Jangan Sepelekan Lemas Mendadak Usai Kurang Tidur, Bisa Jadi Gejala Stroke Ringan
GH News June 03, 2026 06:11 AM
Jakarta -

Sering menunda waktu tidur malam demi menonton serial favorit atau hanya bermain gadget setelah seharian lelah bekerja? Hati-hati, kebiasaan ini bisa memicu penyakit stroke.

Kondisi ini dikenal sebagai revenge bedtime procrastination. Tak hanya memicu rasa kantuk di keesokan hari, ini juga bisa memicu masalah pada otak serta jantung

Dokter spesialis neurologi, Dr Chandana R Gowda, memberikan peringatan keras bahwa kurang tidur kronis secara signifikan dapat meningkatkan risiko transient ischemic attack (TIA). Kondisi ini lebih sering dikenal sebagai stroke ringan.

Ketika waktu istirahat terganggu secara konsisten, tubuh akan mengalami serangkaian gangguan sistemik yang saling berkaitan. Kondisi ini menjadi karpet merah bagi penyumbatan aliran darah ke otak.

"Ketika tidur terganggu secara konsisten, tubuh mengalami peningkatan hormon stres yang terus-menerus, fluktuasi tekanan darah, peningkatan peradangan, dan regulasi metabolisme yang buruk, yang semuanya dapat meningkatkan risiko TIA dan akhirnya stroke penuh," tegas Dr Gowda, dikutip dari .

'Alarm Darurat' yang Sering Diabaikan Anak Muda

Stroke ringan atau TIA terjadi saat aliran darah ke sebagian otak terhambat secara sementara. Karena sifatnya yang temporer, gejalanya kerap menipu dan sering kali dianggap sepele oleh para profesional muda sebagai kelelahan biasa.

Beberapa gejala klinis TIA yang muncul mendadak meliputi:

  • Mati rasa atau kelemahan pada satu sisi tubuh.
  • Gangguan berbicara atau mendadak cadel.
  • Penglihatan kabur secara tiba-tiba.
  • Kebingungan singkat.

Meski gejala-gejala tersebut biasanya hilang dalam hitungan menit hingga jam, Dr Gowda mengingatkan agar tanda peringatan ini tidak boleh diabaikan begitu saja. TIA adalah 'alarm darurat' kuat yang menandakan meningkatnya risiko serangan stroke penuh yang mematikan di masa depan.

"Lingkaran Setan" Begadang, Hipertensi, hingga Diabetes

Dr Gowda menjelaskan bahwa gangguan tidur yang konsisten akan memperburuk metabolisme tubuh, dan memicu fluktuasi tekanan darah. Dalam jangka panjang, kondisi kurang tidur ini berkaitan erat dengan penyakit penyerta seperti hipertensi, obesitas, hingga diabetes.

Itu merupakan tiga faktor risiko utama penyakit jantung dan stroke.

Ironisnya, kebiasaan begadang juga kerap memicu pola hidup tidak sehat lainnya. Orang yang kurang tidur cenderung mengonsumsi lebih banyak kafein, kurang aktif bergerak di siang hari, serta hobi memilih makanan tinggi gula atau lemak pada malam hari yang memperburuk kesehatan pembuluh darah.

Untuk memutus "lingkaran setan" ini, Dr Gowda menyarankan beberapa langkah sederhana demi menjaga kesehatan kardiovaskular, seperti:

  • Menjaga jadwal tidur dan bangun secara konsisten setiap hari.
  • Mengurangi paparan layar gawai setidaknya 45 menit sebelum tidur.
  • Menghindari konsumsi kafein dan makanan berat di malam hari.
  • Rutin berolahraga dan kelola stres dengan baik.
  • Melakukan pemeriksaan tekanan darah serta kolesterol secara berkala.
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.