Po Han Tekun Kumpulkan Arsip Sejarah dari Rumah ke Rumah
M Syofri Kurniawan June 03, 2026 06:14 AM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Bermula dari hobi mengoleksi perangko, kini Ong Po Han juga aktif mengumpulkan arsip, surat kabar lama, dokumen pemerintahan, hingga berbagai benda cetak dari masa lalu.

Lewat dokumen-dokumen berharga itu, ia menilik sejarah. 

Sebelum internet memudahkan orang mencari barang koleksi hanya dengan beberapa kali klik, Po Han sudah lebih dulu berkeliling memburu jejak-jejak sejarah yang tercecer di berbagai tempat.

Dari rumah kolektor, lapak barang bekas, hingga kiriman teman dari luar negeri, semuanya menjadi bagian dari perjalanan panjang yang membentuk koleksi arsip dan filateli yang kini tersimpan di rumahnya.

Perjalanan itu bermula dari hobi mengumpulkan perangko.

Ketertarikan terhadap benda kecil yang menjadi penanda perjalanan surat tersebut perlahan membuka jalan lebih luas.

Selain perangko, founder Rumah Po Han ini juga aktif mengumpulkan arsip, surat kabar lama, dokumen pemerintahan, hingga berbagai benda cetak yang merekam kehidupan pada masanya.

"Karena saya awalnya kan (koleksi) perangko. Jadi dari perangko kan kepengen yang lain gitulah," kata Po Han kepada Tribun Jateng, Senin (1/6/2026).

Saat ini Po Han tengah menggelar pameran arsip sejarah “Dalam Cengkeraman Saudara Tua”.

Pameran berlangsung selama sepekan lebih, mulai 31 Mei hingga 7 Juni mendatang, di Rumah Po Han, Jalan Kepodang, Purwodinatan, Kecamatan Semarang Tengah. 

Pameran itu memajang koleksi yang bervariasi, mulai surat kabar, arsip, dan berbagai dokumen yang berasal dari masa awal pendudukan Jepang pada 1942. 

Puluhan tahun kemudian, koleksi Po Han tidak lagi terbatas pada filateli. Po Han menceritakan, banyak koleksinya berasal dari abad ke-19.

Di antara koleksi tertuanya terdapat surat kabar era Hindia Belanda yang kini semakin sulit ditemukan.

Namun, bagi Po Han, mengumpulkan arsip pada masa lalu memiliki cerita yang berbeda dibanding sekarang.

Ketika minat terhadap benda-benda sejarah belum sebesar saat ini, banyak orang justru tidak melihat nilai dari dokumen atau benda lama yang mereka miliki.

"Dulu kan belum ada internet. Jadi sering banget dapat barang-barang gitu. Orang nganter ke rumah," terang Po Han.

Tidak jarang koleksi datang dari sesama kolektor yang saling bertukar informasi.

Ada pula yang diperoleh melalui pembelian dari luar negeri atau dari berbagai sumber lain yang ditemui selama perjalanan mengoleksi.

Menurut Po Han, justru pada masa itu peluang mendapatkan arsip bersejarah lebih besar.

Banyak dokumen yang kini dianggap berharga dahulu masih beredar di masyarakat dan belum menjadi incaran banyak orang.

"Dulu dapatnya lebih banyak daripada sekarang. Kalau sekarang kan soalnya sudah banyak orang yang minat (pada dokumen bersejarah—Red)," ujarnya.

Dari berbagai jenis koleksi yang berhasil dikumpulkan, kata Po Han, arsip menjadi benda yang paling sulit diperoleh.

Berbeda dengan perangko yang relatif masih disimpan oleh para kolektor, arsip sering kali berakhir di tempat sampah karena dianggap tidak lagi memiliki fungsi.

Kesulitan tersebut muncul karena banyak orang tidak menyadari jika dokumen sehari-hari dapat memiliki nilai sejarah di kemudian hari.

Setelah masa pakainya selesai, dokumen biasanya langsung dibuang.

Bagi Po Han, kebiasaan menyimpan benda-benda sederhana justru menjadi fondasi lahirnya arsip sejarah.

Sesuatu yang hari ini dianggap biasa, menurutnya bisa menjadi sumber informasi penting puluhan tahun kemudian.

Po Han dan sang istri memandang arsip tidak selalu harus berupa dokumen besar atau naskah penting, tetapi juga benda-benda yang merekam kehidupan masyarakat pada suatu masa.

"Misalnya, Anda punya uang, katakanlah Rp 5.000, dan dinyatakan tidak laku, apa akan disimpan terus? Enggak yakin saya," ujarnya.

Pandangan tersebut menjadi alasan mengapa Po Han tidak hanya mengumpulkan perangko, tetapi juga surat kabar, dokumen, surat-menyurat, hingga berbagai bahan cetak lain yang dianggap mampu menjelaskan konteks sejarah secara lebih utuh.

Baginya, sejarah tidak hanya tersimpan dalam buku pelajaran, melainkan juga dalam benda-benda yang pernah digunakan masyarakat sehari-hari.

Pelajari sejarah

Pemikiran itu pula yang kemudian melatarbelakangi penyelenggaraan pameran arsip sejarah yang digagas Pengurus Daerah Perkumpulan Filatelis Indonesia (PFI) Jawa Tengah bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan RI, Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang, Pengurus Pusat PFI, dan Pohan Kultura Lestari.

Pameran tersebut menampilkan koleksi yang dikurasi khusus untuk menggambarkan kehidupan masyarakat pada masa pendudukan Jepang.

"Kalau kita nanti mau pameran lagi harus mengurasilah. Saya pilih kira-kira temanya apa nanti, saya kurasi dulu, kemudian saya pilih-pilih buku yang cocok untuk temanya itu," kata Po Han.

Melalui pameran itu, ia tidak hanya ingin memperlihatkan koleksi yang dimilikinya, tetapi juga memperkenalkan cara lain mempelajari sejarah.

Salah satunya melalui filateli yang selama ini identik dengan hobi mengoleksi perangko.

Menurut Po Han, minat generasi muda terhadap filateli terus berkurang.

Ia lantas mencoba menghadirkan filateli dalam bingkai sejarah agar lebih mudah dipahami dan relevan bagi masyarakat luas.

"Filateli itu sekarang anak-anak muda itu kan minat terhadap filatelinya kurang. Nah, kami mau mencoba untuk membangkitkan minat itu melalui filateli di dalam bingkai sejarah," ujarnya.

Baginya, filateli dan sejarah merupakan dua hal yang saling melengkapi.

Perangko, cap pos, maupun surat dapat menjadi pintu masuk untuk memahami berbagai peristiwa yang pernah terjadi.

"Jadi, melalui filateli kita juga bisa belajar sejarah. Melalui sejarah kita bisa belajar mengenai filateli," katanya.

Harapan lain yang ingin dicapainya adalah memperkaya catatan sejarah yang selama ini mungkin belum terdokumentasikan secara lengkap.

Dengan menghadirkan bukti-bukti fisik berupa arsip, surat kabar, dan koleksi lainnya, Po Han berharap, berbagai informasi yang sebelumnya tercecer dapat kembali disusun dan dicatat untuk generasi mendatang.

"Untuk menambah ya mungkin catatan-catatan yang dulunya belum tercatat ini supaya tercatat gitu dengan adanya bukti-bukti yang ada," imbuhnya. (Idayatul Rohmah)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.