TRIBUNTRENDS.COM - Pergantian pucuk pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) tidak hanya membawa harapan baru bagi perbaikan program Makan Bergizi Gratis (MBG), tetapi juga disertai sejumlah catatan penting dari parlemen.
Di tengah ambisi pemerintah memperluas cakupan program hingga menjangkau jutaan penerima manfaat, DPR mengingatkan agar kualitas pelaksanaan tidak dikorbankan demi mengejar target kuantitatif semata.
Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Charles Honoris, kepada Kepala BGN yang baru, Nanik S Deyang.
Menurutnya, keberhasilan program MBG tidak boleh hanya diukur dari jumlah penerima manfaat yang terus bertambah dari waktu ke waktu.
Baca juga: KSP Dudung Bongkar Alasan Prabowo Sikat Habis Pimpinan BGN: Ini Uang Rakyat, Jangan Berani Korupsi
Charles menilai fokus utama program MBG seharusnya berada pada manfaat nyata yang diterima anak-anak sebagai sasaran program.
Ia menekankan bahwa kualitas makanan, kandungan gizi, hingga pengawasan distribusi jauh lebih penting dibanding sekadar pencapaian angka penerima.
"Yang lebih penting adalah kualitas gizi yang diterima anak-anak, kualitas makanan yang disajikan, dan efektivitas pengawasannya.
Jangan sampai yang dikejar hanya angka-angka, sementara kualitas programnya tertinggal," kata Charles, Rabu (3/6/2026).
Menurut politikus PDI-P tersebut, program sebesar MBG akan kehilangan makna apabila hanya berorientasi pada capaian statistik tanpa memastikan mutu layanan yang diterima masyarakat.
Charles juga menyoroti berbagai persoalan tata kelola yang selama ini masih menjadi sorotan publik dalam pelaksanaan MBG. Karena itu, pergantian kepemimpinan di BGN dinilai sebagai momentum penting untuk melakukan pembenahan secara menyeluruh.
Ia berharap kepemimpinan baru mampu memperkuat sistem pengawasan, meningkatkan transparansi, serta memastikan setiap anggaran yang digunakan benar-benar menghasilkan manfaat yang optimal bagi masyarakat.
"Saya berharap Kepala BGN yang baru fokus membenahi tata kelola MBG yang selama ini masih buruk.
Program sebesar ini tidak bisa hanya diukur dari berapa besar anggaran yang dihabiskan atau berapa banyak penerima manfaat yang dicatat," pungkas dia.
Baca juga: Sahroni Sebut Prabowo yang Suruh Kejagung Geledah Kantor BGN: Dananya Begitu Besar, Rawan Korupsi
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto memutuskan melakukan pergantian pimpinan di Badan Gizi Nasional setelah melakukan evaluasi terhadap kinerja lembaga tersebut selama kurang lebih satu setengah tahun terakhir.
Dalam perombakan tersebut, Kepala BGN sebelumnya, Dadan Hindayana, dicopot dari jabatannya bersama dua wakil kepala BGN, yakni Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung.
Sebagai penggantinya, pemerintah menunjuk Nanik S Deyang untuk memimpin BGN. Dalam menjalankan tugasnya, Nanik akan didampingi dua wakil kepala baru, yakni Agustina Arumsari dan Trenggono.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa keputusan pergantian pimpinan tersebut diambil setelah Presiden melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG.
"Selama kurang lebih hampir 1,5 tahun melakukan monitoring, melakukan evaluasi, maka pada hari ini, Selasa tanggal 2 Juni tahun 2026, Bapak Presiden mengambil keputusan untuk melakukan pergantian pimpinan Badan Gizi Nasional," kata Prasetyo.
Dengan besarnya anggaran dan luasnya cakupan program MBG, tantangan yang dihadapi pimpinan baru BGN tidak hanya berkaitan dengan perluasan jumlah penerima manfaat.
Lebih dari itu, publik kini menaruh perhatian besar pada kualitas makanan yang diberikan, keamanan pangan, ketepatan distribusi, serta akuntabilitas pengelolaan anggaran.
Karena itu, peringatan dari DPR menjadi sinyal bahwa keberhasilan MBG ke depan akan lebih banyak diukur dari kualitas manfaat yang dirasakan masyarakat dibanding sekadar pencapaian angka-angka administratif.
***
(TribunTrends/Kompas)