinilai aman, pemotor misterius itu langsung menjulurkan tangan kirinya untuk menggapai ponsel yang dipegang korban, lalu menariknya dalam satu kali hentakan keras.
Baca juga: Komplotan Bapak-Bapak di Sawahan Surabaya Jambret Kalung Emas Rp7 Juta, Ditarik dari Leher
Akibat tarikan paksa tersebut, korban langsung jatuh terjungkal dari bangku boncengan sepeda motor listriknya.
Menurut penuturan ayahanda korban, Aspar (63), anaknya tersebut kembali pulang ke rumah pasca-kejadian dengan kondisi menangis histeris, terluka, sekaligus mengalami syok berat.
Lutut kaki kanan sang anak mengalami luka lecet akibat terjatuh setelah ditarik paksa oleh pelaku yang merampas ponselnya.
Beruntung, luka fisik tersebut tidak terlalu parah, sehingga kini sang anak sudah bisa kembali berjalan, bahkan mulai bermain lagi dengan teman-teman di dekat rumahnya.
"Pas pulang ke rumah ya nangis mas, saya juga kaget. Sampai nggregesi (demam) badannya. Anak saya sempat jatuh, ada luka di lututnya. Tapi enggak sampai parah, masih bisa beraktivitas," ujarnya saat ditemui di lokasi kejadian pada Jumat (29/5/2026).
Aspar menduga kuat, pelaku memang sudah mengincar ponsel Redmi Note 9 senilai kisaran Rp2-3 juta yang dibawa anaknya sejak awal.
Bahkan, dari analisisnya, si pelaku sempat sengaja menunggu di pinggir jalan sebelum mengesekusi korbannya.
Begitu melihat targetnya melintas dibonceng sepeda listrik oleh temannya, pelaku langsung bergerak memutar balik arah motornya untuk merampas ponsel tersebut.
"Anak saya mau beli seblak, sama temannya, sudah dibuntuti dari belakang. Orangnya sudah lewat, tapi putar balik, dan mengambil ponsel anak saya. Korban dibonceng naik sepeda listrik," katanya.
Mengenai ciri-ciri pelaku, Aspar mengaku kurang mengetahuinya secara mendetail, jika hanya mengandalkan rekaman kamera CCTV yang terpasang di gang tersebut.
Baca juga: Duel Nenek di Ponorogo Lawan Jambret Pertahankan Tas Isi Rp60 Juta, Sempat Terseret Uang Selamat
Terlebih, pelaku melancarkan aksinya dengan menyamar mengenakan helm dan jaket. Namun, ia bisa memastikan sarana kendaraan yang dikendarai oleh pelaku adalah sepeda motor Honda Beat.
"Pelaku jalan dulu, menanti anak saya keluar. Baru putar balik. Kemungkinan sudah dibuntuti. Saya dan warga sini engga ada yang tahu. Dia pakai helm," jelasnya.
Guna mengantisipasi agar peristiwa serupa tidak terulang kembali di kemudian hari, Aspar kini meminta anaknya untuk membatasi aktivitas dan tidak terlalu sering bermain di luar rumah terlebih dahulu.
"Korban usia 10 tahun, kelas 4 SD. Dia nangis nangis. Adem panas, sempat greges. Sekarang sudah pulih. Sementara kan fokus ulangan anaknya," ungkap Aspar.
Terlepas dari kerugian materiil dan trauma yang dialami sang anak, Aspar menambahkan pihak keluarga hingga kini belum melaporkan kasus tersebut secara resmi ke markas Kepolisian setempat.
Aspar memilih untuk legawa sembari meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas buah hatinya di lingkungan sekitar rumah.
Meski begitu, Aspar sangat berharap pihak Kepolisian dapat senantiasa meningkatkan intensitas patroli wilayah guna mempersempit ruang gerak aksi kejahatan jalanan di kawasan permukiman warga.
Pasalnya, aksi kriminalitas jalanan lainnya seperti pencurian kendaraan bermotor (curanmor) justru dinilai lebih marak terjadi di lingkungan tersebut.
"Saya enggak lapor, tapi berharap Polisi meningkatkan keamanan. Di sini jambret pertama kali, tapi yang sering ya curanmor di sini," pungkasnya.
Hal senada turut disampaikan oleh Ketua RT 18, Mulyadi.
Baca juga: Jambret Alhamdulillah di Surabaya Viral: Minta Tolong Dipanggilkan Polisi, Kapolrestabes Ngakak
Mulyadi membenarkan, penjambretan ponsel memang baru pertama kali terjadi di wilayahnya, namun untuk kasus pencurian sepeda motor, seingatnya selama mengemban jabatan kurun waktu hampir empat tahun terakhir, setidaknya sudah ada empat kasus yang terjadi.
"Kalau HP dirampas baru satu kali ini, tapi kalau curanmor sepanjang saya menjabat 4 tahun ini, ada 3-4 kali kasus. Belum lagi pencurian helm," kata Mulyadi saat ditemui awak media di rumahnya.
Oleh karena itu, Mulyadi menaruh harapan besar agar aparat kepolisian semakin gencar melaksanakan patroli rutin di area permukiman demi meminimalisir potensi para pelaku kejahatan dalam menargetkan warga.
"Harapan saya sering diadakan patroli, biar tidak lagi ada kejahatan di jalanan," pungkasnya.
Sementara itu, Kapolsek Kenjeran Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Kompol Yuyus Andriastanto menyatakan pihaknya tidak tinggal diam dan sudah menerjunkan anggota untuk melakukan pengecekan ke TKP.
Pihak kepolisian juga sudah mendatangi kediaman korban untuk menyarankan agar pihak keluarga segera membuat laporan polisi secara resmi guna mempermudah proses hukum.
Baca juga: Tampang 2 Jambret Asal Tajinan dan Kedungkandang Malang Ditembak Polres Tulungagung
"Personel kami sudah melakukan pengecekan di lokasi. Proses penyelidikan masih berlangsung, mohon waktu," tegas Kompol Yuyus saat dihubungi.
Sebagai informasi, aksi penjambretan di jalanan permukiman Kota Surabaya belakangan memang perlu diwaspadai.
Belum lama ini, tepatnya pada Minggu (17/5/2026) siang, aksi penjambretan kalung emas juga sempat menimpa seorang ibu rumah tangga berinisial NKS (36), warga Lidah Wetan, Lakarsantri, saat berada di Jalan Pakis Tirtosari, Pakis, Sawahan, Surabaya.
Dalam kasus tersebut, korban dieksekusi oleh empat pria misterius yang beraksi secara berkelompok dengan berboncengan menggunakan dua unit sepeda motor.