Harga Kebutuhan Pokok di Kota Malang Mengalami Fluktuatif, Pedagang dan Warga Rasakan Dampaknya
Eko Darmoko June 08, 2026 05:35 PM

SURYAMALANG.COM, KOTA MALANG – Sejumlah harga kebutuhan pokok di Kota Malang dilaporkan mengalami fluktuasi harga.

Sebagian komoditas mengalami kenaikan, sementara lainnya justru turun.

Kondisi ini dirasakan langsung oleh pedagang dan ibu rumah tangga di wilayah Kecamatan Klojen, Kota Malang.

Wijitiamah, seorang pedagang di Klojen, mengatakan sejumlah bahan kebutuhan dagangannya masih bergerak naik-turun.

Ia mencontohkan harga sayur yang justru mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir.

“Sayur sekarang turun, biasanya Rp 5 ribu cuma dapat dua ikat, sekarang bisa sampai lima ikat,” ujarnya kepada SURYAMALANG.COM, Senin (8/6/2026).

Selain sayuran, harga ayam potong juga disebut mengalami penurunan.

Saat ini, harga ayam berada di kisaran Rp 26 ribu per kilogram, turun dari sebelumnya yang berada di atas Rp 28 ribu.

Namun demikian, tidak semua komoditas mengalami penurunan. Wijitiamah mengaku harga minyak goreng masih relatif tinggi.

Ia bahkan memilih menggunakan merek tertentu karena mempertimbangkan kualitas.

Baca juga: Diskopindag Kota Malang Siaga, Pasar Murah Disiapkan Jika Harga Pangan Melonjak

“Minyak goreng saya tidak pakai Minyakita. Harganya sekitar Rp 21.500, sama dengan Bimoli. Saya pilih Bimoli, karena Minyakita hasilnya kurang,” katanya.

Menurutnya, fluktuasi harga ini tidak terlepas dari kondisi ekonomi yang sedang bergejolak, termasuk penguatan nilai dolar terhadap rupiah.

Meski begitu, ia mengaku belum sepenuhnya memahami penyebab pastinya.

Wijitiamah menambahkan, meskipun harga masih relatif terjangkau, omzet usahanya sudah mulai terdampak. Ia mencatat penurunan penjualan sekitar 10 persen.

“Omzet sudah mulai turun sekitar 10 persen,” katanya.

Sementara itu, seorang ibu rumah tangga bernama Kusumawardhani juga mengeluhkan kenaikan harga sejumlah bahan pokok, terutama beras dan minyak goreng.

Ia menyebut harga beras premium kini mendekati Rp 15 ribu per kilogram, sedangkan beras medium berada di kisaran Rp 13 ribu per kilogram.

“Biasanya saya pakai yang medium, tapi sekarang sulit didapat, jadi kadang terpaksa pakai premium,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuatnya harus lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran rumah tangga.

Bahkan, ia mulai mempertimbangkan konsumsi pangan alternatif seperti umbi-umbian dan jagung.

“Kalau tidak makan nasi rasanya belum makan, tapi sebenarnya umbi-umbian seperti singkong atau jagung juga enak dan bisa lebih hemat,” katanya.

Kusumawardhani berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga bahan pokok agar tidak terus berfluktuasi, mengingat pendapatan masyarakat tidak mengalami kenaikan secepat harga kebutuhan.

"Sekarang harga cepat naik turun, sementara penghasilan tetap. Ini cukup menyulitkan saya sebagai ibu rumah tangga," ujarnya.

Baca juga: Sekadar Bawang Putih Saja Masih Impor, Harganya Naik Tinggi di Kota Blitar Imbas Melemahnya Rupiah

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.