Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Anggota Komisi V DPRD Lampung dari Fraksi PDI Perjuangan, Budhi Condrowati, mendorong Pemerintah Provinsi Lampung memperkuat sosialisasi pentingnya pendidikan kepada masyarakat sebagai langkah awal menekan angka putus sekolah di daerah tersebut.
Baca juga: Penyebab Puluhan Ribu Anak di Lampung Putus Sekolah, Faktor Nonteknis Jadi Pemicu
Menurut legislator yang akrab disapa Condro itu, kesadaran orang tua dan keluarga memiliki peran penting dalam memastikan anak tetap melanjutkan pendidikan hingga jenjang yang lebih tinggi.
"Yang pertama tentu sosialisasi kepada masyarakat harus diperkuat. Pendidikan itu penting untuk masa depan anak, sehingga jangan sampai ada anak yang berhenti sekolah karena kurangnya pemahaman atau motivasi dari lingkungan keluarga," kata Condro, Jumat (5/6/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan menanggapi data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Lampung yang mencatat sebanyak 20.534 siswa di Lampung putus sekolah dan tidak melanjutkan pendidikan hingga pertengahan tahun 2026.
Condro menilai selain meningkatkan kesadaran masyarakat, pemerintah juga perlu memastikan data pendidikan yang digunakan benar-benar akurat agar kebijakan yang disusun tepat sasaran.
Menurutnya, pembaruan dan sinkronisasi data antara sektor pendidikan dan administrasi kependudukan harus terus dilakukan untuk menghindari kesalahan pencatatan status pendidikan warga.
"Data juga harus dibenahi dan diperbarui secara berkala supaya akurat. Dengan data yang valid, pemerintah bisa menentukan kebijakan dan intervensi yang tepat," ujarnya.
Lebih lanjut, Condro mendukung langkah Disdikbud Lampung yang kembali mengoptimalkan pendidikan kesetaraan melalui program Paket A, Paket B, dan Paket C.
Ia menilai program tersebut masih menjadi solusi penting bagi masyarakat yang sempat putus sekolah agar tetap memperoleh kesempatan menyelesaikan pendidikan.
"Paket A, Paket B, dan Paket C ini harus benar-benar digerakkan kembali. Program ini penting sebagai jalan kedua bagi mereka yang sempat putus sekolah agar tetap bisa mendapatkan ijazah dan melanjutkan pendidikan maupun mencari pekerjaan," katanya.
Selain pendidikan kesetaraan, Condro juga mengapresiasi rencana pelaksanaan SMA Terbuka yang digagas Disdikbud Lampung.
Menurutnya, program tersebut dapat menjadi alternatif bagi siswa yang terkendala jarak, waktu maupun kondisi ekonomi sehingga tetap memiliki akses terhadap pendidikan.
"Sekolah terbuka juga bagus karena memberikan kesempatan lebih luas bagi anak-anak yang selama ini kesulitan mengakses pendidikan formal. Yang terpenting adalah bagaimana semua program tersebut dijalankan secara maksimal dan tepat sasaran," ucapnya.
Dia juga menegaskan DPRD selalu menyuarakan pentingnya sekolah saat kegiatan IPWK dan Sosper ke masyarakat Dapil.
"Kami juga siap menjadi garda terdepan bagi masyarakat yang terkendala urusan pendidikan," Jelasnya.
Sebelumnya, Kepala Disdikbud Lampung, Thomas Amirico, mengungkapkan terdapat 20.534 siswa yang tercatat putus sekolah dan tidak melanjutkan pendidikan di Lampung hingga pertengahan 2026.
Jumlah tersebut terdiri dari 5.081 siswa tingkat SD, 10.531 siswa tingkat SMP, dan 4.742 siswa tingkat SMA.
Untuk menekan angka tersebut, Disdikbud Lampung menyiapkan sejumlah langkah, mulai dari pembentukan Tim Percepatan Penurunan Angka Putus Sekolah, optimalisasi Program Indonesia Pintar (PIP), penguatan PKBM melalui Paket A, B, dan C, hingga peluncuran SMA Terbuka yang dijadwalkan mulai menerima pendaftaran pada Juli 2026.
( Tribunlampung.co.id / Riyo Pratama )