TRIBUNSORONG.COM, SORONG – Dinas Kesehatan Kota Sorong mencatat temuan 1.003 kasus Tuberkulosis (TB) sepanjang tahun 2025.
Angka ini dinilai sebagai indikator keberhasilan program penemuan kasus secara aktif yang dilakukan oleh fasilitas kesehatan bersama kader di lapangan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Sorong, Jenny Isir, menjelaskan bahwa tingginya angka tersebut menunjukkan semakin banyak penderita TB yang terdeteksi dan mendapatkan pengobatan dini. Hal ini penting untuk mencegah komplikasi dan menekan angka kematian.
"Dari sisi program, temuan 1.003 kasus TB ini adalah sebuah keberhasilan. Artinya, puskesmas, rumah sakit, klinik, dan kader kesehatan di Kota Sorong sukses menemukan kasus dan memberikan pengobatan lebih awal," ujar Jenny Isir kepada TribunSorong.com, Sabtu (30/5/2026).
Baca juga: Dinas Kesehatan Kota Sorong Perkuat Layanan Kesehatan Jiwa Gratis di Puskesmas
Menurut Jenny, pengendalian TB merupakan program nasional wajib yang sudah berjalan bertahun-tahun di seluruh fasilitas kesehatan.
Setiap warga yang mengeluhkan gejala TB, terutama batuk berkepanjangan lebih dari dua minggu, akan langsung menjalani proses skrining.
Pemeriksaan dilakukan menggunakan Tes Cepat Molekuler (TCM). Jika hasilnya positif, pasien akan segera mendapatkan pengobatan.
Pengobatan TB sendiri membutuhkan waktu sekitar enam bulan secara rutin dan teratur hingga pasien dinyatakan sembuh total.
Jenny mencontohkan dua pasien di Kelurahan Rufei yang sempat ia kunjungi dalam kegiatan monitoring.
"Satu pasien sudah menyelesaikan pengobatan enam bulan dan sembuh total. Sementara satu pasien lainnya sudah berjalan lima bulan, tinggal menyisakan satu bulan masa terapi," jelasnya.
Baca juga: Gempur Kasus TBC, Pemkab Sorong Selatan Prioritaskan Sanitasi di 5 Distrik Pesisir
Sementara itu, untuk periode Januari hingga April 2026, Dinkes Kota Sorong telah menemukan 410 kasus baru TB.
Namun, tingkat keberhasilan pengobatannya belum bisa dievaluasi karena para pasien belum melewati masa terapi enam bulan.
Jenny juga mengklarifikasi bahwa total 1.003 kasus yang tercatat tidak semuanya merupakan warga asli Kota Sorong.
Sebagai pusat layanan kesehatan di Papua Barat Daya, Kota Sorong kerap menerima pasien dari kabupaten sekitar hingga luar provinsi.
"Berdasarkan data identitas dan alamat pasien, banyak yang berasal dari luar daerah. Jadi, angka 1.003 itu bukan seluruhnya penduduk asli Kota Sorong," tambahnya.
Ia mengimbau masyarakat untuk tidak mengabaikan gejala batuk lebih dari dua minggu.
"Jangan hanya tinggal di rumah. Segera periksakan diri ke puskesmas, rumah sakit, atau klinik terdekat agar bisa ditangani sejak dini," tegas Jenny. (tribunsorong.com/ismail saleh)