Mengapa Pertandingan Piala Dunia di Meksiko Mungkin Berjalan Lebih Lambat Dibandingkan di AS dan Kanada
Aurora Nightingale June 06, 2026 04:52 PM

Piala Dunia 2026 akan menjadi turnamen pertama yang menghadirkan 48 tim yang bersaing dalam 104 pertandingan di tiga negara penyelenggara.

SUPERBALL.ID - Pertandingan Piala Dunia 2026 yang digelar di Meksiko diperkirakan akan berlangsung dengan tempo lebih lambat dibandingkan laga-laga di Amerika Serikat dan Kanada.

Meksiko, sebagai salah satu tuan rumah, dijadwalkan menggelar pertandingan pembuka turnamen 48 tim ini pada Kamis (11 Juni) waktu setempat, ketika tim nasional ‘El Tri’ menghadapi Afrika Selatan, ulangan dari laga pembuka Piala Dunia 2010.

Dari total 104 pertandingan dalam ajang tersebut, sebanyak 13 pertandingan akan dimainkan di Meksiko, tepatnya di Mexico City, Guadalajara, dan Monterrey.

Namun, laga-laga yang berlangsung di Meksiko diperkirakan akan memiliki karakteristik berbeda dibandingkan dengan yang digelar di dua negara tetangga di Amerika Utara tersebut.

Dalam sebuah video di TikTok yang diunggah oleh pengguna akun Tiannahpedler, disebutkan bahwa pertandingan di Meksiko bisa berjalan lebih lambat karena faktor ketinggian wilayah.

Kota Meksiko berada di ketinggian sekitar 2.240 meter di atas permukaan laut, sementara Guadalajara memiliki ketinggian yang sebanding, mirip dengan beberapa resor ski di Eropa.

Kondisi ini membuat pertandingan di dataran tinggi menuntut kerja fisik yang lebih berat dan waktu pemulihan yang lebih lama, sehingga secara alami menjadi tantangan tersendiri bagi para pemain.

Hal ini akan menjadi perhatian utama bagi tim-tim yang mengandalkan intensitas tinggi dan gaya bermain dengan pressing agresif.

Francois Billaut, profesor di Universite Laval di Quebec, Kanada, yang memiliki pengalaman riset lebih dari 20 tahun dalam bidang ini, menjelaskan kepada The Athletic bahwa tekanan barometrik berkurang di wilayah dengan ketinggian tinggi.

Menurutnya, penurunan oksigen menjadi persoalan utama bagi daya tahan fisik karena otot pemain menerima pasokan oksigen yang lebih sedikit.

Pada tahun 2023, Lionel Messi bersama rekan-rekan setimnya di Argentina terlihat menggunakan tabung oksigen untuk mempersiapkan diri menghadapi laga berat di Stadion Hernando Siles, La Paz, Bolivia, yang berada di ketinggian lebih dari 3.637 meter di atas permukaan laut.

Kondisi ekstrem seperti itu bahkan pernah disebut ‘tidak manusiawi’ oleh Neymar, dan FIFA sempat melarang stadion tersebut digunakan untuk pertandingan kualifikasi Piala Dunia karena alasan kesehatan pemain.

Para pemain yang terbiasa bermain di dataran tinggi tentu memahami tantangan tersebut dan akan menyesuaikan persiapan fisik mereka agar mampu beradaptasi dengan kondisi udara tipis.

Selain memengaruhi stamina, ketinggian juga berdampak pada pergerakan bola karena udara yang lebih tipis membuat bola melaju lebih cepat dan menempuh jarak lebih jauh.

Efek ini dapat mengubah arah bola dalam situasi seperti umpan panjang, tembakan jarak jauh, atau bola mati — hal yang perlu diwaspadai oleh para penjaga gawang.

Menjelang turnamen, UNFCCC mengeluarkan peringatan terkait kondisi cuaca yang dapat memengaruhi pertandingan.

Meskipun Meksiko memiliki ketinggian paling signifikan di antara tiga negara tuan rumah, isu mengenai kondisi lingkungan diperkirakan akan menjadi salah satu topik utama selama penyelenggaraan Piala Dunia.

Badan Perubahan Iklim PBB juga merilis laporan rinci mengenai bagaimana panas ekstrem dapat berdampak terhadap pelaksanaan pertandingan.

Jeda pendinginan dan hidrasi dipastikan akan menjadi elemen penting dalam turnamen ini, sebab penelitian dari World Weather Attribution menunjukkan bahwa 26 dari 104 pertandingan akan digelar dalam kondisi suhu yang dianggap berisiko tinggi oleh para ahli dan telah dilaporkan kepada FIFPRO, serikat pemain sepak bola dunia.

Bahkan kota-kota yang biasanya lebih sejuk seperti Toronto dan Vancouver pun tidak luput dari potensi gelombang panas.

Riset lebih lanjut juga mengungkap bahwa hampir separuh dari seluruh pertandingan Piala Dunia memiliki peluang lebih dari 50 persen untuk berlangsung dalam suhu panas yang dapat memengaruhi performa pemain.

Sebuah studi terhadap 57 pertandingan dan 1.070 observasi pemain dalam ajang Piala Dunia Antarklub menunjukkan bahwa dalam 31 pertandingan, para pemain menghadapi risiko gangguan kesehatan akibat panas ekstrem.

Beberapa pemain pengganti bahkan memilih tetap berada di ruang ganti selama pertandingan berlangsung untuk menghindari paparan panas berlebih.

Karena kondisi tersebut, rotasi pemain dan pergantian skuad kemungkinan akan menjadi strategi penting sepanjang turnamen, dengan sejumlah laga mungkin dimainkan dengan intensitas yang lebih terkendali untuk menjaga kebugaran pemain di tengah suhu tinggi.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.