Pakar Transformasi Soroti Operasi Patuh Lodaya 2026 Lewat ETLE, Singgung Kedisiplinan Masyarakat
Mutiara Suci Erlanti June 07, 2026 10:32 PM

 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama


TRIBUNCIREBON.COM, BANDUNG - Pakar Transformasi dari Institut Teknologi Bandung, Sony Sulaksono menanggapi terkait rencana kepolisian lalu lintas yang akan mulai melaksanakan Operasi Patuh Lodaya 2026 dari 8 Juni sampai 21 Juni 2026.

Pelaksanaan operasi ini akan menerapkan sistem electronic traffic law enforcement (ETLE) baik statis maupun mobile.


Menurut Sony, saat ini semangat kepolisian dalam hal lalu lintas jika memungkinkan proses tilang itu tak ada interaksi antara polisi dengan pelanggar.

Sebab, jika ada interaksi dikhawatirkan ada terjadi pungutan liar atau pemerasan dan sebagainya.

Baca juga: AWAS! Operasi Patuh Lodaya 2026 Dimulai Besok, Ini 11 Pelanggaran ETLE yang Jadi Target


"Sekarang semangat polisi memang semangatnya menggunakan ETLE yang dipasang di berbagai titik dan ada yang sifatnya mobile. Sifat mobile pun ada dua, yakni berupa pemotretan biasa oleh polisi dan alat yang dipasang di kendaraan polisi, semisal di motor atau mobil jika ada kendaraan yang melanggar bisa dipotret melalui alat ETLE ini," ujarnya saat dihubungi, Minggu (7/6/2026)


Dikatakan efektif atau tidak efektif, Sony menekankan sebenarnya masalahnya kedisiplinan di Indonesia dibangun dari rasa ketakutan.


"Kalau ada polisi, dia akan tertib. Kalau enggak ada polisi ya tidak tertib. Lalu, ketika diberi tahu ada ETLE di beberapa titik, pasti orang-orang akan tertib di titik-titik yang dikatakan terpasang. Intinya, jika efektif atau tidak ya selama kedisiplinan hanya dibangun oleh rasa takut, ya terpaksa ETLE akan diperbanyak, operasi diperbanyak," katanya.


Dia menyebut, sebenarnya ETLE pasif itu tak semua terpasang di Bandung. Faktanya, polisi pun pernah bercerita bahwa ada beberapa kamera yang sebanyak itu yang tak ada isinya.


"Kenapa dipasang seperti itu, ya untuk membangun rasa takut, seperti halnya, kita lihat juga banyak kan patung polisi, banyak mobil polisi yang berhenti dan menyalakan lampunya, atau motor polisi yang diberikan helm. Serta segala macam agar orang takut sehingga bisa disipin dan patuh di jalan. Ya itulah masyarakat kita disiplinnya karena takut. Jadi, tidak didasari kesadaran sendiri," katanya.


Namun, Sony mengatakan memang perlu untuk memperbanyak ETLE di sejumlah titik di jalan raya sesuai kebutuhan.

Hal tersebut diperkuat, jika ingin membangun rasa takut, maka perbanyak ETLE yang membuat masyarakat takut diawasi.


"Kan ada kesan polisi memeras atau lakukan pungli, sehingga dengan diterapkannya ETLE ini bisa juga sebagai langkah polisi untuk memperbaiki citranya di jalan. Adanya ETLE maka tak ada interaksi antara pelanggar dengan polisi, dan uang pelanggarannya langsung ditransfer melalui bank atau tak dibayar secara tunai," katanya.(*)
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.