Riset UIN Mataram Bongkar Pemicu LGBT: Dari Faktor Genetik hingga Trauma Pelecehan di Ponpes
Laelatunniam June 07, 2026 04:20 PM

TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM – Penelitian mendalam mengenai fenomena Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) di Kota Mataram yang dilakukan oleh akademisi UIN Mataram, Dr. Rosalina Utamy, mengungkap fakta yang mengejutkan.

Dalam tayangan Podcast TribunLombok, Dr. Rosalina membeberkan bahwa orientasi seksual menyimpang tersebut dipicu oleh kombinasi faktor intrinsik (internal) dan ekstrinsik (eksternal).

Berdasarkan data riset pembanding dari Amerika Serikat yang dikutipnya, faktor penentu orientasi ini terdiri dari genetik (32 persen), faktor keluarga (25 persen), dan pengaruh lingkungan sekitar (43 persen).

Secara intrinsik, sejumlah informan mengaku mulai merasakan perbedaan orientasi seksual sejak masa transisi dari anak-anak menuju remaja.

Mereka merasa ketertarikan pada sesama jenis tumbuh secara alami yang mereka anggap sebagai kodrat.

Namun di luar itu, tingkat pengetahuan yang rendah akibat tabunya pendidikan seksual dini sejak bangku Sekolah Dasar (SD) turut memperparah kerentanan tersebut.

"Pendidikan seksual dini sering dianggap tabu karena berkaitan dengan kesehatan reproduksi. Padahal ini sangat penting diajarkan sejak dalam keluarga agar anak tahu mana organ reproduksi mereka, serta apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan," jelas Dr. Rosalina.

Sementara dari faktor ekstrinsik, Dr. Rosalina menyoroti rapuhnya relasi keluarga akibat tingginya angka perceraian (kawin-cerai) di masyarakat.

Kondisi psikologis anak yang kehilangan rasa aman dan kasih sayang di rumah membuat mereka mencari kebahagiaan di luar dan terjebak dalam komunitas yang salah.

Lebih mencengangkan lagi, hasil wawancara dengan beberapa informan mengungkap adanya disorientasi seksual yang dipicu oleh trauma masa lalu, yakni menjadi korban pelecehan seksual saat masih menempuh pendidikan di pondok pesantren (ponpes).

Dr. Rosalina menjelaskan, kondisi fasilitas asrama ponpes yang tidak memadai sering kali menjadi celah terjadinya penyimpangan tersebut. Ruangan kamar yang panas, tidak ber-AC, serta posisi tidur para santri yang berdempetan tanpa menggunakan baju di malam hari menjadi pemicu yang tak terduga.

"Dari hal sederhana itu memicu terjadinya penyimpangan seksual. Karena fasilitas kurang memadai, ada kesempatan mereka tidur dempet-dempetan dalam situasi panas di malam hari tanpa baju. Itulah yang memicu suasana penyimpangan tersebut," urainya.

Merespons temuan ini, Dr. Rosalina memberikan rekomendasi keras kepada para pengurus pondok pesantren dan otoritas pendidikan keagamaan. Ia menegaskan bahwa pemberian ilmu agama harus diimbangi dengan penyediaan fasilitas asrama yang memenuhi standar kesehatan dan keamanan.

"Fasilitas yang diberikan harus sesuai standar. Kalau bisa, satu bed (tempat tidur) itu cukup untuk satu orang saja, tidak boleh tidur berdua. Ini langkah krusial untuk meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan,"tegasnya.

Baca juga: Bongkar Fenomena LGBT di Mataram, Dr Rosalina Lakukan Observasi Mendalam Selama Dua Tahun

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.