Usaha Katering di Tulungagung Terpengaruh Kenaikan Dolar, Pilih Kurangi Ukuran Porsi Agar Tak Merugi
Rendy Nicko June 08, 2026 11:50 PM

TRIBUNMATARAMAN.COM, TULUNGAGUNG - Kenaikan nilai tukar dolar Amerika ikut mempengaruhi usaha katering di Kabupaten Tulungagung.

Kenaikan dolar turut mengerek harga plastik dan kardus yang dibutuhkan untuk tempat menu dalam kotak katering.

Mereka juga menghadapi kenaikan bahan baku akibat rebutan dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk program Makan Bergizi Gratis.

“Kalau untuk plastik, bukan naik harga. Tapi sudah ganti harga yang baru,” ujar Herlambang Efendi, pemilik Katering Cairo.

Baca juga: DPRD Nganjuk Gelar Rapat Paripurna Penyampaian Raperda Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD 2025

Jika dihitung, lonjakan harga bahan plastik ini bisa 3 kali lipat. Bahan plastik ini biasa dipakai untuk tempat makanan, mulai dari nasi, lauk, dan sayur yang ditempatkan dalam kardus pembungkus.

Selain itu plastik juga diperlukan untuk pembungkus aneka kue yang juga masuk dalam paket pesanan selain menu nasi.

“Tidak hanya plastik, kardusnya juga ikut naik. Sebelumnya kemasan ini 100 harganya Rp 71.000 menjadi Rp 105.000,” ungkapnya.

Sebelumnya komponen plastik tidak menjadi beban biaya produksi. Bahkan kantong plastik keresek sebelumnya tidak dihitung  karena harganya sangat murah.

Namun sekarang kantong plastik masuk komponen yang dihitung, karena harganya hampir Rp 1.000 per buah.

“Kalau jumlahnya banyak, akhirnya jadi beban juga. Misalnya 10 kantong plastik untuk wadah kardus makanan, nilainya hampir Rp 10.000,” papar Pendik, panggilan akrabnya.

Ia mengungkapkan, untuk sekali belanja kebutuhan plastik dan kardus biasanya habis kurang dari Rp 3 juta.

Namun saat ini kebutuhan belanja plastik dan kardus untuk sekali belanja lebih dari Rp 5 juta, dengan jumlah barang yang sama.

Kondisi ini masih ditambah persaingan bahan baku karena bersaing dengan SPPG.

Menurut Pendik, SPPG telah menjalin kontrak sehingga mereka diutamakan untuk mendapatkan bahan baku seperti sayur mayur.

Pasokan yang di pasaran juga berkurang sehingga harganya lebih mahal.

“Misalnya selada, dapat barangnya susah karena sudah diborong sama SPPG. Kalau ada barang, harganya pasti lebih mahal,” katanya.

Baca juga: Mobil Angkutan Barang Masuk Kampung, Pelaksana Proyek Jembatan Gondang 1 Belum Tepati Komitmen

Untuk mengakali kondisi ini, Pendik mengaku terpaksa mengurangi ukuran menu yang disajikan.

Untuk pesanan makanan, ada pengurangan porsi nasi, ukuran lauk maupun pelengkap lainnya.

Demikian juga pesanan kue, ada pengurangan ukuran agar tidak merugi dan masih bisa mendapatkan untung.

“Mengurangi ukuran porsi, tapi kami upayakan sepantas mungkin, tidak terlalu mencolok. Kalau masih pakai ukuran lama, susah dapat keuntungan,” tandasnya. 

(David Yohanes/TribunMataraman.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.