Piala Dunia 2026 Jadi Sumber Motivasi Anak-Anak SSB Porma FC Kota Malang
Eko Darmoko June 08, 2026 05:35 PM

SURYAMALANG.COM, KOTA MALANG - Gelaran Piala Dunia 2026 yang akan segera bergulir tak hanya menjadi tontonan bagi pecinta sepak bola dunia, tetapi juga anak-anak dari Sekolah Sepak Bola (SSB) Porma FC Kota Malang.

Ajang empat tahunan itu dinilai memiliki pengaruh besar terhadap pembinaan sepak bola usia dini, termasuk bagi anak-anak yang menimba ilmu di SSB.

Pelatih SSB Porma FC, Jaya Teguh Angga (JTA), menilai Piala Dunia merupakan panggung yang dapat membuka wawasan pemain muda Indonesia mengenai standar sepak bola dunia yang sesungguhnya.

Mantan pemain Arema, Persema Malang, dan Pusamania Borneo FC itu mengatakan, anak-anak SSB bisa menjadikan Piala Dunia sebagai sumber motivasi untuk meningkatkan kualitas permainan mereka.

"Piala Dunia ini agenda sepak bola terbesar di dunia."

"Tim-tim terbaik dari negara terbaik bermain di sana."

"Otomatis dampaknya juga sampai ke level SSB karena anak-anak bisa belajar sejauh mana kualitas sepak bola dunia dan seberapa jauh kita masih tertinggal," katanya kepada SURYAMALANG.COM, Jumat (5/6/2026).

Sebagai mantan pemain profesional, JTA menilai anak-anak di SSB dapat melihat kemampuan para pemain saat bertanding di turnamen akbar seperti Piala Dunia.

Baca juga: Teka-teki Kapan Lionel Messi Pensiun Selepas Piala Dunia 2026, Sang Pelatih Beri Pernyataan Bijak

Seperti beberapa pemain yang berusia 18 hingga 19 tahun di negara-negara besar yang sudah mampu tampil di level tertinggi, termasuk Piala Dunia.

Hal itu dapat menjadi motivasi bagi para pesepakbola muda khususnya di Indonesia.

"Kalau melihat pemain-pemain dunia, umur 18-19 tahun sudah bermain di level tinggi."

"Sedangkan di Indonesia, usia itu masih banyak yang belum tahu arah pengembangannya."

"Ini harus menjadi motivasi bagi anak-anak SSB untuk terus meningkatkan kualitasnya," ujarnya.

Meski demikian, JTA menilai target menuju Piala Dunia masih terlalu jauh bagi sepak bola Indonesia saat ini.

Karena itu, pemain muda perlu menetapkan sasaran yang lebih realistis terlebih dahulu.

Minimal bertanding di kompetisi liga Indonesia dan memiliki target serta impian yang besar untuk menjadi seorang pemain profesional.

"Minimal mereka punya target bermain di Liga 3, Liga 2, sampai Liga 1 dulu. Piala Dunia masih jauh, tetapi mimpi itu harus tetap ada," kata JTA yang dulunya berposisi sebagai striker itu.

Bagi JTA, pelajaran terpenting yang bisa dipetik dari Piala Dunia bukan hanya soal strategi atau hasil pertandingan, melainkan penguasaan dasar-dasar sepak bola.

Ia menilai banyak pemain muda Indonesia masih memiliki kekurangan dalam aspek fundamental permainan.

"Kalau melihat pemain-pemain di Piala Dunia jangan hanya melihat aksinya."

"Lihat juga basic mereka. Di Indonesia, skill dasar masih banyak yang salah."

"Padahal kalau basic sudah bagus, perkembangan pemain ke depannya akan jauh lebih mudah," ungkapnya.

Dalam proses pembinaan usia dini, JTA mengakui tantangan yang dihadapi pelatih saat ini semakin kompleks.

Salah satu yang paling menonjol adalah pengaruh perkembangan teknologi dan penggunaan gadget pada anak-anak.

Menurutnya, kemampuan mengendalikan penggunaan gawai menjadi faktor penting agar anak-anak tetap fokus berlatih dan berkembang di lapangan.

"Sekarang tantangan terbesar ya gadget. Anak-anak harus bisa mengendalikan penggunaan gadget supaya tidak mengganggu proses latihan dan perkembangan mereka," katanya.

Selain itu, ia menilai kompetisi menjadi kebutuhan utama dalam pembinaan pemain muda.

Latihan yang dilakukan secara rutin akan sulit diukur hasilnya tanpa adanya pertandingan yang kompetitif.

"Pembinaan SSB itu nomor satu memang harus ada kompetisi."

"Dari kompetisi kita bisa melihat progres pemain, mengevaluasi kekurangan mereka, lalu memperbaikinya di latihan berikutnya. Kalau tidak ada kompetisi, perkembangan anak-anak juga sulit diukur," ungkapnya.

Di sisi lain, SSB Porma FC merupakan kepanjangan dari Persatuan Olahraga Madyopuro.

Sekolah sepak bola ini rutin menjalani latihan di Lapangan Madyopuro yang lokasinya berada di belakang SMKN 6 Kota Malang dan Pasar Madyopuro.

SSB Porma FC yang lahir pada tahun 2006 itu kini menjadi salah satu klub yang diperhitungkan dalam dunia sepak bola usia muda di Malang.

Kapten tim Porma FC U15 Aryasuta Java Firmansyah mengaku tak sabar untuk melihat langsung pertandingan Piala Dunia 2026.

Ia menjagokan Portugal sebagai tim favorit di ajang bergengsi empat tahunan ini.

Portugal dipilih karena memiliki pemain hebat di lini tengah, seperti Vitinha, Bruno Fernandes, Joao Neves hingga Bernanrdo Silva.

"Saya jago Portugal. Karena lini tengahnya solid. Banyak pemain hebat di sana."

"Saya ingin seperti mereka. Karena posisi yang juga sebagai gelandang," tandasnya.

Baca juga: Pelatih Arema FC Marcos Santos Jagokan Brasil di Piala Dunia 2026

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.