Lemhannas RI Luluskan 84 Peserta Pendidikan Kepemimpinan, Imanuel Cahyadi Jadi yang Termuda
Eko Sutriyanto June 07, 2026 07:36 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) resmi menutup Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) Angkatan XXVII dan menetapkan sebanyak 84 peserta lulus setelah menyelesaikan seluruh rangkaian pendidikan.

Para peserta berasal dari berbagai unsur, mulai dari TNI, Polri, kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, BUMN, akademisi, hingga organisasi kemasyarakatan.

Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional merupakan program strategis Lemhannas RI yang dirancang untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan nasional dalam menghadapi berbagai tantangan bangsa.

Selama pendidikan berlangsung, peserta dibekali pemahaman mendalam mengenai geopolitik, geostrategi, ketahanan nasional, kepemimpinan strategis, serta berbagai isu aktual di tingkat nasional maupun global.

Selain menerima materi dari para pakar dan pemangku kepentingan strategis, para peserta juga diwajibkan menyelesaikan berbagai penugasan akademik, seperti kajian kebijakan, policy brief, diskusi strategis, hingga penyusunan Kertas Kerja Perorangan (KKP) yang mengangkat isu-isu penting pembangunan nasional.

Pada acara penutupan yang berlangsung di Jakarta, Kamis (4/6/2026), Gubernur Lemhannas RI, TB Ace Hasan Syadzily, menegaskan bahwa para alumni P3N Angkatan XXVII harus mampu menjadi pemimpin yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas dan karakter kebangsaan yang kuat.

Baca juga: Lemhannas Yakin Ekonomi RI Tetap Tumbuh di Tengah Ketidakpastian Global

“Para alumni P3N 27 harus menjadi pemimpin nasional yang memiliki integritas, karakter kebangsaan, dan keteguhan moral dalam menjalankan tugas dan pengabdian,” ujar Ace kepada wartawan, Minggu (7/6/2026).

Ia menambahkan, dinamika global yang semakin kompleks menuntut hadirnya pemimpin yang mampu berpikir strategis, adaptif, serta memiliki kemampuan membaca perubahan zaman.

Perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, transformasi ekonomi digital, hingga meningkatnya ketegangan geopolitik global, menurutnya, menjadi tantangan yang membutuhkan kepemimpinan visioner.

“Seluruh dinamika tersebut menuntut pemimpin nasional yang memiliki kapasitas strategis, berpikir jauh ke depan, mampu membaca perubahan global, dan tetap menjaga kepentingan nasional,” jelasnya.

Ace juga menekankan pentingnya peran para alumni sebagai perekat persatuan bangsa dan penguat kohesi sosial. Ia mendorong terciptanya kolaborasi lintas sektor serta pengurangan ego kelembagaan demi kepentingan nasional.

“Jejaring strategis antarlembaga, antarsektor, dan antargenerasi sangat penting dalam memperkuat kolaborasi nasional guna mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045,” tegasnya.

Lebih lanjut, Ace memberikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah menyelesaikan pendidikan dengan disiplin, dedikasi, dan semangat belajar tinggi. 

Menurutnya, proses pendidikan yang padat tersebut menjadi bekal penting dalam mencetak pemimpin yang tangguh dan berintegritas.

Kelulusan 84 peserta P3N Angkatan XXVII ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan Lemhannas RI dalam menyiapkan kader pemimpin nasional yang memiliki wawasan kebangsaan, kemampuan strategis, serta kesiapan menghadapi tantangan masa depan menuju Indonesia Emas 2045.

Di tengah dominasi peserta dari berbagai institusi strategis, kehadiran Imanuel Cahyadi menjadi sorotan tersendiri. Ia menjadi peserta termuda dalam angkatan ini pada usia 36 tahun.

Imanuel dikenal sebagai Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) periode 2019–2025 serta Ketua Bidang Pengurus Nasional Karang Taruna (PNKT) periode 2025–2030.

Selain aktif di organisasi kepemudaan, ia juga menjalankan peran profesional di salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Keterlibatannya di dunia profesional, organisasi, dan aktivitas kebangsaan menunjukkan kapasitasnya sebagai figur muda yang mampu menjembatani berbagai sektor dalam pembangunan nasional.

Keberhasilan Imanuel menyelesaikan pendidikan di Lemhannas RI menjadi bukti bahwa generasi muda dari latar belakang aktivisme juga mampu bersaing di ruang-ruang strategis kepemimpinan nasional.

Melalui Kertas Kerja Perorangan (KKP) berjudul “Penguatan Kompetensi Vokasi Berbasis Industri Strategis Guna Pemanfaatan Bonus Demografi”, Imanuel menawarkan gagasan penguatan keterhubungan antara pendidikan, pelatihan vokasi, dan industri sebagai strategi menghadapi persaingan global sekaligus mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.