Laporan Hasan Basri M Nur dari Mekkah
Usai menjalani puncak ibadah haji di Armuzna, mayoritas jamaah haji, termasuk asal Aceh, mengalami batuk, flu, dan pilek akibat padatnya aktivitas serta cuaca ekstrem di Tanah Suci. Bahkan muncul anekdot di kalangan jamaah, “Kalau tak batuk, namanya onta.” Meski demikian, kondisi jamaah secara umum dilaporkan tetap baik dan berangsur pulih. Berikut laporan Kontributor Serambi Indonesia di Mekkah, Hasan Basri M Nur:
SELURUH jamaah haji telah menyelesaikan pelaksanaan rukun dan wajib haji, terutama di Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armuzna). Mereka juga telah menunaikan Thawaf Ifadhah, Sa’i dan Tahallul Tsani di Mekkah. Saat ini para jamaah menggunakan waktu untuk ibadah rutin, shalat jamaah, iktikaf, membaca Alquran, dan sebagian mengambil umrah sunat.
Jamaah haji Aceh lebih banyak beraktivitas di hotel yang terletak di kawasan Jarwal, sekitar 2,5 kilometer dari Masjidil Haram. Mereka umumnya shalat berjamaah di masjid hotel, masjid di perkampungan Jarwal, dan sebagian naik bus ‘Selawat’ rute Jarwal-Masjidil Haram yang disediakan secara gratis oleh penyelenggara dari Kementerian Haji (Kemenhaj) RI.
Usai ibadah di Armuzna, kondisi jamaah Aceh dan jamaah dari belahan dunia lain umumnya terserang sakit ringan seperti batuk, flu, pilek, atau deman. Nyaris tidak ada jamaah Asia Tenggara yang terbebas dari serangan penyakit dadakan ini.
Ketika shalat jamaah di masjid, suara batuk terdengar sahut-sahutan di kalangan jamaah. Demikian juga ketika jamaah berkumpul di lobi hotel, suara “khak khuk” juga terdengar nyaris tanpa putus, sehingga muncul anekdot di kalangan jamaah Indonesia: Kalau tidak batuk, kamu adalah ‘onta’. Artinya, hanya unta yang mampu bertahan prima dalam cuaca ekstrem dan berjalan kaki di bawah terik matahari selama berhari-hari.
Serambi mencoba melacak sumber anekdot itu. Ternyata ungkapan itu berawal dari celetukan seorang petugas hotel asal Arab. Setiap tahun, fenomena yang sama terjadi dan terus berulang, terutama setelah jamaah haji pulang dari Armuzna yang merupakan puncak ibadah haji. Di Armuzna jamaah menghabiskan selama masa 5 hari 5 malam.
Hampir pada setiap sesi ibadah di Armuzna, terutama perjalanan ke Jamarat untuk melontar jumrah menguras banyak energi. Lontar jumrah ini dilakukan selama 4 hari berturut-turut. Mereka berjalan kaki ke Jamarat sejauh 7 kilometer, pulang pergi di bawah suhu matahari 42-45 derajat Celcius. Puncak kebutuhan energi adalah saat jamaah berada (mabit) di Mina.
Inspektur Wilayah III Kemenhaj RI, Mulyadi Nurdin Lc MH, pada Sabtu (6/6/2026), melaporkan bahwa kondisi jemaah haji Aceh dan Indonesia umumnya dalam keadaan baik dan sehat. “Serangan batuk, flu, pilek, demam perlahan mulai berkurang, seiring tercukupinya durasi istirahat jamaah dan menurunnya suhu di Mekkah,” ujar Mulyadi yang rutin memantau kondisi jamaah haji Indonesia.(*)