Izinkan Sarwendah Klaim Rumah Cilandak, Ruben Onsu Tantang Mantan Istri Take Over Cicilan Bank: Fair
Tsaniyah Faidah June 03, 2026 02:07 PM

TRIBUNNEWSBOGOR.COM — Perselisihan antara Ruben Onsu dan Sarwendah pascaperceraian tampaknya belum menemukan titik terang.

Setelah sebelumnya mencuat persoalan akses bertemu anak-anak, kini polemik berkembang ke pembahasan aset yang dimiliki selama pernikahan.

Salah satu yang menjadi sorotan adalah rumah di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, yang disebut masuk dalam daftar harta bersama.

Perdebatan muncul setelah rumah tersebut dipilih Sarwendah sebagai bagian dari pembagian aset pascaperceraian.

Di sisi lain, rumah tersebut diketahui masih menjadi jaminan bank atas utang Ruben Onsu.

Kondisi ini membuat persoalan kepemilikan dan tanggung jawab pembayaran menjadi pembahasan baru di antara kedua belah pihak.

Pihak Ruben menegaskan tidak keberatan apabila Sarwendah ingin mengambil alih rumah tersebut sekaligus melanjutkan kewajiban cicilan yang masih berjalan.

Namun, Ruben berharap pembayaran yang selama ini telah dilakukannya juga diperhitungkan dalam proses pembagian aset.

Sebelumnya, pihak Sarwendah sempat menyebut bahwa cicilan rumah tersebut sudah tidak lagi dibayarkan oleh Ruben sejak tahun 2024.

Meski demikian, hingga saat ini rumah itu masih ditempati Sarwendah bersama anak-anak mereka.

Menanggapi hal tersebut, kuasa hukum Ruben Onsu, Minola Sebayang, mengatakan pihaknya tidak mempermasalahkan apabila Sarwendah ingin mengambil alih rumah beserta tanggung jawab yang menyertainya.

"Ya silakan saja kalau memang mau di-take over kewajibannya. Toh memang itu adalah harusnya memang harta bersama, tanggung jawab bersama. Kalau ada sisa kewajiban yang memang harus diselesaikan, dan mau di-take over dan itu menjadi bagian yang kau minta, ya enggak ada masalah," ujar Minola Sebayang pada Rabu (3/6/2026).

Menurut Minola, muncul kekhawatiran dari Ruben terkait kemungkinan adanya anggapan bahwa rumah tersebut bukan bagian dari harta bersama yang diperoleh selama pernikahan.

"Ruben sudah melihat ada gelagat khawatir rumah yang menjadi harta bersama ini diklaim adalah harta yang bukan menjadi harta bersama," tutur Minola.

Ia menilai kekhawatiran tersebut tidak lepas dari dampak yang bisa dirasakan anak-anak di kemudian hari apabila kontribusi Ruben terhadap aset tersebut tidak diketahui secara utuh.

Ruben tidak ingin anak-anaknya salah paham mengenai tanggung jawabnya sebagai seorang ayah.

"Yang akhirnya ini bisa membuat Ruben khawatir anak-anak yang ada dalam pengasuhan ibunya berpikir bahwa ayahnya enggak buat apa-apa. Ayahnya enggak memberikan apa-apa. Bahkan rumah itu pun ayahnya enggak ada andilnya," tambahnya.

Karena alasan itulah, Minola menjelaskan mengapa akhirnya muncul perhitungan mengenai dana cicilan yang selama ini telah dibayarkan oleh Ruben.

Menurutnya, jika rumah tersebut nantinya dinikmati oleh anak-anak, maka riwayat kontribusi pembayaran dari awal harus dibuka secara transparan dan adil.

"Itulah makanya muncul kita hitung-hitungan. Kalaupun memang misalnya mau diserahkan ke anak, anak harus jelas bahwa di ujung perjalanan itu Mama yang lunasin, tapi dari awal sampai pertengahan jalan Papa yang bayarkan. Fair dong," tegas Minola.

Lebih lanjut, Minola menegaskan bahwa tuntutan pengembalian dana cicilan ini baru akan diajukan jika pihak Sarwendah menutup mata terhadap andil besar Ruben selama ini.

"Tapi kalau misalnya ingin diklaim itu sepenuhnya adalah hasil jerih payahnya dia tanpa ada andilnya Ruben, wajar enggak kalau Ruben minta kembalikan uang gue?" pungkasnya.

Sumber: Tribunnews.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.