Laporan wartawan TribunJatim.com, Muhammad Nurkholis
TRIBUNJATIM.COM, TUBAN – Dalam seminggu terakhir, masyarakat Kabupaten Tuban mengalami kesulitan mendapatkan BBM jenis Bio Solar yang memicu antrean panjang di sejumlah SPBU.
Meski demikian, kondisi tersebut belum sepenuhnya berdampak pada nelayan kecil, karena sebagian besar masih dapat mengakses BBM subsidi untuk melaut.
Sebagai daerah yang berada di pesisir utara Pulau Jawa dan berbatasan langsung dengan laut, sebagian besar masyarakat Kabupaten Tuban menggantungkan hidup dari sektor kelautan dan perikanan.
Bagi nelayan, ketersediaan BBM menjadi kebutuhan vital untuk menunjang operasional saat melaut dan mencari ikan.
Meski demikian, Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Tuban, Faisol Rozi, mengatakan kondisi kelangkaan Bio Solar saat ini belum berdampak langsung terhadap sebagian besar nelayan di Kabupaten Tuban.
Baca juga: Kondisi Terkini BBM Solar di Sejumlah SPBU yang Ada di Ponorogo, Normal Hingga Kosong
Menurutnya, BBM subsidi masih dapat diakses oleh nelayan yang menggunakan kapal berukuran di bawah 30 Gross Ton (GT).
“Kalau nelayan yang ukuran di bawah 30 GT, sampai saat ini belum ada masalah,” ujar Faisol, Rabu (3/6/2026).
Faisol menjelaskan, jumlah nelayan penerima BBM subsidi di Kabupaten Tuban saat ini mencapai lebih dari 2.000 orang yang tersebar mulai Kecamatan Palang hingga Kecamatan Bancar.
“Nelayan pengguna BBM bersubsidi di Tuban ada sekitar 2.000 orang,” imbuhnya
Sementara itu dalam penyaluran BBM subsidi untuk nelayan, dilakukan berdasarkan rekomendasi dari Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP2P) Kabupaten Tuban. Dengan demikian, setiap nelayan penerima subsidi juga mendapatkan alokasi BBM sesuai ketentuan yang berlaku.
“Untuk nelayan Tuban, itu berdasarkan rekomendasi dari Dinas,” bebernya.
Faisol menegaskan, hingga saat ini distribusi BBM subsidi bagi nelayan di Kabupaten Tuban masih tergolong normal dan belum ditemukan kendala berarti.
“Jadi, untuk Tuban sampai saat ini BBM subsidi belum ada masalah apa-apa. Penggunaan BBM subsidi oleh nelayan juga relatif kecil karena jarang melaut setiap hari. Insya Allah, Tuban aman,” katanya.
Namun kondisi berbeda dirasakan nelayan yang menggunakan kapal berukuran di atas 30 GT. Kelompok nelayan tersebut tidak berhak memperoleh BBM subsidi sehingga harus berhenti melaut karena BBM non subsidi harganya mengalami kenaikan signifikan.
“Yang menjadi problem adalah nelayan yang kapalnya berukuran di atas 30 GT. Mereka terdampak karena harus menggunakan solar non subsidi,” ungkapnya.
Sebagai informasi tambahan dari data HNSI Tuban, saat ini terdapat sekitar 29 kapal nelayan berukuran di atas 30 GT yang beroperasi di wilayah Kabupaten Tuban.