Sutil Kayu Halal Asal PIK Tembus Australia, Asa Homliv Terbang Tinggi Lewat Rumah BUMN BRI
Seno Tri Sulistiyono June 08, 2026 11:38 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Aroma khas kayu jati yang segar langsung menyergap indra penciuman saat melangkah masuk ke dalam sebuah ruko di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) 1, Kamal Muara, Jakarta Utara.

Di lantai 1 ruko itu, riuh suara mesin laser grafir kayu beradu dengan jemari terampil yang tengah sibuk menghaluskan permukaan sutil kayu.

Sejumlah pekerja pria tampak sibuk mengemas sutil dan alat-alat dapur dari kayu.

Baca juga: Siasat Pempek Vero Naik Kelas: Racikan Cuko Lubuk Linggau dan Sentuhan Manajemen Modern BRI

Sementara pekerja lain terlihat tengah berjualan live streaming di platform marketplace.

Naik ke lantai 2, di sana beberapa pekerja sibuk di depan laptop.

Sejumlah alat-alat dapur dari kayu yang siap dikirim ke supermarket tampak memenuhi ruangan di lantai 1 dan lantai 2 itu.

Di ruko 3 lantai itu pula Yudiana, seorang perempuan gigih berusia 35 tahun di balik jenama Homliv, merajut mimpi-mimpinya di atas guratan urat kayu.

Siapa sangka, peralatan dapur kayu (wooden kitchenware) premium yang kini menghiasi dapur-dapur modern di Jepang hingga Australia ini lahir dari rahim krisis hebat.

Homliv didirikan pada akhir tahun 2020, tepat di saat dunia sedang gagap menghadapi hantaman pandemi Covid-19.

Sebelum mengibarkan bendera Homliv, Yudiana menggantungkan hidupnya sebagai importir barang-barang unik dan pernak-pernik rumah tangga dari China untuk dijual kembali secara daring.

Namun, ketika China menerapkan kebijakan lockdown total, jalur pasokan barangnya putus seketika.

Di sisi lain, pembatasan aktivitas luar rumah justru memicu tren baru di tengah masyarakat: memasak dan membuat kue di rumah (baking) melonjak tajam.

"Waktu itu salah satu produk impor saya yang paling laku adalah rolling pin (gilingan adonan) dari kayu. Begitu stok habis, saya bingung harus mencari pasokan ke mana karena sama sekali tidak bisa impor," kenang Yudiana sembari mengingat masa-masa awal merintis usaha.

Terbentur modal impor yang macet, Yudiana memutar otak.

Ia teringat pada seorang pengrajin batik kayu di Desa Krebet, Yogyakarta, yang pernah bekerja sama dengannya beberapa tahun lalu.

Saat pandemi, nasib para pengrajin di sana sangat memprihatinkan; pendapatan mereka merosot hingga nol persen karena seluruh sektor pariwisata dan resort ditutup total.

Aneka sutil kayu produksi Homliv.
Aneka sutil kayu produksi Homliv. Saat ini produk Homliv telah didistribusikan secara omnichannel melalui platform daring serta jaringan ritel modern raksasa di Indonesia.

Yudiana kemudian menghubungi mereka dan menyodorkan sebuah tantangan baru.

"Saya bawa contoh rolling pin, saya tanya mereka mau tidak mencoba membuat ini. Kelihatannya memang sederhana karena hanya hasil bubutan, tapi ternyata itu hal baru dan sulit bagi mereka yang terbiasa memahat dan membatik kayu," ungkap Yudiana.

Namun, Yudiana meyakinkan mereka bahwa produk fungsional seperti alat masak memiliki potensi pasar yang jauh lebih berkelanjutan (sustain) untuk pasar lokal dibandingkan barang pajangan atau kerajinan tangan murni.

Dari situlah, kolaborasi perdana Homliv dan pengrajin lokal dimulai.

Inovasi Halal dan Uji Lab

Berawal dari satu produk gilingan adonan, Yudiana mulai mengamati pasar alat masak di Indonesia.

Ia menangkap sebuah keresahan sekaligus peluang besar.

Sejak zaman nenek moyang, masyarakat Indonesia gemar menggunakan alat masak kayu karena dianggap paling alami.

Namun, di pasar tradisional, produk yang tersedia sering kali kasar, tanpa merek, dan diragukan kebersihannya.

"Bahkan saya sendiri kalau diminta beli di pasar tradisional tidak berani pakai. Kasar sekali dan terlihat mentah. Dari situ saya melihat kesempatan mumpung belum ada pesaing yang benar-benar melakukan branding serius pada alat masak kayu," jelasnya.

Homliv pun merambah ke produk sutil dan spatula kayu. 

Untuk membedakan diri dengan produk tanpa merek di pasar, Yudiana melakukan gebrakan yang tidak biasa: mendaftarkan produk kayunya untuk sertifikasi halal ke LPPOM MUI.

Proses audit yang dilakukan via Zoom di tengah masa pandemi akhirnya membuahkan hasil.

Homliv sukses menyabet rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai Pelopor Alat Masak Kayu Halal Pertama di Indonesia.

Tak berhenti di situ, demi meningkatkan standar keamanan, Homliv membawa produknya ke laboratorium untuk uji klinis.

Hasil uji lab membuktikan bahwa bahan baku kayu yang mereka gunakan bebas dari kandungan pengawet pentaklorofenol.

"Yang lain cuma bisa mengklaim food grade, tapi kami punya fakta hukum dan laboratorium yang membuktikannya. Itu yang membuat posisi kami kuat di pasar," tegas Yudiana.

Menjaga Nafas Bisnis di Kala 'Kering Kerontang'

Kendati memiliki produk yang inovatif, perjalanan Homliv tidak langsung mulus.

Yudiana mengakui bahwa mengedukasi pasar daring lewat gambar sangatlah sulit.

Konsumen sering kali membandingkan harga sutil Homliv yang saat itu berkisar Rp30.000 dengan sutil pasar seharga Rp5.000 hingga Rp10.000.

Memasuki tahun kedua dan ketiga, Homliv berada di fase paling kritis.

"Kering kerontang, Mas. Enggak ada duit," kenang Yudiana blak-blakan.

"Beban operasional jalan terus, sementara kami belum terlalu perform dan belum banyak dikenal. Kesalahan terbesar saya saat itu adalah terlalu idealis. Saya menolak ekspor kalau tidak pakai nama brand Homliv, padahal orang belum tahu Homliv itu apa."

Dari pengalaman pahit itu, Yudiana belajar bahwa dalam dunia UMKM, arus kas (cash flow) jauh lebih penting daripada idealisme semata.

Homliv akhirnya melonggarkan strategi dengan menerima sistem OEM, maklon untuk perusahaan lain, serta menerima pesanan kustomisasi khusus untuk jaringan restoran dan perhotelan, terutama restoran Jepang yang sangat menggemari estetika kayu.

Strategi ini sukses menyuntikkan dana segar bagi napas operasional perusahaan.

Di tengah perjuangan mempertahankan napas bisnis tersebut, pintu-pintu kesempatan baru terbuka luas.

Yudiana mulai membuka mata terhadap berbagai program dukungan yang disediakan oleh pemerintah maupun sektor perbankan.

Homliv kemudian mendaftar dan lolos kurasi ketat dalam program Pengusaha Muda Brilian, yang menjadi jembatan awal mereka untuk masuk ke dalam ekosistem pembinaan Rumah BUMN BRI Jakarta.

Inkubasi Berjenjang Bersama Rumah BUMN BRI

Rumah BUMN BRI tidak sekadar menjadi tempat berkumpul, melainkan sebuah kawah candradimuka bagi para pelaku usaha untuk naik kelas.

Koordinator Rumah BUMN BRI Jakarta, Jajang Rohmana, mengungkapkan bahwa kunci utama dari akselerasi kelas UMKM ini terletak pada program unggulan bernama BRIncubator.

"Melalui BRIncubator, kami memberikan pelatihan secara kontinyu. Berbeda dengan pelatihan biasa yang bersifat sporadis, ini adalah program inkubasi berkelanjutan selama satu hingga dua bulan yang dirancang dengan kurikulum berjenjang," ujar Jajang.

Sistem seleksinya pun ketat melalui skema open call dan kurasi mendalam untuk memastikan komitmen tinggi dari para peserta.

Di tingkat daerah, pelaku UMKM wajib hadir secara fisik di Rumah BUMN lokal untuk menyerap materi secara optimal, sementara untuk skala nasional difasilitasi secara daring.

"Materinya disusun mulai dari tingkat paling dasar hingga materi tingkat lanjut di mana pelaku UMKM benar-benar siap menghadapi pasar ekspor dan digitalisasi," tambah Jajang.

Melalui program ini, Homliv mendapatkan suntikan ilmu manajemen digitalisasi, perluasan akses pasar, hingga fasilitasi business matching dengan para importir luar negeri.

Dampak dari pendampingan ini dirasakan langsung melalui peningkatan kapasitas pengelolaan usaha.

Dari sisi pemasaran digital, tim Rumah BUMN BRI aktif turun ke lapangan untuk mendokumentasikan proses produksi Homliv, memberikan eksposur berupa pembuatan video profil, dan mempromosikannya di media sosial.

Selain itu, BRI juga mendorong digitalisasi transaksi di internal UMKM.

Homliv kini difasilitasi dengan layanan QRIS BRI untuk mempermudah sistem pembayaran di pusat penjualan mereka, yang terbukti meningkatkan efisiensi pencatatan keuangan harian.

Dari PIK Menembus Pasar Dunia dan Memberdayakan Desa

Berbekal konsistensi dan dorongan ekosistem pembinaan yang tepat, skala bisnis Homliv melesat tajam.

Dari usaha yang awalnya hanya digawangi berdua oleh Yudiana dan suaminya di sebuah ruangan kecil di Golf Island PIK, kini Homliv telah mempekerjakan 12 karyawan tetap di pusat produksi dan finishing PIK 1.

Di hulu, sistem produksi Homliv bertransformasi menjadi sebuah jaringan pemberdayaan yang masif.

Di Desa Krebet, Yogyakarta, Homliv membangun rumah produksi khusus (dedicated partner) dengan berinvestasi pada lahan dan mesin bubut modern.

Di luar Yogyakarta, Homliv kini membina sekitar 10 rumah produksi mitra yang tersebar di Kediri, Singaraja (Bali), Klaten, Situbondo, hingga Malang.

Infografis: Perjalanan Homliv dari inovasi lokal menuju pasar global.
Infografis: Perjalanan Homliv dari inovasi lokal menuju pasar global.

Untuk pengrajin kecil yang baru bergabung sebagai mitra reguler, Homliv menyediakan program fasilitas cicilan 0 persen tanpa bunga dan tanpa agunan untuk membeli alat produksi dasar seperti mesin planner atau membangun ruangan oven pengering kayu.

Bahan baku kayu yang digunakan pun—seperti jati dan mahoni—selalu diserap dari area sekitar rumah produksi guna menekan emisi transportasi yang berlebihan.

Tahun 2024 menjadi tonggak sejarah baru bagi Homliv ketika mereka berhasil menembus pasar ekspor Jepang—sebuah negara yang terkenal memiliki standar kualitas dan higienitas tertinggi di dunia.

Setahun berikutnya, pada tahun 2025, Homliv melakukan lompatan besar dengan mengekspor produknya ke Australia.

Berbeda dengan masa lalu, ekspor ke Negeri Kangguru ini sukses diberangkatkan dengan mengusung merek asli mereka sendiri: Homliv.

"Tahun 2024 kami berhasil mengantongi sertifikasi SNI ISO 14001 tentang manajemen lingkungan. Pasar luar negeri sangat peduli dengan isu lingkungan ini. Alih-alih membangun brand dari awal, pihak mitra di Australia memilih mengimpor langsung dengan merek Homliv untuk dimasukkan ke jaringan modern retail mereka di sana," kata Yudiana bangga.

Keberhasilan menembus pasar internasional ini secara otomatis mengerek kepercayaan konsumen domestik.

Saat ini, produk Homliv telah didistribusikan secara omnichannel melalui platform daring seperti Shopee serta jaringan ritel modern raksasa di Indonesia, mulai dari AEON, Daiso, Diamond, Hero, Azko, toko perabot lokal, hingga pelosok nusantara melalui jaringan MR. DIY.

Kualitas premium ini diakui langsung oleh Elvania, salah seorang konsumen yang sengaja datang berkunjung ke pusat penjualan Homliv di PIK 1.

"Barangnya bagus-bagus, unik, dan surprisingly harganya tidak semahal yang dikira. Keren, produk wooden kitchenware-nya komplit banget. Saya sebelumnya pernah lihat produk Homliv di beberapa supermarket seperti Diamond Artha Gading dan Borma Dago Bandung, makanya senang sekali bisa ketemu dan beli langsung di pusat penjualannya di sini," kata Elvania takjub.

Sebagai bentuk tanggung jawab sosial setelah berjalan hampir lima tahun, Homliv juga aktif menyisihkan keuntungan untuk kegiatan CSR.

Setiap tahun, mereka melakukan pemangkasan pohon secara berkala demi menjaga kelestarian alam.

Bahkan, di Desa Krebet Yogyakarta, Homliv membangun sebuah pusat oleh-oleh terpadu untuk memfasilitasi seluruh masyarakat desa—tidak terbatas pada pengrajin kayu, tetapi juga pedagang camilan, pakaian, dan batik—agar bisa ikut menikmati perputaran ekonomi dari status desa tersebut yang masuk dalam 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI).

Sinergi "Getok Tular" Antar-Pelaku Usaha

Keberhasilan program pembinaan yang digawangi oleh Rumah BUMN BRI ini memicu gelombang solidaritas yang kuat di kalangan pelaku UMKM sendiri.

Manfaat nyata yang dirasakan melahirkan semangat "getok tular" atau saling mengajak dari mulut ke mulut.

Hal inilah yang dilakukan oleh Rika Christina, pemilik Craftote Coffee and Gallery sekaligus sesama rekan binaan di Rumah BUMN BRI. 

Rika menceritakan bagaimana ia dan suaminya, Thio, gencar membujuk pelaku usaha lain di jaringan mereka untuk segera mendaftarkan diri menjadi binaan BRI.

"Bukan saya doang, suami saya juga kalau lagi mengobrol dengan teman-teman UMKM lain, mulut kami rasanya tidak puas kalau mereka belum menjadi binaan BRI. Kami sudah merasakan sendiri bagaimana dukungannya," kata Rika penuh semangat.

2 pekerja di tempat produksi akhir Homliv di PIK 1
2 pekerja di tempat produksi akhir Homliv di PIK 1 sibuk menghaluskan permukaan sutil kayu.

Rika kerap membagikan kontak pembina Rumah BUMN BRI kepada rekan-rekannya yang belum terfasilitasi.

Namun, Rika memberikan catatan kritis bagi para pelaku usaha agar tidak sekadar bersikap pasif setelah terdaftar.

"Kembali lagi kepada komitmen kita sendiri. Berhasil atau tidaknya kita sebagai binaan itu tergantung keaktifan kita. Kalau kita malas, tidak pernah datang, tidak mau ikut pelatihan atau Zoom, ya percuma. Jangan berharap orang akan selalu mengingat kita, karena ada begitu banyak UMKM yang dibina oleh BRI. Kita yang harus aktif menjemput bola dan bertanya," tegas Rika dengan nada mengingatkan.

Kisah perjalanan Homliv dari sebuah ruang kecil di PIK hingga mampu menggetarkan pasar retail Australia adalah manifesto hidup dari kebangkitan UMKM tanah air.

Dengan ketepatan membaca peluang, kedisiplinan mengelola arus kas, serta pemanfaatan ekosistem pembinaan terstruktur seperti BRIncubator dari Rumah BUMN BRI, produk lokal berbahan kayu jati khas Indonesia terbukti mampu naik kelas menjadi komoditas global yang bernilai tinggi dan berdaya saing global.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.