Bimbim Slank Keluhkan Rupiah Melemah: Harga Senar hingga Bahan Impor Naik
Dian Anditya Mutiara June 06, 2026 09:35 AM

 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Masyarakat Indonesia mulai mengeluarkan keluh kesahnya, saat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menembus Rp 18 ribu.

Musisi Bimbim Slank juga ikut bersuara terkait hal ini, ia mengakui harga barang impor di Indonesia harganya terus naik, khususnya alat-alat musik.

"Pasti ya semua kena dampak, termasuk alat musik. Harga kayak snar, stick, apa lagi? Semua terdampak yang impor impor," kata Bimbim Slank ketika ditemui di markas Potlot, Pancoran, Jakarta Selatan, Jumat (5/6/2026).

Bahkan barang-barang kebutuhan pribadi keluarga drummer band Slank itu baik pangan dan sandang yang diimpor dari luar negeri, harganya juga ikut naik.

Baca juga: Purbaya Heran dan Bingung dan Stres IHSG dan Rupiah Makin Tertekan

"Anak-anak kan suka belanja di Ranch Market, begitu beli bahan-bahan yang impor gitu, ya Rupiah sudah gak ada harganya," ucapnya.

Meski semua kena dampak, Pria berusia 59 tahun tersebut meyakini nilai tukar rupiah akan terus melemah, jika Pemerintah tidak mengambil langkah tegas, untuk memperbaiki ekonomi negara.

"Karena kita terdampak. Kita terdampak karena alat musik, kebutuhan sehari-hari kayak senar, stick drum itu masih impor semua. Jadi ya kita menjerit lah dolar naik," jelas Bimo Setiawan Almachzumi.

Bimbim memastikan band Slank tidak akan menaikkan honornya saat menerima job off air.

"Nggak mungkin naikin honor. Kasihan yang mau manggil Slank," ujar Bimbim Slank. 

Pengaruh Lemahnya Rupiah 

Salah satu pandangan yang sering muncul adalah pelemahan rupiah akan membuat ekspor Indonesia lebih kompetitif karena harga barang Indonesia menjadi lebih murah di pasar internasional.

Namun, analisis INDEF menunjukkan hubungan tersebut tidak sesederhana itu.

Berdasarkan data kurs rupiah terhadap dollar AS, ekspor, dan impor Indonesia sejak Januari 2015 hingga Maret 2026, secara level kurs rupiah memang memiliki korelasi positif cukup kuat dengan ekspor maupun impor, masing-masing sebesar 0,74.

Meski demikian, ketika dianalisis menggunakan pertumbuhan bulanan, tahunan, dan rata-rata bergerak tiga bulanan, hubungan kurs dengan ekspor maupun impor menjadi jauh lebih lemah.

Baca juga: Rupiah Tembus Rp18.000, Rocky Gerung Sebut Chatib Basri Figur Ideal Menkeu Ganti Purbaya

Menurut INDEF, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelemahan rupiah tidak secara otomatis mendorong ekspor.

Dampak berikutnya muncul pada sektor pangan.

Kajian INDEF menunjukkan ketergantungan impor Indonesia dari Amerika Serikat masih cukup besar pada sejumlah komoditas strategis.

Komoditas tersebut antara lain distilling dregs, kedelai (soybeans), LPG, serta meat and offal meal.

Pangsa impor yang tinggi pada komoditas tersebut membuat pelemahan rupiah terhadap dollar AS berpotensi meningkatkan tekanan biaya pada energi, pangan, pakan ternak, dan berbagai input produksi.

Data impor Indonesia dari AS pada 2025 menunjukkan impor terbesar berasal dari butane LPG dan propane LPG yang masing-masing bernilai sekitar 1,3 miliar dollar AS.

Selain itu, Indonesia juga mengimpor kedelai sekitar 1 miliar dollar AS, serta gandum, minyak mentah, mesin telekomunikasi, distilling dregs, dan meat/offal meal. (Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.