Martin Baturina kini menjadi salah satu talenta muda paling diburu di Eropa setelah tampil luar biasa bersama Como asuhan Cesc Fabregas di Italia. Performa gemilang gelandang asal Kroasia tersebut membuatnya menjadi incaran utama, dengan klub-klub besar dari Premier League dan Bundesliga siap menguji keteguhan tim kejutan Serie A itu.
Raksasa Premier League Mulai Memburu Baturina
Nilai pasar Baturina melonjak drastis setelah ia membuktikan diri sebagai salah satu pemain paling kreatif di Serie A. Kemampuannya dalam hal teknik dan visi permainan menjadikannya target utama bagi sejumlah klub papan atas Eropa yang siap melancarkan langkah agresif di bursa transfer musim panas untuk mendapatkan pemain berusia 23 tahun tersebut.
Menurut laporan dari Gianluca Dimarzio, dua klub Premier League yang tidak disebutkan namanya kini memimpin dalam perburuan, dengan keduanya siap mengajukan tawaran awal di kisaran €50 juta hingga €55 juta. Namun mereka bukan satu-satunya pihak yang memantau situasi, karena Bayern Munchen juga dikabarkan telah menjalin kontak sebelumnya untuk memantau perkembangan sang pemain dalam upaya menyegarkan lini tengah mereka dengan talenta muda berkelas.
Como Pasang Harga Tinggi untuk Menghalau Peminat
Meskipun angka-angka besar tengah dibicarakan di Inggris, Como tidak menunjukkan keinginan untuk melepas aset berharganya. Pihak manajemen klub mengambil sikap tegas dengan menegaskan bahwa Baturina merupakan bagian sentral dari rencana mereka dalam menyongsong kampanye kontinental yang bersejarah. Klub Italia tersebut bahkan memasang harga sekitar €80 juta untuk sang gelandang kreatif guna menakut-nakuti para peminat potensial.
Keengganan Como untuk menjual tidak lepas dari peran taktis penting Baturina bagi tim utama. Ia dianggap sebagai elemen tak tergantikan dalam skuat inti Cesc Fabregas, dan manajemen yakin kehadirannya sangat krusial untuk menjaga momentum pertumbuhan klub. Kecuali ada tawaran luar biasa yang memenuhi valuasi mereka, pemain asal Kroasia itu diperkirakan akan tetap bertahan di Stadio Giuseppe Sinigaglia.
Fabregas Fokus pada Tantangan di Eropa
Mengelola masa depan pemain bintang seperti Baturina hanyalah satu bagian dari tugas besar Fabregas. Setelah membawa Como lolos ke Liga Champions untuk pertama kalinya dalam sejarah klub, pelatih asal Spanyol berusia 39 tahun itu kini fokus mencari cara untuk memperkecil jarak antara timnya dengan para elite Eropa. Ia secara terbuka menekankan pentingnya peningkatan berkelanjutan setelah perjalanan menanjak Como dari divisi bawah. Sejak diakuisisi oleh Grup Djarum setelah promosi ke Serie C pada 2019, klub tersebut telah mencatat dua promosi tambahan hingga mencapai Serie A, dan Fabregas sukses membawa mereka finis di posisi keempat hanya dalam musim keduanya.
“Ya, malam setelah pertandingan melawan Cremonese, kami merayakan bersama seluruh tim dan staf. Namun pada Senin pagi kami sudah kembali bekerja, karena memang itu hal yang seharusnya dilakukan. Sekarang semua akan berlibur, tapi bagi saya masih ada hal penting yang harus diatur. Kami perlu meningkatkan level, organisasi, dan banyak hal lainnya. Semua itu harus dilakukan segera,” ujar Fabregas setelah memastikan finis di empat besar.
Visi untuk Musim Depan
Keputusan Como mempertahankan harga €80 juta selaras dengan strategi jangka panjang yang telah disampaikan staf pelatih. Fabregas telah menegaskan niatnya untuk tetap bertahan di Como dan melanjutkan proyek yang telah ia bangun sejak 2024. Membangun sebuah “mahakarya” membutuhkan komitmen untuk mempertahankan para pemain terbaik, dan manajemen klub sepenuhnya mendukung keinginan sang pelatih untuk menjaga kekuatan skuat menghadapi tantangan fisik dan taktis di masa mendatang.
“Kami telah mengadakan pertemuan panjang dengan presiden dan direktur mengenai masa depan saya,” ungkap mantan maestro Arsenal dan Chelsea itu. “Kami telah memperkuat visi; fokus kami sudah diarahkan pada musim berikutnya. Saya sangat bahagia di sini; seperti yang Anda tahu, saya masih memiliki beberapa langkah untuk ditempuh, dan saya belajar banyak. Kami sedang membangun mentalitas.” Mentalitas tersebut tampaknya mencerminkan tekad untuk bertahan dari godaan finansial Premier League demi memastikan laju positif klub terus berlanjut.