Usai Sebut Benjamin Netanyahu Gila, Trump Kini Ingin Ketemu Mojtaba Khamenei, Teken Perdamaian?
Putra Dewangga Candra Seta June 06, 2026 06:32 PM

 

SURYA.co.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan keinginannya untuk bertemu dengan pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam wawancara program "Pod Force One" yang dikutip New York Post pada Rabu (3/6/2026).

"Saya ingin bertemu dengannya, dan kami mungkin akan bertemu suatu saat nanti, tergantung bagaimana semuanya berjalan," kata Trump, dikutip dari AFP.

Pernyataan itu muncul pada saat hubungan Trump dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu justru dikabarkan mengalami ketegangan serius.

Situasi ini menjadi sorotan karena selama bertahun-tahun Trump dikenal sebagai salah satu pendukung paling kuat pemerintahan Israel.

Keinginan Trump membuka jalur komunikasi langsung dengan Iran dinilai menjadi sinyal bahwa Washington tengah berupaya menjaga proses diplomasi yang terancam terganggu oleh eskalasi konflik di Lebanon dan Gaza.

Serangan Israel ke Lebanon Disebut Ganggu Upaya Negosiasi AS-Iran

SERANGAN - Asap mengepul dari serangan udara Israel di wilayah Lebanon Selatan beberapa waktu lalu. Pesawat-pesawat tempur Israel melakukan serangkaian serangan udara di seluruh Lebanon selatan. Hal ini berdampak pada negosiasi Iran dan AS.
SERANGAN - Asap mengepul dari serangan udara Israel di wilayah Lebanon Selatan beberapa waktu lalu. Pesawat-pesawat tempur Israel melakukan serangkaian serangan udara di seluruh Lebanon selatan. Hal ini berdampak pada negosiasi Iran dan AS. (Anews/File)

Ketegangan bermula setelah Israel terus melanjutkan operasi militernya di Lebanon meski berbagai upaya gencatan senjata sedang berlangsung.

Dalam beberapa hari terakhir, Israel meningkatkan serangan udara dan operasi militer dengan alasan menargetkan kelompok Hizbullah di wilayah pinggiran selatan Beirut.

Langkah tersebut disebut memicu kemarahan Trump karena berpotensi menggagalkan upaya negosiasi yang sedang dibangun antara Amerika Serikat dan Iran.

Situasi semakin rumit setelah Iran mengancam memboikot proses negosiasi damai dengan Washington sebagai bentuk protes atas operasi militer Israel yang terus meluas di Lebanon dan Jalur Gaza.

Akibatnya, hubungan Trump dan Netanyahu dilaporkan mengalami gesekan yang belum pernah terlihat secara terbuka sebelumnya.

Baca juga: Imbas Serangan Israel ke Lebanon: Iran Stop Negosiasi dengan AS, Trump Sebut Netanyahu Gila

Laporan Axios: Trump Sebut Netanyahu "Gila"

Media Axios pada Senin (1/6/2026) melaporkan bahwa Trump meluapkan kemarahannya kepada Netanyahu melalui percakapan telepon yang berlangsung tertutup.

Mengutip pejabat Amerika Serikat dan sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut, Trump disebut menuduh Netanyahu telah mendorong Israel menuju isolasi internasional sekaligus membahayakan kepentingan diplomatik Amerika Serikat.

Dalam percakapan itu, Trump bahkan disebut melontarkan kritik yang sangat keras.

“Kau benar-benar gila. Kau pasti sudah dipenjara jika bukan karena aku. Aku menyelamatkanmu. Semua orang membencimu sekarang. Semua orang membenci Israel karena ini," demikian sumber pertama Axios yang mengetahui percakapan itu.

Menurut laporan tersebut, Trump juga mengeluhkan bahwa Netanyahu mengambil keputusan tanpa memperhitungkan dampak politik dan diplomatik yang lebih luas.

Latar Belakang Hubungan Trump dan Netanyahu

Ketegangan terbaru ini menarik perhatian karena selama ini Trump dikenal sebagai salah satu pelindung politik Netanyahu di tingkat internasional.

Pada 21 November 2024, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan selama konflik di Jalur Gaza.

Surat perintah tersebut berlaku bagi 124 negara anggota ICC.

Namun, Trump secara terbuka menentang langkah ICC. Ia bahkan mengeluarkan kebijakan yang menjatuhkan sanksi terhadap lembaga tersebut dengan alasan pengadilan internasional itu melakukan tindakan yang dianggap tidak sah terhadap sekutu dekat Amerika Serikat.

Trump juga diketahui memasukkan Netanyahu ke dalam struktur Dewan Perdamaian yang dibentuknya meski pemimpin Israel tersebut berstatus buron ICC.

Iran Bekukan Jalur Komunikasi dengan Amerika Serikat

Di tengah memanasnya situasi, Iran memutuskan menghentikan sementara pembicaraan dan pertukaran pesan dengan Amerika Serikat yang selama ini dilakukan melalui pihak ketiga.

Menurut sumber-sumber yang mengetahui proses negosiasi tersebut, Iran menilai pelanggaran gencatan senjata di satu wilayah tidak dapat dipisahkan dari wilayah konflik lainnya.

Para pejabat Iran menegaskan bahwa syarat utama untuk melanjutkan komunikasi dengan Washington adalah penghentian segera operasi militer Israel di Lebanon dan Gaza serta penarikan penuh pasukan Israel dari wilayah Lebanon yang masih diduduki.

Iran juga menyatakan tidak akan melanjutkan pembicaraan sebelum tuntutan tersebut dipenuhi.

Tasnim menambahkan bahwa Iran bersama kelompok yang tergabung dalam "Front Perlawanan" telah memasukkan sejumlah opsi respons ke dalam agenda mereka, termasuk kemungkinan penutupan Selat Hormuz dan pengaktifan front lain di kawasan seperti Selat Bab al-Mandab.

Iran Tegaskan Gencatan Senjata Harus Berlaku untuk Semua Front

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan bahwa pelanggaran gencatan senjata di satu wilayah harus dianggap sebagai pelanggaran terhadap seluruh upaya perdamaian di kawasan.

Senada dengan itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Ismail Baghaei menyebut bahwa gencatan senjata di Lebanon merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya penghentian konflik secara menyeluruh di Timur Tengah.

Ia juga menuduh Amerika Serikat dan Israel telah melanggar komitmen yang sebelumnya disepakati.

Sebelum pembekuan komunikasi ini terjadi, Iran dan Amerika Serikat diketahui masih bertukar pesan melalui mediator sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan pasca-perang terakhir, sebagaimana dilaporkan Al Jazeera.

Namun meningkatnya operasi militer Israel di Lebanon membuat Teheran memutuskan menghentikan sementara jalur komunikasi tersebut.

Perkembangan terbaru menunjukkan dinamika yang tidak biasa dalam hubungan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Jika sebelumnya Trump dikenal sangat dekat dengan Netanyahu, kini kepentingan diplomasi Washington dengan Teheran tampaknya mulai menjadi prioritas yang lebih mendesak.

Keinginan Trump untuk bertemu Mojtaba Khamenei dapat dibaca sebagai upaya membuka kanal komunikasi langsung guna mencegah konflik regional yang lebih besar.

Di sisi lain, kritik keras kepada Netanyahu menunjukkan bahwa dukungan politik Amerika terhadap Israel tidak selalu berjalan tanpa batas ketika kepentingan strategis AS terancam.

Apabila Iran tetap mempertahankan penghentian komunikasi dan Israel terus melanjutkan operasi militernya di Lebanon, peluang tercapainya kesepakatan baru antara Washington dan Teheran berpotensi semakin sulit dalam beberapa pekan mendatang.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.