Laporan Muhammad Azzam
TRIBUNBEKASI.COM, BEKASI- Gorong-gorong beton di bangun dalam proyek Tol Jakarta-Cikampek II Selatan untuk melindungi mata air Citaman, Kecamatan Pangkalan, Karawang.
Sebanyak empat gorong-gorong beton raksasa (box culvert) tengah dipasang sebagai tahap akhir pembangunan pada paket 3.
Paket 3 menjadi bagian terpanjang dari pembangunan Tol Japek II Selatan. Paket ini membentang dari Sadang Purwakarta hingga Sukabungah Kabupaten Bekasi dengan panjang mencapai 30,25 kilometer.
Sedangkan panjang tol keseluruhan mencapai 62 kilometer yang terbentang dari Sadang hingga Jati Asih, Kota Bekasi.
Pimpinan Proyek Paket 3 PT Jasamarga Japek Selatan, Shibgatullah Mahmuda mengatakan, hingga pekan pertama Juni 2026 ini progres pembangunan telah mencapai 95 persen. Beberapa titik pengerjaan masih dilakukan dalam aspek penyempurnaan.
“Termasuk pemasangan box culvert Cibodas dengan ukuran yang cukup besar. Saat ini sedang dikerjakan, progresnya terus berjalan. Untuk ruas jalannya sendiri sudah selesai, hanya ada beberapa pekerjaan penyempurnaan,” kata dia saat ditemui di wilayah Setu, Kabupaten Bekasi.
Seperti diketahui, box culvert merupakan gorong-gorong beton pracetak yang berbentuk segi empat. Umumnya digunakan sebagai saluran drainase tertutup, jembatan bentang pendek, terowongan air, atau lintasan bawah tanah.
Menurut Shibgatullah, box culvert yang tengah dipasang terbilang besar dengan ukuran mencapai 8x6 meter persegi. Baik desain maupun ukuran didasarkan atas perhitungan yang dilakukan BBWS.
“Desainnya dari BBWS sehingga kami prinsipnya mengikuti,” kata dia.
Pemasangan kotak gorong-gorong ini berfungsi juga sebagai tembok penahan tanah (retaining wall). Sehingga mampu mencegah potensi pergeseran tanah, baik di ruas tol maupun lingkungan masyarakat sekitar.
Pemasangan tembok penahan tanah ini sebelumnya menjadi usulan warga Kampung Citaman Desa Tamansari Kecamatan Pangkalan, Karawang.
Jika tidak ada tembok penahan, warga khawatir terjadi pergeseran tanah yang berdampak pada lingkungan mereka. Terlebih di dekat lokasi tol terdapat mata air Citaman yang sehari-hari digunakan warga.
“Awalnya justru yang direkomendasikan itu jembatan, namun kami kaji kembali karena kalau bangun jembatan khawatirnya memutus mata air karena harus ada pengeboran. Lalu ketika dibor khawatir ada material lumpur bisa mencemari mata air, jadi kami ubah dengan box culvert itu,” kata dia.
Shibgatullah mengatakan, pihaknya telah menerima usulan warga setempat. Namun, kata dia, pemasangan kotak gorong-gorong sekaligus tembok penahan tanah sebenarnya sudah lebih dulu masuk dalam bagian pekerjaan. Hanya saja baik tembok maupun gorong-gorong masih dalam proses pengerjaan.
"Dan memang sudah direncanakan sebelumnya. Prinsipnya kami memahami namun pembangunan masih berjalan, sehingga warga harap bersabar terlebih dulu. Targetnya akhir 2026 sudah selesai,” ujar dia.
Selain mata air, warga juga mengkhawatirkan pembangunan tol berdampak pada hal lainnya, termasuk area persawahan.
Terkait hal tersebut, Shibgatullah mempersilakan warga menyampaikan aspirasi pada pihak kontraktor di lapangan. Pihaknya telah meminta kontraktor untuk terus berkoordinasi dengan warga.
“Karena dalam klausul kontrak kerja tercantum agar kontraktor menangani dampak yang terjadi. Sehingga warga silakan dapat menyampaikan pada kontraktor. Kami pun mendorong kontraktor untuk terus berkoordinasi dengan warga,” ucap dia.
Untuk diketahui, ruas jalan Tol Japek II Selatan pada paket 3 ini sudah lebih dulu rampung. Pada musim mudik lebaran dalam beberapa tahun terakhir, ruas ini telah dibuka secara fungsional. Tujuannya untuk mengurangi kepadatan khususnya dari arah Bandung menuju Jakarta.
Meski paket 3 rampung tahun ini, pekerjaan untuk paket 2 yakni Sukabungah-Setu sepanjang 22,1 kilometer dan paket 1 yakni Setu-Jati Asih (9,3 kilometer) masih terus berjalan. (MAZ)