Dino Patti Djalal Kritik Kunker Luar Negeri Prabowo, Menlu Sugiono Klaim Bentuk Presiden 'Bergaul'
ninda iswara June 04, 2026 03:38 AM

TRIBUNTRENDS.COM - Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, merespons santai kritik yang dilontarkan diplomat senior Dino Patti Djalal terkait intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto.

Menurut Sugiono, dirinya belum membaca secara langsung isi kritik yang disampaikan mantan Wakil Menteri Luar Negeri pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa pemerintah terbuka terhadap berbagai masukan yang bertujuan membangun dan memperbaiki kinerja diplomasi Indonesia di tingkat internasional.

Bagi Sugiono, kritik maupun saran merupakan hal yang wajar dalam kehidupan demokrasi selama disampaikan secara objektif dan didukung data yang akurat.

"Oh saya belum lihat. Tapi saya dengar terima kasih ya semua saya kira semua saran, semua kritik dalam rangka perbaikan itu bagus, baik, tentu saja harus konstruktif, tentu saja juga harus berdasarkan pada fakta-fakta dan data-data yang saya kira akurat," ujar Sugiono di Kantor Kemlu RI, Jakarta Pusat, Rabu (3/6/2026).

Baca juga: Mahfud MD Kritik Jawaban Seskab Teddy soal Kunker Prabowo, Sebut Terlalu Sering: Produknya Gak Jelas

Lebih lanjut, Sugiono menjelaskan bahwa kehadiran seorang kepala negara dalam berbagai forum internasional memiliki peran penting dalam memperkuat posisi Indonesia di panggung global.

Ia menilai aktivitas diplomasi tingkat tinggi tidak bisa dilepaskan dari dinamika hubungan antarnegara yang terus berkembang.

Karena itu, kunjungan luar negeri Presiden merupakan bagian dari upaya memperluas kerja sama sekaligus memperkuat komunikasi dengan berbagai mitra strategis Indonesia.

Sugiono juga mengingatkan bahwa sejak awal Presiden Prabowo telah menekankan pentingnya menjalankan politik luar negeri yang bebas dan aktif.

Prinsip tersebut diwujudkan dengan menjaga sikap netral Indonesia serta memperluas jalinan persahabatan dan kerja sama dengan sebanyak mungkin negara di dunia.

"Dan saya kira apa yang karena saya dengar soal kunjungan Presiden ke luar negeri, secara konstitusi tersurat bahwa Indonesia merupakan bagian dari pergaulan internasional, bagian dari masyarakat dunia dan ini menuntut satu kehadiran di dunia internasional pertama," jelasnya.

Prinsip tersebut, kata Sugiono, membawa konsekuensi logis di mana Indonesia dituntut untuk aktif hadir di berbagai forum dan wilayah internasional.

Ia mengibaratkan keaktifan Indonesia yang dikepalai oleh Presiden Prabowo sebagai bentuk 'bergaul' dengan masyarakat internasional.

Terlebih kunjungan kenegaraan tersebut juga terjadwal dan telah direncanakan yang didahului dengan diskusi diplomatik.

"Implementasinya ataupun konsekuensinya dari ini adalah ya itu tadi kita harus hadir di banyak tempat, kita harus berkawan dengan semuanya. Istilahnya kan kita harus gaul kan gitu. Dan semua itu direncanakan dengan baik, semua itu didahului oleh diskusi diplomatik yang baik," jelas dia.

Baca juga: Prabowo Sering ke Prancis, Feri Amsari Merasa Janggal: Berangkat dalam Dua Kondisi yang Tidak Tepat

KUNKER PRABOWO - Presiden RI Prabowo Subianto di Rapat Paripurna DPR, Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (20/5/2026) (Tribun Trends/YouTube Sekretariat Presiden)

Sugiono menerangkan bahwa dinamika global saat ini sedang menghadapi situasi yang tidak biasa, seperti konflik di Timur Tengah dan berbagai titik panas lainnya di dunia. 

Karena itu, langkah diplomasi yang diambil harus responsif dan tidak melulu mengandalkan jalur konvensional agar Indonesia dapat aktif menjadi jembatan perdamaian.

Ia menegaskan langkah keaktifan Indonesia di kancah internasional adalah amanat undang-undang.

"Presiden menentukan kontribusi saran substansi-substansi dan prioritas yang perlu dibahas terkait juga dengan perkembangan dan dinamika yang terjadi saat ini yang tidak bisa mengikuti jalur-jalur konvensional karena situasinya juga tidak biasa," jelas dia.

"Timur Tengah perang, banyak juga beberapa titik di dunia ini yang panas dan kita sekali lagi ini amanat undang-undang Indonesia ingin terlibat dalam upaya perdamaian dan ketertiban dunia ya secara proaktif menawarkan dirinya menawarkan Indonesia ini untuk jadi jembatan saya kira itu intinya," tambahnya.

Saat ditanya mengenai perbedaan efektivitas antara diplomasi tatap muka secara langsung dibandingkan pertemuan virtual melalui aplikasi Zoom, Sugiono memberikan analogi mengenai pentingnya membangun kedekatan personal layaknya dalam kehidupan sehari-hari.

"Sama lah kayak kita juga. Kalau cuma telepon-teleponan aja kan beda sama ketemu langsung, kita bisa melihat bahasa tubuh, ada kedekatan personal dari situ kita bisa berbicara mengenai hal yang lebih banyak intinya itu," pungkasnya.

(TribunTrends/Tribunnews/Danang Triatmojo)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.