Terminal Purabaya Bersolek, Petugas Sisir Tumpukan Sampah di Area Bus dan Shelter
Samsul Arifin June 05, 2026 11:14 PM

 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Nuraini Faiq

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Pengelola Terminal Purabaya di Bungurasih, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, bergerak cepat menangani persoalan sampah yang menumpuk di sejumlah titik kawasan terminal.

 Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kenyamanan penumpang serta menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat.

Tumpukan sampah ditemukan di beberapa area terminal, terutama di kawasan belakang atau area parkir bus. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena mengganggu pemandangan sekaligus berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan jika tidak segera ditangani.

Selain sampah plastik dan sisa bungkus makanan yang berserakan, sejumlah saluran drainase atau selokan juga terlihat tertutup sampah. Kondisi serupa ditemukan di beberapa titik shelter keberangkatan bus yang menjadi area aktivitas ribuan penumpang setiap hari.

Sebagai terminal terbesar di Indonesia Timur, Terminal Purabaya memiliki mobilitas penumpang yang sangat tinggi. Karena itu, pengelola berupaya memastikan kebersihan lingkungan tetap terjaga meski menghadapi keterbatasan jumlah petugas kebersihan.

Pembersihan dilakukan secara intensif dengan menyisir seluruh area terminal selama beberapa hari berturut-turut hingga kondisi lingkungan kembali bersih dan nyaman bagi pengguna jasa transportasi.

Baca juga: Jembatan Gondang Ditutup Total, Jadwal Bus dari Terminal Trenggalek Maju 1 Jam

Petugas Sisir Seluruh Area Terminal

Hingga Jumat (5/6/2026), petugas kebersihan masih terus melakukan penyisiran di berbagai sudut Terminal Purabaya.

Kepala Pengawas Satuan Pelayanan Terminal Purabaya Surabaya, Verie Sugiharto, mengatakan pembersihan dilakukan secara berkelanjutan meski jumlah personel yang tersedia sangat terbatas.

"Dengan segala keterbatasan personel menuntut kami bekerja efektif. Empat tenaga kebersihan kami kerahkan simultan dan berkelanjutan. Mulai kemarin hingga besok sampai bersih," kata Verie.

Verie juga turun langsung memimpin proses pembersihan dan pengangkutan sampah yang menumpuk di kawasan terminal. Sejumlah petugas Garnisun dan staf Terminal Purabaya turut membantu mengawasi kegiatan tersebut.

Keterbatasan Personel Jadi Tantangan

Menurut Verie, luas Terminal Purabaya yang mencapai sekitar 12 hektare menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Saat ini hanya terdapat empat petugas outsourcing yang bertugas menangani kebersihan di area terminal secara umum. Sementara beberapa pegawai lainnya difokuskan untuk menjaga kebersihan area kedatangan dan lobi utama.

"Petugas kami terbatas. Kami akan berusaha seoptimal mungkin. Tapi kami juga meminta bahwa menjaga lingkungan, membuang sampah pada tempatnya adalah tugas bersama. Jangan dibebankan kepada kami semata," kata Verie.

Pengelola Ajak Penumpang dan Tenant Peduli Lingkungan

Selain melakukan pembersihan, pengelola terminal juga terus mengedukasi seluruh pihak yang beraktivitas di kawasan terminal agar ikut menjaga kebersihan.

Upaya tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan tenant, pedagang, paguyuban mitra, hingga para penumpang yang setiap hari menggunakan layanan terminal.

Menurut Verie, kesadaran bersama menjadi faktor penting untuk menciptakan lingkungan terminal yang bersih dan nyaman.

Gandeng Paguyuban dan Mitra Terminal

Pengelola Terminal Purabaya yang berada di bawah naungan Kementerian Perhubungan terus memperkuat kerja sama dengan berbagai pihak untuk menjaga kebersihan lingkungan.

Melalui paguyuban mitra dan tenant, pengelola berharap muncul gerakan bersama dalam menjaga kawasan terminal agar tetap bersih dari sampah.

"Kami juga tak henti-hentinya mengedukasi tenant hingga asongan untuk bersama-sama menjaga lingkungan bersih. Penumpang juga jangan buang sampah sembarangan. Tak ada sanksi memang. Tapi mari menjaga lingkungan bersama-sama," kata Verie.

Ia berharap kepedulian seluruh pengguna jasa terminal dapat menjadi bagian dari solusi jangka panjang untuk menjaga kebersihan Terminal Purabaya sebagai salah satu simpul transportasi terbesar di Indonesia.

Penumpang bus sempat diramaikan soal royalti. 

Perusahaan Otobus (PO) di Jawa Timur ramai-ramai melarang kru mereka untuk memutar lagu di dalam bus, karena waswas tiba-tiba ditagih royalti.

Kebijakan PO tersebut membuat tagar TransportasiIndonesiaHening ramai di media sosial.

Banyak yang merasa perjalanan tanpa ditemani musik dalam bus menjadi seolah hambar dan membosankan.

Perjalanan jarak jauh dengan bus selama ini memang identik dengan musik dangdut koplo atau lagu lawas yang diputar keras dari speaker.

Namun sejak aturan larangan memutar musik diterapkan beberapa waktu lalu, suasana berubah.

Tidak ada lagi dentuman irama yang biasa menemani sepanjang jalan.

Meski larangan memutar lagu menuai protes dari sebagian sopir dan awak bus, ada pula penumpang yang berpikir sebaliknya.

Satu di antaranya Yola, penumpang bus jurusan Surabaya-Solo yang ditemui di Terminal Purabaya Sidoarjo, Jawa Timur. 

Perempuan berusia 27 tahun itu mengaku lebih mudah beristirahat saat perjalanan tanpa musik.

"Tidur di bus terasa lebih nyenyak kalau suasananya tenang," ujarnya.

Yola menuturkan, selera musik tiap penumpang berbeda.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.